
Seperti janji Rita yang akan melakukan penyembuhan serta pembersihan, Tazkia digiring diajak ke halaman belakang. Tazkia dan juga Faris yang tidak tahu apa apa tentang penyembuhan yang di maksud oleh Rita hanya diam mengikuti semua instruksi dari Rita.
Ketika sampai di halaman belakang Tazkia mendapati sebuah meja yang terdapat kendi air yang berisikan bunga setaman dengan gayung yang terbuat dari batok kelapa. Melihat hal itu tentu saja Tazkia dan juga Faris saling pandang satu sama lain dengan tatapan saling bertanya.
"Duduklah di sana! kita akan memulainya." ucap Rita dengan singkat.
"Em apa kau yakin ini bisa membantu? bukankah harusnya Kia di bawa berobat ke rumah sakit saja, aku yakin tak jauh dari sini ada klinik atau semacamnya bukan?" ucap Faris mencoba memberikan pendapat.
"Jika kamu hanya akan mengganggu sebaiknya kamu pergi saja ke dalam biar saya yang mengurus segalanya." ucap Rita dengan ketus.
"Tapi bukankah ini terlalu berlebihan?" ucap Tazkia yang juga merasa aneh dengan cara yang digunakan oleh Rita.
"Ini tidak akan lama nona, sebaiknya anda diam jika ingin sembuh." ucapnya lagi sambil menuntun Tazkia agar kembali duduk.
Tazkia pada akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti Rita, sedangkan Faris hanya menyaksikan semua prosesinya dari jauh.
Perlahan Rita mengaduk air yang di dalam kendi sambil berkomat kamit seperti tengah membaca sesuatu, diangkatnya pelan gayung yang terbuat dari batok kelapa itu dan di siramkan ke kepala Tazkia sedikit demi sedikit sebanyak tiga kali, setelah itu gayung tersebut kembali dimasukkan ke dalam kendi dan diaduk lagi sebagaimana tadi.
"Mungkin ini akan agak sakit nona." ucapnya lirih membuat Tazkia lantas menggigit bibir bagian bawahnya ketika melihat gayung itu semakin mendekat dan hendak di tuang pelan ke lukanya.
Crass
Terasa sangat perih dan seakan menyayat masuk melalui pori pori kulit Tazkia. Ia meringis menahan sakit akibat siraman air itu sedikit demi sedikit.
Dalam rasa nyeri yang ia rasakan samar samar Tazkia seperti melihat asap keluar perlahan dari luka itu. Tazkia menggoyangkan kepalanya perlahan mencoba menstabilkan pandangan karena ia mengira apa yang dilihatnya barusan hanyalah halusinasi atau malah efek dari pantulan cahaya.
Setelah beberapa kali siraman Rita menghentikan gerakannya, ia melangkahkan kakinya mengambil handuk dan memakaikannya ke tubuh Tazkia yang sudah basah, ia lalu mengambil dedaunan yang cukup panjang dan menaruh beberapa tumbukan daun, semacam tanaman obat di dalamnya kemudian dibalurkan ke tangan Tazkia. Sebagai gerakan finishing Rita menutup luka Tazkia dengan daun berukuran cukup lebar yang diikat dengan menggunakan benang berwarna merah.
__ADS_1
"Sudah selesai nona, jangan buka ikatan ini sebelum petang." ucap Rita kemudian melenggang pergi masuk ke dalam villa.
*****
Sementara itu mobil yang di kendarai oleh Aditya perlahan memasuki area bak hutan, di mana kanan dan kirinya adalah pepohonan tanpa adanya pemukiman sama sekali.
"Cepatlah sedikit Dit, setidaknya kita harus sampai di sana sebelum petang." ucap Prasetia mengingatkan.
"Iya cerewet banget sih, gue juga udah ngegas nih." ucap Aditya dengan kesal karena Prasetia hanya mengomel sedari tadi.
Waktu terus berlalu dengan cepat sementara mobil yang ditumpangi oleh Aditya, Sinta dan juga Prasetia tak kunjung keluar dari hutan, malah semakin masuk ke dalam dengan jalan yang semakin sempit dan berganti dengan tanah bebatuan bukan aspal seperti sebelumnya.
"Dit lo yakin ini jalannya?" tanya Prasetia karena ia tak kunjung mendapati jalan raya kembali atau bahkan perkampungan di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Yakin, kalau sesuai dengan alamat yang di berikan tante Arini emang tempatnya sedikit pelosok dan masuk ke dalam, kita tadi juga udah searching juga bukan? jadi santailah sedikit tidak usah terlalu parno, biarkan aku fokus menyetir." ucap Aditya mencoba menenangkan Prasetia meski sebenarnya ia juga tidak terlalu yakin dengan jalan yang ia ambil. "Apa tadi gue salah jalur ya? perasaan sudah bener deh, harusnya tanya Tazkia dulu mungkin itu lebih baik." ucap Aditya dalam hati sambil mengingat ingat dan mencoba untuk tetap bersikap tenang.
**
Hingga mendadak bunyi letusan terdengar di telinga ketiganya membuat mereka terkejut akan suara itu, Aditya menepikan mobilnya untuk mengecek suara apa barusan, mungkin entah apes atau nasib sial ban depan sebelah kiri meletus membuat Aditya menatap dengan frustasi.
"Bagaimana?" tanya Prasetia yang ikut keluar mengecek keadaan.
"Bannya meletus, kita harus secepatnya mengganti dengan ban serep di belakang sebelum malam." ucap Aditya yang di balas anggukan oleh Prasetia.
Keduanya kemudian lantas berjalan ke bagian belakang mobil untuk mengambil ban serep sedangkan Sinta menunggu di dalam mobil.
"Pras lo tadi lihat kan ada ban serep di sini?" tanya Aditya tiba tiba yang sedikit heran karena ban serep mobilnya mendadak menghilang, padahal Aditya yakin sudah mengeceknya berulang kali sebelum keberangkatan mereka menuju villa nenek Tazkia.
__ADS_1
"Gak usah pura pura deh lo Dit, gak lucu tahu.. lo pasti lupa kan?" tebak Prasetia dengan nada yang langsung menyindir, seperti ini sudah sering menjadi kebiasaan Aditya.
"Gak usah asal nuduh deh, gue yakin tadi udah gue check berulang kali dan semua lengkap. Sekarang lo pikir aja deh ngapain gue ngajak lo ganti ban serep kalau jelas jelas gue gak bawa bannya?" ucap Aditya sambil menunjuk kepalanya dengan jarinya seakan mengisyaratkan Prasetia agar berpikir secara logika.
"Terus kemana? gak mungkin hilang gitu aja ya kali gelinding waktu diperjalanan." ucap Prasetia tak mau kalah.
Sementara Sinta yang tengah berada di dalam mobil lantas langsung keluar kala mendengar suara ribut ribut di luar mobil.
"Kalian lagi ngeributin apa sih?" tanya Sinta dengan penasaran menatap keduanya secara bergantian.
"Sin lo tadi lihat ada ban serep disini kan?" tanya Aditya langsung pada intinya.
"Iya kenapa?" tanya Sinta balik sambil menatap bingung ke arah Prasetia dan juga Aditya.
"Ban mobil kita meletus dan tidak ada ban serep di sini." ucap Prasetia menjelaskan dengan nada yang datar.
"Bagaimana bisa? jelas jelas tadi gue masih melihatnya, gak mungkin jatuh atau menggelinding bukan?" ucap Sinta yang tidak percaya akan ucapan keduanya.
"Nah kan! bukan hanya gue yang lihat Sinta juga lihat!" ucap Aditya dengan girang seakan mendapat bantuan pembelaan dari Sinta.
"Sudahlah gak perlu di teruskan, sekarang yang jadi pertanyaannya gimana kita mau ganti bannya jika ban serepnya tidak ada?" ucap Prasetia kemudian.
"Kita coba cari pertolongan aja, siapa tahu ada bengkel di sekitar sini." ucap Aditya.
"Terserah" jawab Prasetia dengan malas, karena dengan melihat keadaan sekitar saja yang penuh dengan pepohonan sungguh mustahil ada bengkel di tengah tengah hutan seperti ini.
Bersambung
__ADS_1