
Sementara itu Tazkia yang di dorong suster menuju kamarnya lantas terhenti karena panggilan dari suara yang sangat di kenalnya.
" Kia ..." teriak Sinta sambil berlari mendekat ke arah Tazkia yang tengah di dorong oleh seorang suster.
Melihat Sinta dan juga Prasetia yang datang, Tazkia lantas meminta suster tersebut untuk meninggalkannya di sini bersama teman temannya.
" Ki lo mau ke kamar ya? biar gue bantu." ucap Prasetia sambil mulai mendorong kursi roda Tazkia setelah kepergian suster tersebut.
" Sepertinya lebih asyik jika di taman bukan, gue bosen sekali di kamar terus." ucap Tazkia menatap ke arah kedua teman temannya.
" Baiklah sesuai keinginanmu." ucap Prasetia.
Keduanya kemudian lantas pergi menyusuri lorong rumah sakit menuju ke arah taman.
" Bagaimana keadaan Aditya?" tanya Tazkia setelah ketiganya sampai di taman.
" Aditya baik, bahkan sangat sangat baik, bukankah itu mengesalkan padahal semua orang tengah khawatir padanya kala itu." ucap Sinta dengan kesal.
" Jika Aditya baik baik saja, kenapa aku seperti ini? apa aku terlalu memforsir kemampuanku waktu itu? entahlah." ucap Tazkia dengan tatap sendu ke arah kakinya.
Sinta yang tersadar telah salah bicara lantas menatap ke arah Prasetia saling kode kemudian menatap Tazkia kembali.
" Tenanglah ki gue yakin bentar lagi semua akan kembali normal hem." ucap Sinta menenangkan.
Mendengar hal itu Tazkia lantas mendongak dan menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
" Kalian yakin?" tanya Tazkia yang lantas langsung di balas anggukan oleh Prasetia dan juga Sinta.
" Oh ya kalian ke mana saja seminggu ini, kenapa tidak pernah datang berkunjung?" ucap Tazkia.
" Ada beberapa hal yang harus kami urus ki, tapi percayalah semua sudah berakhir sekarang." ucap Prasetia sambil menggenggam tangan Tazkia.
" Apa maksud mu Pras? apa yang sudah berakhir?" tanya Tazkia dengan bingung.
" Kami sudah membakar lukisan tersebut." ucap Sinta yang lantas membuat Tazkia terkejut mendengarnya.
__ADS_1
" Bagaimana kalian bisa tahu? bukankah aku belum mengatakan apapun pada kalian." ucap Tazkia.
Mendengar hal itu Sinta dan juga Prasetia lantas langsung saling pandang.
" Jadi apa yang kami lakukan adalah benar?" ucap Sinta lagi.
" Ya itu benar, tapi siapa yang memberitahu kalian?" tanya Tazkia lagi.
" Nyokap lo ki, dia menyuruh kita berdua untuk segera membakar lukisan tersebut sebagai bentuk akhir penyelamatanmu pada Aditya." jelas Prasetia.
" Lalu bagaimana dengan pak Waluyo?" tanya Tazkia kemudian karena sedari awal siuman ia sungguh penasaran dengan keadaan Waluyo.
Prasetia dan juga Sinta hanya terdiam dengan tatapan yang sendu membuat Tazkia mempunyai firasat buruk akan apa yang terjadi pada Waluyo.
" Jangan bilang ..." ucap Tazkia namun tidak berani meneruskan ucapannya karena Tazkia belum siap mendengarnya.
" Pak Waluyo meninggal dunia ki." ucap Prasetia pada akhirnya.
Tazkia hanya terdiam mendengar hal itu karena ini adalah keinginan Waluyo sendiri atau lebih tepatnya adalah konsekuensi yang harus Waluyo tanggung akan segala hal musrik yang telah ia lakukan untuk membangkitkan Maya kekasihnya yang telah meninggal.
" Apa kamu baik baik saja ki?" tanya Sinta kemudian.
" Ya Sin kamu tenanglah." ucap Tazkia dengan tersenyum kecut.
" Sepertinya cuaca kali ini agak terik lebih baik kamu belikan air mineral untuk Tazkia sin." ucap Prasetia.
" Ya lo benar gue ke kantin dulu ya." ucap Sinta sambil melangkah pergi menuju kantin untuk memberi waktu Prasetia dan juga Tazkia untuk berbicara.
" Apa lo baik baik aja ki?" tanya Prasetia setelah kepergian Sinta.
" Ya, seperti yang lo lihat sekarang Pras?" ucap Tazkia sambil tersenyum.
" Ada yang aneh dengan lukisan itu ketika kalian berdua sadar." ucap Prasetia yang lantas membuat Tazkia langsung menatap ke arah Prasetia.
" Gadis di dalam lukisan itu berubah menjadi dua insan yang tengah berpelukan sambil membawa bunga tulip warna merah di tangannya." ucap Prasetia sambil mengingat ingat lukisan itu.
__ADS_1
" Sepertinya memang jalan ini yang di pilih pak Waluyo." ucap Tazkia yang lantas membuat tanda tanya besar di benaknya.
" Apa maksudmu ki?" tanya Prasetia penasaran.
" Ya, ketika gue menyelamatkan Aditya gue udah berusaha untuk mengajak pak Waluyo untuk ikut kembali bersama kami, namun pak Waluyo malah menyuruh kami pergi dan meninggalkannya, gue yang tidak terima dengan keputusan pak Waluyo lantas berusaha mendekat dan mencoba kembali mengajak pak Waluyo untuk pulang, di saat gue udah semakin dekat dengan pak Waluyo tiba tiba saja makhluk mengerikan yang menindih tubuh pak Waluyo lantas marah dan menyerang ku hingga aku terlempar berkali kali." ucap Tazkia.
" Jadi pak Waluyo bukan meninggal karena serangan jantung ki?" tanya Prasetia sekali lagi karena masih tidak percaya dengan baru saja di dengarnya.
" Bukan, pak Waluyo meninggal dengan keinginannya sendiri atau lebih tepatnya karena konsekuensi yang harus ia tanggung atas perbuatan yang sudah dilakukannya." ucap Tazkia.
" Iya lo benar, tidak ada pembenaran atas apa yang sudah di perbuat pak Waluyo untuk membangkitkan kekasihnya karena semua itu adalah perbuatan musrik." ucap Prasetia lagi.
Di saat keduanya tengah berbicara serius ponsel milik Prasetia tiba tiba saja berbunyi, Prasetia kemudian lantas meminta ijin kepada Tazkia untuk mengangkatnya sebentar.
Sambil menunggu Sinta membeli air mineral dan juga Prasetia yang tengah menelpon Tazkia lantas menatap sekeliling, namun tatapannya terhenti kala melihat seorang gadis dengan pakaian yang branded dan juga elegan melangkah mendekat ke arahnya.
" Hei kamu!" ucap gadis itu yang tidak lain adalah Tania.
Tazkia yang tidak merasa Tania memanggilnya hanya terdiam dan mengacuhkannya, Tania yang diacuhkan lantas menjadi geram kemudian melangkah semakin dekat ke arah Tazkia.
" Aku memanggilmu sedari tadi, apa kau tuli ha?" ucap Tania dengan kesal.
" Siapa? gue?" tanya Tazkia dengan bingung.
" Ya iyalah siapa lagi yang ada di sini kalau bukan kamu!" ucap Tania dengan sinis.
" Maaf gue gak kenal sama lo." ucap Tazkia acuh.
" Sialan nih gadis cacat." ucap Tania dalam hati.
Tania yang kesal lantas kemudian menggenggam dengan erat kursi roda Tazkia dan menatap Tazkia dengan tajam, saat keduanya saling tatap tanpa sengaja pundak Tazkia menyentuh tangan Tania yang memegang kursi rodanya.
Ketika keduanya saling bersentuhan Tazkia lantas mendapat sebuah penglihatan. Dalam penglihatannya Tazkia seperti dibawa ke sebuah mansion besar dengan Tania yang bergegas memasuki mansion tersebut dengan wajah yang bersinar. Tania terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion, namun ketika Tania sampai di ruang tengah betapa terkejutnya Tania ketika melihat seorang wanita paruh baya sudah tergeletak dengan bersimbah darah di lantai, sedangkan di sebelahnya terdapat orang yang bersimpuh dengan menatap kebingungan ke arah wanita tersebut.
" Apa yang terjadi om?" tanya Tania pada pria yang tengah bersimpuh itu.
__ADS_1
Bersambung