Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Bukan pembawa sial ~Tugas terakhir (Ambulans) #7


__ADS_3

Tazkia dan Aditya melangkahkan kaki mereka menuju ke arah jalan setapak. Suasana kampung itu begitu tenang dan sepi atau memang karena rumor yang beredar tentang teror yang di ucapkan oleh ibu ibu tadi sehingga membuat warga kampung enggan bermain di luar walau sinar mentari masih menyingsing.


Aditya merasa hawa aneh semakin menusuk ketika berjalan semakin dalam, apalagi beberapa warga nampak mengintip langkah mereka dari balik jendela dan kembali masuk seakan acuh pada kedatangan keduanya.


"Bukankah warga sini agak aneh Ki?" bisik Aditya kemudian.


"Sudah jangan di bahas, lebih baik kita segera selesaikan semuanya dengan cepat dan pergi dari sini." ucap Tazkia sambil menggeret Aditya agar mempercepat langkah kakinya.


Setelah cukup lama berjalan mengikuti arah yang di tunjukkan oleh ibu ibu penjaga warung tadi, Tazkia dan juga Aditya sampai di satu rumah bercat warna biru dengan nuansa yang sederhana namun tak terlalu terawat.


Setelah yakin bahwa mereka telah sampai, Tazkia dan Aditya mulai melangkah mendekat dan mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali.


Tok tok tok


"Permisi..." ucap Tazkia sambil terus mengetuk pelan pintu rumah tersebut.


Tok tok tok


"Bu... spada... permisi..." ucap Aditya yang ikut memanggil pemilik rumah karena tidak ada sahutan apapun ataupun tanggapan sedari tadi.


Criet...


Suara gesekan pintu yang di buka dengan pelan mulai terdengar di pendengarannya, membuat seulas senyum terbit di wajah Tazkia dan juga Aditya ketika melihat pintu rumah tersebut mulai terbuka.


"Permisi... apa ini benar rumahnya pak Eko?" tanya Tazkia kemudian ketika melihat seorang wanita kisaran umur 35 sampai 40 tahunan menatap ke arah mereka berdua.


"Ya, ada perlu apa mbak sama mas ke sini?" tanya wanita itu dengan raut wajah penasaran sekaligus bingung.

__ADS_1


"Begini bu, ada yang perlu kami bahas dengan ibu sebentar, apa kami boleh masuk?" tanya Tazkia lagi.


Mendengar pertanyaan tersebut wanita itu nampak mempersilahkan Tazkia dan juga Aditya masuk ke dalam kemudian menyuruh mereka duduk. Namun baru saja keduanya duduk, pintu depan perlahan langsung di tutup oleh wanita itu membuat Tazkia dan juga Aditya saling pandang satu sama lain.


"Pintunya kok di tutup sih Ki? kan gak sopan masih ada tamu..." bisik Aditya yang langsung mendapat sikutan dari Tazkia karena apa yang di bisikkan Aditya barusan terdengar jelas dan bukan lagi berbisik. "Aw sakit Ki..." protes Aditya sambil mengusap perutnya yang terasa sedikit sakit.


"Diam jangan berisik bisa gak sih Dit?" ucap Tazkia sambil menatap tajam ke arah Aditya.


Wanita itu kemudian lantas berjalan dan mengambil duduk di depan Tazkia dan Aditya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Maaf sebelumnya, dengan ibu siapa ya?" tanya Tazkia dengan nada yang masih normal sambil berpikir mencari penjelasan yang sekiranya masih masuk di akal ketika di katakan kepada wanita di hadapannya ini.


"Saya Ratna istri dari pak Eko yang kalian cari." ucapnya dengan nada yang lirih. "Sebenarnya apa yang membawa kalian sampai datang ke sini menemui saya? apa kalian tidak tahu kalau mas Eko telah meninggal?" ucap Ratna kemudian yang memang sangat penasaran dengan maksud kedatangan mereka berdua.


"Begini bu, aduh gimana ya saya juga bingung menjelaskannya bagaimana? saya hanya takut ibu tidak percaya dengan apa yang akan saya katakan saat ini." ucap Tazkia dengan tersenyum bingung menatap ke arah di mana Ratna berada.


"Kalian pasti akan membahas tentang sosok suami ku yang masih bergentayangan menghantui orang orang bukan?" ucap Ratna sambil menunduk menahan tangisnya.


Mendengar hal itu baik Tazkia maupun Aditya lantas saling pandang satu sama lain seakan terkejut Ratna mengetahui maksud kedatangan keduanya.


"Dia sudah tahu Ki..." ucap Aditya dengan nada yang berbisik yang di balas Tazkia dengan anggukan pelan.


Tazkia yang mengetahui Ratna tengah bersedih lantas bangkit dari duduknya dan berpindah mendekat ke arah wanita itu. Dengan perlahan Tazkia mulai menepuk pelan pundak wanita itu seakan memberikannya ketenangan.


Mendapat perlakuan seperti itu Ratna lantas langsung menoleh menatap ke arah Tazkia sambil mengusap air matanya dengan kasar.

__ADS_1


"Suami saya bukan pembawa sial, teror itu saya juga tidak tahu mengapa bisa terjadi. Saya mohon percayalah pada saya." ucap Ratna meyakinkan.


Mendengar hal itu Tazkia lantas menghela nafasnya panjang. "Bu Ratna salah paham, kami datang ke sini bukan karena masalah teror tersebut. Kami adalah salah satu keluarga pasien yang sudah di antar dengan selamat oleh pak Eko ketika teman kami mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu." ucap Tazkia menjelaskan secara perlahan kepada Ratna.


Ratna yang mendengar hal itu tentu saja bingung, secara suaminya jelas jelas sudah meninggal bagaimana mungkin gadis di depannya mengatakan bahwa Eko lah yang mengantar temannya menuju rumah sakit.


"Kamu jangan bercanda itu tidaklah mungkin" ucap Ratna tidak sepenuhnya percaya kepada ucapan Tazkia.


"Itu benar bu, entah bagaimana kami menjelaskannya hanya saja sepertinya pak Eko belum sadar sepenuhnya dengan kematiannya dan terus melaksanakan tugasnya mengantarkan pasien." ucap Aditya yang lantas membuat manik mata Ratna kembali berkaca kaca.


"Apa ucapan kalian benar?" tanya Ratna.


"Ya bu kami datang ke sini untuk menjemput ibu bermaksud untuk menyadarkan sosok pak Eko bahwa semua tugasnya telah berakhir karena sepertinya ada sesuatu yang membuatnya tetap tinggal di dunia dan tidak bisa naik ke atas." ucap Tazkia lagi mencoba meyakinkan Ratna.


"Kalau begitu ayo kita segera ke sana." ucap Ratna dengan bahagia sambil bangkit berdiri mengajak Aditya dan juga Tazkia untuk segera berangkat.


"Tentu saja bu, ayo kita pergi." ucap Tazkia sambil tersenyum ke arah Ratna.


Setelah sepakat, ketiganya kemudian lantas bangkit dan melangkahkan kaki mereka keluar dari rumah. Seulas senyum terbit dari wajah Ratna ketika mengetahui sebuah fakta bahwa arwah penasaran suaminya tidaklah jahat seperti rumor yang beredar di kampung ini. Ratna yakin warga kampung ini salah paham akan suaminya.


"Pada akhirnya aku bisa membersihkan nama mu mas..." ucap Ratna dalam hati dengan perasaan yang lega.


Ketiganya terus melangkahkan kaki mereka menuju ke arah mobil Tazkia yang terparkir di dekat tugu selamat datang.


"Mau kemana kau pembawa sial?" teriak sebuah suara yang lantas menghentikan langkah kaki ketiganya yang hendak menuju ke arah mobil.


"Keluarga ku bukan pembawa sial! aku bisa membuktikannya..." ucap Ratna kemudian yang tidak terima dengan panggilan yang di berikan warga kepadanya.

__ADS_1


"Jangan jangan kau mau kabur dari sini kan? setelah apa yang suami mu lakukan pada kampung ini kau mau kabur begitu saja, jangan pernah berharap!" teriaknya dengan menatap tajam ke arah Ratna, Aditya dan juga Tazkia.


Bersambung


__ADS_2