
Sementara itu dua puluh menit sebelum kematian Tazkia.
Aditya yang tidak tahu harus kemana, lantas berhenti di depan Rumah Sakit dan terlihat beberapa kali mondar mandiri sambil terus membawa bambu tersebut di tangannya. Aditya ragu antara masuk ke dalam atau tidak karena ini sudah larut malam dan tentu saja jam berkunjung sudah habis, sungguh tidak mungkin juga teman temannya ada di sana bukan?
Dasar bodoh! ke arah gudang sekarang kenapa kamu malah mondar mandir di sini!
Ucap sebuah suara yang lantas mengagetkan Aditya karena di sebelahnya tidak ada orang sama sekali, membuat bulu kuduknya mendadak berdiri ketika mendengar hal tersebut.
"Siapa itu? jangan bercanda deh gak lucu!" ucap Aditya sambil menatap ke arah kanan dan kiri mencari keberadaan seseorang yang mengajaknya berbicara barusan.
Jalan sekarang bodoh!
Ucapnya lagi yang semakin membuat Aditya ketakutan karena kembali mendengarnya. Hingga kemudian sebuah tepukan tangan seseorang di pundaknya membuat Aditya terkejut bukan main.
"Ngapain lo di sini Dit?" ucap Prasetia yang melihat Aditya celingukan di area samping Rumah Sakit.
"Kalian! gue pikir kalian siapa tadi." ucap Aditya sedikit lega ketika mengetahui Prasetia dan juga Sinta ada di dekat sini. "Tunggu kenapa hanya kalian berdua? dimana Kia?" tanya Aditya sambil menatap bingung ke arah keduanya.
"Kia menghilang, gue dan Sinta sedang berusaha mencari keberadaannya. Kalau lo ngapain di sini?" ucap Prasetia dengan nada yang terdengar khawatir.
"Ceritanya panjang kenapa gue bisa ada di sini, yang jelas ada sebuah suara yang menuntun gue menuju ke arah Kia, suara itu bahkan memberi gue ini sedangkan gue sendiri bahkan tidak tahu apa fungsi dari benda ini." ucap Aditya kemudian sambil menunjukkan bambu lancip yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Bambu kuning lancip!" pekik Sinta ketika melihat benda yang di pegang oleh Aditya saat ini.
Baik Prasetia dan juga Aditya lantas saling tatap satu sama lain ketika mendengar suara Sinta barusan.
"Lo tahu benda ini Sin?" tanya Aditya dengan tatapan yang penasaran ke arah Sinta.
"Gue gak tahu pastinya apa, hanya saja sebelum gue keluar dari ruangan tadi, pak Darma mengatakan bahwa hanya bambu kuning lancip yang bisa memusnahkan pria bertudung hitam itu untuk selamanya." jelas Sinta sambil mengingat ingat tentang ucapan Darma tadi.
"Kalau begitu apalagi yang kita tunggu? Kia dalam bahaya kita harus segera menyelamatkannya." ucap Prasetia kemudian yang di balas keduanya dengan anggukan kepala.
Ketiganya kemudian lantas bergerak menuju ke arah gudang sesuai dengan petunjuk yang di dapat oleh Aditya lewat suara samar yang terdengar tadi di telinganya.
Ketiganya kemudian menghentikan langkah kaki mereka ketika berada tepat di sebuah pintu dengan tulisan gudang di atasnya. Secara perlahan tapi pasti keduanya lantas masuk ke dalam ruangan tersebut dan terus melangkah kembali.
Suasana di gudang tersebut begitu pengap dan gelap, membuat ketiganya lantas saling meraba mencari jalan sekaligus keberadaan Tazkia di sana. Hingga kemudian tak jauh dari posisi mereka berada, samar samar mereka seperti mendengar sebuah suara yang sangat mereka kenali.
"Faris?" ucap Prasetia lirih ketika mendengar suara Faris di dalam.
Tidak hanya Prasetia yang di buat terkejut oleh suara barusan, baik Aditya dan juga Sinta lantas saling pandang dalam kegelapan ketika tanpa mereka sangka ternyata Faris adalah dalang di balik semua kejadian yang menimpa mereka termasuk si pengirim sofa itu.
"Mengapa kamu melihat sampai sejauh itu Ki..." ucapnya dengan lembut sambil mengelus pipi Tazkia. "Aku sudah berusaha menyembunyikannya selama ini, bahkan ketika kamu dan aku bersentuhan aku selalu mengecoh dirimu agar tidak bisa melihat masa lalu dan jati diriku, tapi mengapa kamu malah tetap berusaha melihatnya? bukankah aku malah tampak sangat menyedihkan Ki?" ucapnya lagi dengan nada yang sendu di setiap kata katanya.
__ADS_1
Hening sesaat hingga kemudian. "Setelah kamu... mengambil kekuatan ku, bunuh aku Faris!" ucap Tazkia dengan nada yang menahan isak tangisnya.
Baik Prasetia, Aditya dan juga Sinta yang ada di sana lantas langsung berlari mendekat ke arah keduanya ketika mendengar ucapan Tazkia barusan. Ketiganya tentu tidak bisa menerimanya begitu saja, keputusan yang di ambil Tazkia barusan bukanlah sesuatu hal yang sepele layaknya membeli sebuah permen, ini adalah hidup dan mati tidak ada yang bisa mencampurinya kecuali Sang Pencipta.
"Aku mencintaimu Ki..." ucapnya lirih yang langsung membuat Tazkia meneteskan air matanya untuk yang terakhir kalinya.
"Aku.. juga... mencintai..." ucap Tazkia namun terhenti karena pandangannya mulai menggelap lalu menghilang.
"Dasar bajingan!" teriak Aditya dari kejauhan sambil menusukkan bambu yang ia bawa ke arah Faris dengan membabi buta.
Faris yang baru menerima transfer kekuatan dari Tazkia, lantas tidak tahu menahu tentang kedatangan ketiganya ataupun bersiap dengan serangan yang di berikan Aditya padanya. Bambu kuning itu menancap tepat menembus jantung Faris dari posisi belakang, membuat Faris yang menerima itu dengan tiba tiba lantas langsung memuntahkan darah segar cukup banyak hingga membasahi baju Tazkia yang memang saat itu tengah berada di bawahnya.
Faris limbung dan jatuh begitu saja ke tanah, perjalanan hidupnya dalam menjadi pengikut aliran sesat mendadak berputar di kepalanya seperti layaknya arus balik. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya ketika melihat Tazkia sudah terkulai lemas tak bernyawa dan di kerubungi oleh Aditya, Sinta dan juga Prasetia yang seperti tengah shock akan apa yang baru saja terjadi.
Secercah cahaya terang terlihat terpancar dari bambu kuning yang tertancap di jantung Faris, membuat Aditya, Sinta dan juga Prasetia yang berada di sana langsung menatap ke arah sumber cahaya tersebut.
Seiring dengan cahaya terang di bambu itu, perasaan yang teramat sakit mulai menjalar di tubuh Faris, membuatnya terus terusan mengerang kesakitan. Rasa sakit yang di alaminya begitu terasa menyakitkan, hingga terasa seperti tengah dikuliti hidup hidup.
Faris mengerang dan terus mengerang dengan hebat, hingga puncaknya setelah ia bertarung melawan rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya. Perlahan tubuh Faris terlihat seperti terkikis dan terbakar perlahan kemudian lenyap seutuhnya berubah menjadi abu.
Bersambung
__ADS_1