Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Mimpi dalam mimpi ~ Cermin bertuah #2


__ADS_3

Dengan rasa takut yang perlahan mulai menyelimutinya Tazkia memberanikan diri menatap bola mata itu dan yang terjadi...


Crass


Bola mata itu pecah dan membuat Tazkia terkejut hingga ia tanpa sengaja menjatuhkan tekonya, hingga pecahannya berhamburan dan mengenai kakinya.


Hhhhhhhhhhh


"Aku bermimpi lagi?" ucap Tazkia kala terbangun dengan baju yang sudah basah karena keringat.


Seperti pengulangan yang sama Tazkia menatap ke arah Sinta yang tengah tertidur lelap, kemudian menoleh ke arah teko air yang lagi lagi sedang kosong.


"Enggak enggak! gak lagi deh bodo amat gue mau tidur!" ucap Tazkia sambil kembali merebahkan dirinya ke ranjang dengan posisi miring menghadap ke Sinta.


Perlahan Tazkia mulai memejamkan matanya, namun ketika baru beberapa detik terpejam samar samar ia mendengar suara senandung seperti di mimpinya tadi, Tazkia yang memang tidak ingin pengulangan itu terjadi lantas enggan untuk membuka matanya, namun anehnya suara senandung itu semakin terdengar jelas di pendengarannya seakan akan asal sumber suaranya dari Sinta.


Tazkia yang antara yakin dan tidak yakin lantas membuka matanya perlahan dan betapa terkejutnya ia ketika membuka mata cermin itu sudah berada di depannya disertai sosok di dalam cermin yang tersenyum menyeringai menatapnya.


Hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh


"Kia lo kenapa sih? gue bangunin dari tadi gak bangun bangun, lo mimpi buruk?" ucap Sinta yang menatap ke arah Tazkia dengan penuh tanda tanya.


Sedangkan Tazkia malah menatap Sinta dengan aneh takut ini hanyalah pengulangan dari mimpinya atau yang biasa mereka sebut mimpi di dalam mimpi. Tazkia bangkit perlahan kemudian menatap ke arah Sinta beberapa detik lalu mencubitnya.


"Aw sakit tahu! lo ngapain sih? gak jelas lo nyebelin deh, gue mau mandi aja lah." ucap Sinta kemudian bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.


Tazkia menatap kepergian Sinta dengan perasaan yang tidak bisa terbaca, ia kemudian mengingat cermin itu dan langsung bangkit berlarian menuruni anak tangga menuju ke arah cermin itu di letakkan.


Di tatapnya cermin itu dengan wajah yang serius menatap setiap detail yang melingkari kaca cermin itu.


"Apa itu hanyalah sebuah bunga tidur saja?" ucap Tazkia pada diri sendiri.


Di saat Tazkia menatap ke arah cermin itu ia melihat Ratmi melintas di belakangnya menuju ke arah dapur.


"Mbok tumben diem aja? apa makanan sudah siap? Kia laper nih." ucapnya sambil masih menatap ke arah cermin.

__ADS_1


Satu detik, dua detik, tiga detik tidak ada jawaban dari Ratmi membuat Tazkia lantas menoleh ke arah dapur.


"Mbok? apa mbok gak dengar Kia?" ulangnya lagi karena Ratmi hanya diam saja sedari tadi.


Tazkia kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dapur.


"Ada apa non? tadi mbok sedang beres beres halaman samping jadi gak terlalu denger ucapan non." ucap Ratmi dari arah samping membuat langkah Tazkia terhenti dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Loh mbok bukannya di dapur?" tanya Tazkia dengan raut wajah bingung.


"Gak non, si mbok belum ke dapur sama sekali." ucapnya kekeh.


"Lalu?"


"Lalu apanya non?"


"Gak jadi deh mbok Kia mau ke atas dulu lihat Sinta." ucap Tazkia kemudian melangkah kembali menuju lantai atas.


"Aneh gue jelas jelas lihat mbok Ratmi melintas dan masuk ke arah dapur, tapi kok tiba tiba muncul dari halaman samping? apa gue yang halu ya karena mimpi di dalam mimpi sebelumnya?" ucapnya pada diri sendiri sambil melangkah naik ke atas.


********


"Em Sin, apa gak sebaiknya lo balikin lagi cermin itu ke tokonya?" ucap Tazkia kemudian.


"Ya rugi dong gue Ki, gue kan udah bayar main di balikin aja, enggak bisa gitu aja dong." ucap Sinta dengan nyerocos.


"Enggak papalah anggap aja sedekah, beres kan?"


"Enak aja lo kalau ngomong! emangnya ada apaan sih?"


"Gak ada hanya feeling."


"What the hell! hanya feeling doang? ogah gue." ucap Sinta dengan kesal namun detik berikutnya langsung berubah pikiran kala mengingat kembali kejadian demi kejadian yang telah dilalui. "Bukan tentang horor kan ki?" tanya Sinta kemudian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Tazkia.


Tazkia yang mendengar hal itu hanya diam dan mengangguk sedangkan Sinta ia langsung menggigit bibir bawahnya setelah melihat jawaban dari Tazkia barusan.

__ADS_1


Sinta kemudian lantas bangkit berdiri dan hendak melangkah pergi.


"Ayo ki, kita kembalikan sekarang!" ajak Sinta.


"Tumben nurut?"


"Dari pada nanti berujung masalah."


*********


Keduanya nampak serius memperhatikan jalanan sekitar sesuai dengan instruksi dari Sinta, bukan tanpa sebab mereka menatap dan mencari dengan serius, pasalnya sudah hampir sore hari mereka hanya berputar putar dan mengelilingi jalanan tanpa menemukan toko yang di maksud oleh Sinta.


"Sin yang bener dong kasih tunjuk jalannya, ini sudah kesekian kalinya nih kita muter muter doang." ucap Tazkia dengan kesal namun masih tetap melajukan mobilnya.


"Gue udah bener kali Ki, gue yakin kok kemarin sebelum ke rumah lo gue sempat mampir dan letaknya ada di sekitar sini." ucap Sinta sambil mengingat ingat.


"Ya kalau ada kenapa dari tadi kita hanya muter muter."


"Pasti ada, coba lebih pelan dikit." ucap Sinta lagi sambil menengok kanan kiri. "Gue yakin tepat di ujung jalan ini sepertinya Ki, dekat jembatan itu." ucap Sinta sambil menunjuk sebuah jembatan di depan mereka.


"Oke kita ke sana, awas aja kalau kali ini lo bohong." ucap Tazkia dengan nada kesal kemudian melajukan mobilnya ke arah yang di tunjuk oleh Sinta.


Tazkia menepikan mobilnya kemudian keluar dan menatap sekeliling untuk melihat apakah ada toko yang di maksud oleh Sinta.


"Sin lo ngerjain gue ya, mana tokonya? di sini hanyalah pohon beringin besar! ya kali tokonya tersembunyi di dalam pohon." ucap Tazkia.


Sedangkan Sinta yang mendengar omelan Tazkia lantas hanya menatap dengan penuh kebingungan, ia benar benar yakin bahwa toko itu kemarin ada dan lokasinya tepat di sebelah jembatan, tapi entah mengapa sekarang toko itu bahkan tidak ada di manapun dan berganti dengan pohon beringin besar.


"Gue yakin Ki, kemarin tokonya di sini!" ucap Sinta dengan kekeh.


"Ya sudah kalau lo memang yakin tokonya di sini, lo taruh aja cermin itu di sini siapa tahu nanti ketika kita pulang tokonya buka." ucap Tazkia dengan spontan karena kesal akan Sinta yang terus menerus kekeh tentang toko tersebut.


"Sepertinya ide bagus!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2