Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Isyarat ~ Tugas terakhir (Ambulans) #8


__ADS_3

"Jangan jangan kau mau kabur dari sini kan? setelah apa yang suami mu lakukan pada kampung ini kau mau kabur begitu saja, jangan pernah berharap!" teriaknya dengan menatap tajam ke arah Ratna, Aditya dan juga Tazkia. "Warga kampung keluarlah Ratna hendak pergi dari sini..." teriaknya kemudian yang lantas membuat Aditya dan juga Tazkia bingung ketika mendengar teriakan wanita itu.


"Gawat Ki..." ucap Aditya dengan nada yang sedikit berbisik ke arah Tazkia.


"Gue juga tahu jadi diam lah jangan menambah rasa panik dalam diri gue." ucap Tazkia dengan menahan kesal karena Aditya malah memperjelas segalanya.


Tidak beberapa lama setelah salah seorang warga berteriak memanggil warga yang lainnya, beberapa orang nampak mulai berhamburan keluar dari rumah mereka dan mengepung Aditya, Tazkia dan juga Ratna di sana. Baik Aditya maupun Tazkia keduanya lantas langsung menelan salivanya dengan kasar ketika melihat warga kampung mulai mengerumuni mereka di sana.


Ini tidak baik Ki... cepatlah cari cara agar bisa pergi dari sana


Ucap Icha tiba tiba yang membuat pikiran Tazkia semakin buntu ketika mendengar banyak desakan baik dari Aditya maupun Icha.


"Kenapa jadi gini sih? jika sekarang tiba tiba aku menggunakan teleportasi ku pasti mereka akan menganggap ku aneh. Lalu aku harus apa?" ucap Tazkia dalam hati mencoba mencari solusi namun pikirannya seakan buntu dan tak bisa berpikir jernih sama sekali.


"Enak sekali kau mau kabur dari sini!" teriak salah seorang warga dalam kerumunan itu.


Betul betul betul


Teriak beberapa warga yang menyetujui perkataan warga barusan secara serentak membuat Tazkia benar benar tidak bisa berkutik.


"Maaf bapak bapak dan ibu ibu sekalian, kalian semua salah paham di sini kami tidaklah kabur, saya hanya mengajak bu Ratna untuk pergi ke rumah sakit tempat suaminya bekerja dulu." ucap Tazkia kemudian dengan nada setengah berteriak berharap semua orang yang ada di sana dapat mendengarnya.


Beberapa warga yang mendengar ucapan Tazkia lantas terdiam sejenak seakan menimbang apakah ucapan Tazkia barusan dapat dipercaya atau tidak. Hingga kemudian seorang bapak bapak nampak berjalan mendekat dari arah kerumunan tersebut.

__ADS_1


"Kau anak muda tau apa dengan kampung kami? jangan ikut campur ini adalah masalah kami." ucap salah seorang warga yang melangkah mendekat ke arah Tazkia.


"Bukan begitu pak anda salah paham, kami benar benar hanya ingin ke rumah sakit sekarang tidak ada maksud yang lainnya. Apakah kalian tidak melihat kami tidak membawa barang bawaan apapun dari dalam? jika kami ingin kabur pasti barang bawaan kami banyak bukan?" ucap Tazkia mencoba mencari cara agar para warga percaya padanya.


Lagi lagi warga kampung nampak terdiam mencerna ucapan Tazkia barusan yang setelah di pikir pikir memang masuk akal, namun ketika semua warga desa mulai menaruh kepercayaan pada ketiganya, lagi lagi ada saja salah satu warga yang menjadi kompor di antara banyaknya warga warga kampung yang tengah merenung saat ini.


"Halah, masalah baju dan barang barang lainnya masih bisa di beli. Ini hanya alasan agar mereka bisa lolos dari kita, lebih baik kita arak saja mereka dan adili di kantor desa. Dengan begitu bukankah teror itu akan cepat selesai?" ucap seorang pria dengan menggebu gebu yang di susul dengan teriakan warga desa yang setuju dengan usulannya.


Betul itu betul...


Ayo kita arak dan adili mereka...


Teriak beberapa warga mulai menggema dan berjalan mendekat ke arah Tazkia, Aditya dan juga Ratna dengan ekspresi wajah yang marah hendak menghakimi mereka.


"Bisa diam gak sih lo Dit, lo kira gue mau mati sia sia di sini!" ucap Tazkia dengan kesal karena Aditya bukannya memberikan solusi malah menambah kepalanya pusing memikirkan hal ini.


Dengan perasaan yang menggebu gebu warga lantas langsung menarik tangan ketiganya dengan kasar dan menggiring mereka ke arah kantor desa beramai ramai. Tidak ada yang bisa Tazkia dan juga Aditya lakukan selain pasrah mengikuti arah kemana warga membawa mereka bertiga.


"Santai saja dong pak! sakit ini..." ucap Aditya dengan kesal berharap beberapa warga yang mencengkram tangannya sedikit melonggarkan tangannya. Hanya saja bukannya malah melonggar tubuh Aditya malah terus di dorong untuk jalan layaknya buronan penjara yang sedang menunggu untuk di eksekusi.


Tazkia yang terus di dorong dan di arak oleh warga tak bisa berpikir dengan jernih dan melakukan apapun untuk keluar dari masalah ini. Pikiran Tazkia kali ini benar benar mentok tak bisa menemukan solusi.


"Saya mohon lepaskan kami... kalian salah paham dengan suami saya..." ucap Ratna dengan nada yang memelas.

__ADS_1


Inilah yang ia takutkan selama ini jika menginjakkan kaki keluar dari rumah. Setelah kematian suaminya waktu itu keadaan masih damai dan berjalan dengan semestinya, hanya saja tepat setelah 7 hari kematian suaminya teror aneh mulai menghantui warga kampung. Setiap malamnya masing masing rumah warga selalu mendapat ketukan misterius tepat di malam hari disertai dengan suara sirine ambulan bergema menyertai suara ketukan misterius itu.


Awalnya beberapa warga kampung mengira itu adalah suara ketukan biasanya, sampai kemudian seorang warga memberanikan diri untuk mengecek dan membukakan pintu tepat ketika terdengar suara ketukan pintu itu.


Tidak ada yang memberikan kejelasan secara terperinci dengan apa yang mereka lihat ketika membuka pintu. Ada yang mengatakan mereka melihat sosok pocong namun ada juga yang mengatakan mereka melihat sosok laki laki mengenakan baju perawat layaknya pakaian dinas yang biasa di kenakan oleh Eko ketika bekerja.


*****


Sementara itu di ruangan Faris.


Faris sedang menyandarkan tubuhnya sebentar pada kursi kebesarannya. Pikirannya benar benar suntuk saat ini. Dipandanginya ponsel miliknya berkali kali menunggu kabar dari Tazkia, namun sejak kepergiannya Tazkia bahkan belum mengabarinya sama sekali membuat dirinya risau akan keadaan gadis pujaannya itu.


"Apa Tazkia belum sampai ya? bukankah harusnya sudah ya? atau jalannya macet kali ya?" ucap Faris bertanya tanya pada dirinya sendiri.


Faris menatap foto Tazkia yang terpajang di meja ruangannya, hanya dengan menatap fotonya saja tidak bisa mengurangi rasa khawatir yang memenuhi hatinya. Faris kemudian lantas bangkit hendak menuju pantry untuk membuat kopi yang mungkin saja bisa mengurangi rasa kegelisahannya.


Cetar.....


Suara foto yang mendadak terjatuh dari mejanya, membuat Faris lantas menoleh karena terkejut ketika mengetahui foto itu jatuh secara tiba tiba. Faris sedikit berjongkok kemudian mengambil potret Tazkia yang sudah berselimut pecahan kaya dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.


"Apakah ini isyarat dari mu Ki? haruskah aku menyusul mu ke sana?" ucap Faris dengan lirih sambil menatap ke arah potret Tazkia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2