Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Apa Doni menipuku? ~ Desa tanjung tari #16


__ADS_3

Setelah pertengkaran yang terjadi antara Doni dan juga Tazkia, suasana rumah menjadi sepi bahkan Aditya yang biasanya nyerocos juga tampak lebih diam kali ini. Sinta dan Prasetia bahkan hanya diam dan saling pandang satu sama lain, Sinta menatap ke arah Aditya seakan meminta penjelasan namun Aditya hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu dengan apa yang telah terjadi.


" Gue gak tau sungguh." ucap Aditya.


Sementara itu sedari tadi Tazkia hanya menatap ke arah jendela kamarnya dengan melamun, ia benar benar bingung harus berbuat apa, menelpon orang tuanya? tentu saja itu tidak mungkin karena itu akan membuat kedua orang tuanya khawatir, jika ia harus menghubungi Faris, tentu saja Faris tidak akan bisa tiba di sini tepat waktu, selain itu sinyal di sini juga susah Tazkia tidak yakin Faris akan langsung menerima pesannya, lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?


Sinta mendekat ke arah Tazkia mencoba untuk berbicara dengannya, siapa tahu Sinta bisa memberikan solusi untuk masalah yang sedang Tazkia alami.


" Ki sebenarnya apa yang sedang lo pikirkan?" tanya Sinta dengan penasaran.


Mendengar pertanyaan itu Tazkia hanya menoleh ke arah Sinta kemudian menghela nafasnya panjang.


" Ceritalah biar kami bisa bantu." ucapnya lagi.


" Apa lo yakin akan membantu gue?" tanya Tazkia dengan ragu.


" Tentu, kita kan kawan kita selesaikan masalah kita bersama, lo ingat bersama lebih mudah daripada seorang diri." ucap Prasetia yang ternyata sudah ada di pintu kamar sedari tadi.


" Yap serahkan saja pada kami." imbuh Aditya yang juga ikut nimbrung.


Mendengar ucapan Prasetia, Tazkia lantas tersenyum, karena terlalu sibuk berpikir ia sampai lupa bahwa dirinya memiliki teman teman yang selalu berada di sisinya dalam keadaan apapun.


" Terima kasih." ucap Tazkia dengan tersenyum menatap ke arah ketiga temannya satu persatu.

__ADS_1


*********


Waktu berlalu dengan cepat, kini hari telah berganti menjadi petang Tazkia menunggu dengan gelisah di kamarnya, bukan menunggu calon pengantin melainkan menunggu untuk di culik, bukankah itu aneh? entahlah Tazkia juga bingung haruskah ia percaya kepada Doni atau tidak kali ini.


Suara pintu di buka dengan perlahan mulai terdengar di pendengaran Tazkia, Tazkia lantas menoleh ke arah pintu kamarnya, dilihatnya Doni melangkah mendekat ke arahnya dengan memakai pakaian yang serba hitam, melihat kedatangan Doni, Tazkia berusaha untuk setenang mungkin dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik baik saja.


" Lo sudah siap ki?" tanya Doni." Minum obat ini, setelah lo minum mungkin lo akan pingsan, namun hanya selama 30 menit untuk meyakinkan Aldo saja." imbuhnya sambil memberikan sebuah obat berbentuk pil untuk Tazkia minum.


Dengan meyakinkan diri serta rasa percaya kepada Doni, Tazkia lantas mulai mengambil pil itu dan langsung meminumnya. Beberapa detik setelah Tazkia meminum obat itu perlahan kesadarannya seperti mulai hilang dan melayang detik berikutnya Tazkia pingsan.


Melihat obat tersebut sudah bereaksi Doni langsung menangkap tubuh Tazkia yang mulai limbung, kemudian menggendongnya dan membawanya keluar dari kamar menuju ke tempat Aldo yang sudah menunggunya di luar rumah.


" Kenapa lama sekali? aku sudah menunggumu dari tadi!" ucap Aldo dengan kesal karena Doni baru terlihat.


Keduanya lantas melangkah bergegas menuju ke arah hutan dengan membawa Tazkia yang tengah pingsan di gendongan Doni. Kebetulan aksi mereka di lakukan setelah bunyi kentongan di pukul warga agar segera pergi tidur sebelum pukul 12, itulah mengapa suasana tampak sepi membuat rencana mereka berjalan mulus tanpa halangan apapun.


Sementara itu tanpa mereka sadari Prasetia, Sinta dan juga Aditya sudah bersembunyi sejak lama dan merekam segala hal yang mereka lakukan kepada Tazkia hingga Aldo dan Doni pergi menuju ke arah hutan.


" Gue bener bener gak menyangka mereka berdua pengikut sekte sesat." ucap Aditya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


" Itu sudah tidak penting dit, yang harus kita pikirkan sekarang kita harus segera mencari bantuan untuk menyelamatkan Tazkia." ucap Sinta.


" Ya lo benar, kita harus segera berangkat sebelum semuanya terlambat." ucap Prasetia kemudian mengajak Aditya dan juga Sinta untuk segera berangkat.

__ADS_1


Sesuai dengan instruksi Tazkia mereka bertiga mencoba untuk mengumpulkan warga dan meminta bantuan. Memang akan sangat sulit mengingat di desa tersebut terdapat sebuah kepercayaan untuk tidak berkeliaran ketika menjelang tengah malam, namun baik Prasetia, Sinta dan juga Aditya akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu Tazkia walau kedengarannya sulit sekalipun.


******


Sementara Prasetia, Sinta dan juga Aditya sibuk mencari bantuan, Aldo dan Doni terus melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam hutan menuju tempat diadakannya ritual itu.


Doni dan Aldo semakin masuk ke dalam hutan, setelah berjalan cukup lama menelusuri hutan mereka di sambut dengan beberapa obor yang terpasang di sepanjang jalan setapak menuju depan gua, beberapa orang terlihat sudah berkumpul di sana dengan memakai pakaian jubah serba hitam mereka berjajar di setiap jalan menuju ke arah depan gua. Aldo dan Doni terus melangkahkan kakinya menuju ke arah depan gua dengan membawa Tazkia di gendongan Doni.


" Kalian sudah datang rupanya, bagus sebentar lagi bulan purnama akan terjadi." ucap Roman dengan senyum yang mengembang.


Doni kemudian menaruh tubuh Tazkia perlahan di atas batu besar, Doni kemudian sedikit menunduk agar Tazkia bisa mendengar ucapannya.


" Berpura puralah tetap tidur ki, kita lakukan ketika aku sudah memberi aba aba." ucap Doni berbisik tepat di telinga Tazkia, sedangkan Tazkia hanya diam saja dengan mendengarkan segala instruksi dari Doni.


Tepat setelah Doni meletakkan Tazkia, alunan musik gamelan mulai terdengar di telinganya, suara gemuruh serta tari tarian seperti tengah berkumpul dan memutari Tazkia yang sedang tergeletak di atas batu besar.


" Jadi musik gamelan itu berasal dari ritual mereka? selama ini penduduk desa sudah di bodohi oleh mereka, gadis yang selalu hilang ketika mendengar suara gamelan adalah ulahnya bukan hantu, iblis atau semacamnya." ucap Tazkia dalam hati.


" Rembulan purnomo bangkitno kesaktian, kesucian lan keabadian. Lintang dadio seksi ilmu lan keajaiban, dadio dadio dadio." ucap Roman dengan nada suara sedikit berteriak di barengi alunan gamelan yang bersahutan dengan ucapan orang orang yang terus menyerukan kata "Dadio".


Setelah mantra terucap setetes demi setetes air mulai turun membasahi Tazkia di barengi bau bunga yang menyeruak menusuk hidungnya secara berkali kali, seperti sengaja dicipratkan ke seluruh tubuh Tazkia.


Hawa tak enak mulai menyelimuti area sekitar Tazkia, firasat tak enak mulai mengelilingi Tazkia karena ia tak kunjung mendapat pertanda dari Doni sedari tadi. Mungkinkah Doni menipunya? apakah Tazkia benar benar berakhir menjadi tumbal mereka?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2