Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Mungkin hanya sebuah kebetulan ~ Cermin bertuah #3


__ADS_3

Keduanya memasuki mansion milik Tazkia dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan antara perasaan senang karena sudah mengembalikan cermin itu di campur juga perasaan bingung dan berbagai pertanyaan tentang di mana keberadaan sebenarnya toko yang di bicarakan oleh Sinta.


"Weh weh dari mana nih kok lusuh amat mukanya?" ucap sebuah suara yang lantas mengejutkan Tazkia dan juga Sinta.


"Kalian?" ucap Sinta ketika melihat Aditya dan juga Prasetia sudah duduk anteng di sofa ruang tamu.


"Kejutan...." teriak Aditya.


"Maksudnya?" tanya Tazkia yang tak mengerti.


"Ya kejutan karena kita berdua juga akan menginap di sini untuk menemani kalian para cewek cewek." ucap Aditya sambil cengengesan.


"Iyuh lebay..."


"Biasa aja kali Sin, butuh perjuangan nih buat bujuk si Pras ikutan." ucap Aditya sambil mengode sebelahnya karena dari tadi Prasetia hanya diam.


"Ya udah kalau begitu lo pakai aja kamar yang biasa." ucap Tazkia kemudian.


"Oke"


Aditya kemudian lantas bangkit dan membawa 2 tas punggung di tangannya hendak pergi ke kamar yang di maksud oleh Tazkia. Aditya berjalan dengan langkah santai karena kebetulan kamar yang biasa ia dan Prasetia tempati berada di lantai bawah dekat dengan ruang kerja dan pintu halaman samping. Langkah Aditya kemudian berhenti ketika melihat sebuah cermin antik terpasang tepat di atas almari penyimpanan kunci cadangan.


"Wih beli cermin baru lo ki? keren nih berasa balik ke jaman dulu aja?" ucap Aditya sambil bergaya di depan cermin itu.


Sementara Sinta dan juga Tazkia yang baru saja mengistirahatkan bokong mereka dengan bersandar di sofa, lantas langsung terlonjak kaget dan saling pandang satu sama lain.


"Ada apa?" tanya Prasetia yang menatap ekspresi keduanya dengan bingung.


"Gak mungkin!" ucap Sinta dan juga Tazkia secara bersamaan membuat Prasetia semakin bingung di buatnya.

__ADS_1


Tazkia dan juga Sinta kemudian bangkit dan bergegas menuju ke tempat yang di maksud oleh Aditya barusan.


"Wah ini gila sih ki, firasat lo tentang cermin ini benar!" ucap Sinta yang juga ikut tidak percaya.


***********


Malam harinya semua sedang berkumpul di ruang keluarga untuk membahas persoalan tadi sore yang membuat Aditya dan juga Prasetia kebingungan tanpa tahu penyebabnya, tentu saja setelah Tazkia membereskan terlebih dahulu cermin itu dan menaruhnya di gudang tadi.


"Jadi ceritain ada apa sebenarnya?" tanya Prasetia kemudian.


"Jadi kemarin ketika gue arah mau ke sini, gue sempet mampir ke sebuah toko antik dan membeli cermin itu, sejauh gue bawa sih gak ada apa apa yang terjadi, hanya saja siang harinya Tazkia bilang ke gue kalau gue harus balikin tuh cermin secepatnya, karena gue parno dengan kejadian yang kita lewati... jadi gue dan Kia memutuskan untuk mengembalikan cermin itu. Dan anehnya kita dari siang udah muter muter dan keliling tetep aja gak nemu toko itu sama sekali, hanya ada pohon beringin besar yang kita temukan di lokasi yang gue yakin banget itu tokonya." ucap Sinta menjelaskan panjang lebar.


"Lo lupa kali Sin" ucap Aditya.


"Gak mungkin gue inget jelas toko itu ada tepat di sebelah jembatan, tapi anehnya gak ada toko di sana."


"Ya kita letakkan di pohon itu, siapa tahu tokonya belum buka." ucap Sinta dengan Santai.


"Dan sekarang cermin itu balik lagi, apa ada ide tentang hal ini lo?" tanya Aditya.


"Entahlah"


"Lalu ki apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Prasetia kemudian.


"Gue sebenarnya juga gak lihat langsung tapi gue ngalamin lewat mimpi, dari awal gue lihat cermin itu udah gak enak banget hanya saja gue gak bisa menjelaskan atau mengalaminya secara langsung, jadi antara yakin dan gak yakin sih." ucap Tazkia.


Semua orang lantas terdiam mereka nampak berpikir dan menarik ke simpulan tentang apa yang Sinta dan juga Tazkia ucapkan barusan.


"Tapi belum ada kejadian yang pasti bukan? bisa aja semua hanya kebetulan atau sejenisnya? lagipula tidak ada gangguan berat juga, mungkin tuh cermin gak mau di balikin jadi dia kembali lagi." ucap Aditya kemudian.

__ADS_1


" Mungkin juga sih." ucap Sinta.


"Apa lo yakin Dit? secara Kia sudah dimimpiin, lo yakin everything gonna be okay?" ucap Prasetia.


"Sure" jawab Aditya dengan lantangnya.


"Yakin?" tanya Prasetia lagi.


"Mungkin" ucapnya kemudian.


"Dasar lo, gak punya pendirian amat jadi orang." ucap Sinta dengan kesal sementara Aditya hanya cengengesan tidak jelas.


"Ya semoga saja ucapan Aditya menjadi doa dan semua akan baik baik saja, bisa juga kan gue kemarin lelah dan mimpi buruk, jadi gak etis juga kalau gue men-judge cermin itu hanya karena sebuah mimpi." ucap Tazkia kemudian yang membuat ketiga temannya mengangguk angguk mengerti sekaligus mengiyakan pendapat Tazkia barusan.


Setelah diskusi yang cukup panjang mereka akhirnya menikmati indahnya malam dengan barbeque.an di halaman samping dan ngobrol ngobrol bersantai ria, hingga tepat tengah malam sepertinya semua mulai kelelahan dan memilih tidur di ruang tengah karena malas untuk berpindah setelah melakukan party kecil kecil.an, dan hal itulah yang menjadikan ruang tengah mendadak di sulap sebagai kamar tidur sementara bagi mereka berempat dengan posisi satu kasur tidur dengan ukuran sedang di isi Sinta dan juga Tazkia, sedangkan satunya lagi diisi Aditya dan juga Prasetia, keempatnya lantas saling menyelami pulau impian masing masing dengan nyenyaknya.


Ketika keempatnya tengah terbang ke alam mimpi, entah bagaimana caranya tiba tiba cermin itu kembali pada posisinya semula, tidak hanya itu cahaya kemilau perlahan terlihat dari cermin tersebut di tengah kegelapan lampu yang sudah di matikan. Samar samar senandung lingsir wengi kembali terdengar mengalun memenuhi seluruh mansion milik Tazkia, suaranya begitu merdu hingga membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi merinding.


Aditya yang saat itu memang hendak bangun karena mendapat panggilan alam yang sangat genting, mengurungkan niatnya dan kembali menutup mata karena mendengar suara senandung itu.


"Haduh mana gue lagi kebelet banget lagi, ogah banget gue kalau harus lihat penampakan lagi udah kenyang, gimana dong? mana udah di ujung." ucap Aditya sambil memejamkan matanya secara paksa dan terus berbaring tanpa berniat untuk bangkit dan menyelesaikan panggilan alamnya.


Hihihihihihihi


Suara itu terdengar jelas beberapa kali di pendengaran Aditya membuatnya enggan untuk bangun dan terus memegang selimut yang menutupi seluruh badannya agar tidak terbuka.


Sosok dalam kaca itu terus bernyanyi dan bernyanyi dengan posisi tubuhnya yang berpindah dari satu kaca cermin ke kaca cermin yang lain, seperti mengelilingi setiap sudut mansion yang memiliki kaca cermin dan berakhir kembali ke kaca cermin antik itu, sosok itu kembali dengan tawa khas yang menggema memenuhi semua ruangan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2