
Setelah sepakat untuk menyelesaikan misi tentang sosok hantu anak kecil penghuni sofa tersebut. Pagi pagi sekali Sinta, Aditya, Tazkia dan juga Prasetia sudah berangkat menuju ke salah satu daerah di Jawa barat. Mereka tidak tahu dengan pasti tempatnya di mana, hanya saja Tazkia yakin bisa menemukannya, bukankah mereka gila?
Keempatnya berangkat pagi untuk menghindari kemacetan yang mungkin akan terjadi di pagi hari. Prasetia mengendarai mobilnya perlahan dengan kecepatan yang sedang membelah jalanan ibu kota dan mulai masuk ke jalan tol. Suasana pagi itu benar benar masih sepi sedangkan matahari bahkan belum terlihat naik ke permukaan.
"Ki lo benar benar tahu tempatnya kan?" tanya Aditya tiba tiba yang lantas membuat yang lainnya menatap ke arah Tazkia dengan penasaran kecuali Prasetia yang hanya bisa menatap sekilas dari kaca spion karena sedang fokus menyetir.
"Enggak" jawab Tazkia dengan entengnya.
"Apa?" ucap Prasetia, Aditya dan juga Sinta secara bersamaan, membuat Tazkia langsung menutup kedua telinganya ketika mendengar teriakan ketiganya.
"Santai aja kali, kenapa kalian heboh?" tanya Tazkia dengan entengnya.
"Lo gak kira kira Ki, Jawa barat itu luas! ya kali kita susurin semuanya gabut amat kali lo!" pekik Aditya dengan kesal.
"Gue kan gak minta kalian susuri semuanya, cukup ikuti saja instruksi gue dan kita akan sampai ke tujuan." jawab Tazkia.
"Apa lo yakin Ki?" tanya Prasetia kemudian ikut menimpali pembicaraan mereka.
"Yap sangat yakin, nanti kalau umpamanya kita salah tujuan aku akan bawa kalian kembali dengan secepat kilat deh tanpa kemacetan atau perjalanan yang jauh." ucap Tazkia sambil tersenyum dengan cerah.
"Caranya?" tanya Sinta dengan penasaran.
"Teleportasi" jawab Tazkia dengan singkat.
"Jika lo bisa, harusnya gunain dong... kan kita gak harus menempuh perjalanan yang jauh seperti ini." protes Aditya.
"Gak bisa Dit, akan sangat aneh jika gue menggunakannya terlalu sering lagi pula sekarang terlalu banyak kamera pengawas di mana mana. Dan satu hal yang harus lo catet, gue hanya bisa memindahkan orang bukan barang berat seperti mobil ini contohnya." ucap Tazkia menjelaskan.
__ADS_1
"Apa lo tidak pernah mencobanya Ki?" tanya Sinta lagi.
"Pernah dan berakhir dengan gue yang langsung jatuh sakit karena energi yang terkuras terlalu banyak." ucap Tazkia sambil mengingat ingat.
"Jika begitu maka jangan lakukan karena itu akan sangat berbahaya." ucap Prasetia kemudian yang di balas anggukan oleh Tazkia dan lainnya.
**
Setelah berkendara selama kurang lebih satu jam setengah lamanya keempatnya sampai di Jawa barat dengan selamat. Tazkia terus menuntun Prasetia untuk terus masuk ke dalam daerah yang jauh dari kota, lebih tepatnya semakin masuk ke pelosok. Sempat beberapa kali keempatnya singgah hanya untuk mengisi perut mereka ataupun mengisi bahan bakar setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.
Prasetia mengendarai mobilnya semakin masuk ke dalam jalan raya namun dengan pemandangan bukit dan juga pepohonan di kanan kirinya, benar benar masih terlihat asri tanpa adanya gedung gedung perkantoran maupun polusi udara yang di timbulkan oleh asap kendaraan dan juga pabrik pabrik besar.
Kali ini Tazkia benar benar bergantung pada feeling dan juga ingatannya yang ia dapat ketika sosok hantu anak kecil tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Sedangkan yang lainnya hanya mengikuti instruksi Tazkia saja sedari tadi tanpa mengeluh ataupun menolak. Sepertinya ketiganya menikmati pemandangan yang tersaji secara gratis di sepanjang perjalanan mereka. Maklum anak kota kalau masuk desa pasti akan terlihat sangat takjub bukan?
"Kita kemana lagi setelah ini Ki?" tanya Prasetia kemudian ketika melihat tak jauh dari sana ada persimpangan jalan.
"Apa lo yakin Ki? di sini hanya tinggal jalan setapak gue takutnya nanti kita tersasar dan masuk ke hutan." ucap Prasetia sambil masih fokus menatap ke arah jalanan.
"Jika mengikuti jalanan ini seharusnya tak jauh dari sini kita akan menemukan Rumah Sakit Jiwa, jadi lo tidak perlu khawatir kita akan tersesat." ucap Tazkia menenangkan.
"Baiklah jika begitu." ucap Prasetia lagi.
Prasetia terus melajukan mobilnya membelah jalanan setapak yang terlihat semakin rimbun dengan semak belukar di sisi kanan dan kiri jalannya. Hingga kemudian sesuai dengan ucapan Tazkia barusan tak jauh dari tempatnya Prasetia melihat ada sebuah bangunan seperti gedung Rumah Sakit berdiri gagah di antara rimbunnya pepohonan yang mengitari bangunannya.
"Benar benar ada rumah sakit di tengah hutan ternyata ya?" ucap Aditya dengan excited.
"Benar, mungkin rumah sakit tersebut sengaja didirikan di sini sebagai bentuk pemulihan bagi beberapa pasien yang mengidap gangguan jiwa." ucap Sinta berpendapat.
__ADS_1
"Yap seperti healing..." ucap Tazkia kemudian yang di balas anggukan oleh ketiganya.
Prasetia kemudian lantas memarkirkan mobilnya tak jauh dari lobi rumah sakit tersebut kemudian turun di ikuti oleh yang lainnya.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Prasetia yang lantas di ikuti tatapan Sinta dan juga Aditya ke arah Tazkia yang juga penasaran akan langkah selanjutnya yang harus mereka ambil.
"Kita masuk dan cari orang tua sosok anak kecil tersebut." ucap Kinara sambil melangkah mendahului ketiganya.
Melihat Tazkia yang mulai melangkah masuk baik Aditya, Sinta dan juga Prasetia lantas mulai mengikuti langkah kaki Tazkia masuk ke dalam Rumah Sakit tersebut.
**
Lobi Rumah Sakit
Setelah keempatnya masuk ke dalam, Tazkia kemudian mulai bertanya kepada bagian resepsionis tentang pasien yang bernama Darma.
"Baiklah kalian ikuti saya, saya akan membawa kalian untuk bertemu dengan pak Darma." ucapnya dengan ramah.
Dengan langkah yang perlahan keempatnya mulai mengikuti langkah kaki suster tersebut yang membawa mereka menuju ruangan Darma. Ketika melewati lorong lorong Rumah Sakit keempatnya melihat beberapa pasien tengah bermain maupun berjalan bebas berkeliling rumah sakit dengan tertawa riang yang mirip dengan anak anak. Meski letak Rumah Sakit ini terpencil dan jauh dari peradaban, jumlah pasien di rumah sakit ini cukuplah banyak dengan fasilitas yang terbilang lengkap dan tidak kalah dengan Rumah Sakit Jiwa yang ada di kota.
"Ternyata rumah sakit ini cukup besar juga ya?" batin Tazkia dalam hati sambil menatapi satu persatu bangunan serta interior Rumah Sakit tersebut.
Namun tiba tiba pandangan Tazkia terkunci pada sosok seseorang yang mirip sekali dengan Faris, Tazkia bahkan beberapa kali nampak terlihat menoleh untuk memastikan apakah seseorang yang lewat barusan adalah benar benar Faris atau bukan.
"Ada apa Ki?" tanya Prasetia ketika melihat Tazkia menghentikan langkahnya secara tiba tiba.
"Tidak ada, ayo jalan lagi." ucap Tazkia kemudian sambil menarik tangan Prasetia agar kembali jalan. "Mungkin aku hanya halusinasi saja karena saking kangennya." ucap Tazkia dalam hati.
__ADS_1
Bersambung