
Sore harinya sesuai dengan instruksi dari Prasetia tadi pagi, satu persatu dari mereka mulai berkumpul di ruang tengah dengan posisi duduk beralaskan karpet.
Harum makanan mulai tercium di indera penciuman mereka, memaksa cacing cacing diperut mulai berdemo minta untuk diisi.
Tazkia dan Sinta menyajikan satu persatu masakan yang mereka buat menuju ruang tengah untuk di santap bersama, kali ini Tazkia memasak cah toge, tuna kaleng asam manis dan juga tumis mie goreng yang di campur dengan sayur kol.
" Wih enak nih kayaknya." ucap Aditya dengan semangat.
Masakan yang Tazkia masak kali ini sebagian bahannya seperti sayuran, ia dapat dari warga tadi siang yang dengan baik hatinya memberi mereka beberapa sayuran untuk mereka olah menjadi masakan.
" Maaf kalau kurang enak, gue gak terlalu jago masak soalnya." ucap Tazkia.
" Santai aja ki masih masuk kok rasanya." ucap Prasetia.
Setelah makan makan agenda selanjutnya yaitu diskusi tentang planning esok hari, sebenarnya cukup molor dari waktu yang di sepakati karena tadi mereka harus mengisi perut terlebih dahulu.
" Jadi besok kita akan mulai berpencar terlebih dahulu untuk mengetahui lingkungan sekitar, gue dan juga Tazkia akan pergi menemui mbah untuk bertanya tanya seputar pendidikan di sini, sedangkan Aditya, Sinta, Aldo, dan juga Doni kalian bisa berkeliling dan bersosialisasi di rumah rumah warga tentang pentingnya pendidikan sejak dini." ucap Prasetia.
" Lalu apakah kita langsung mulai pembelajaran di setiap rumah warga Pras?" tanya Sinta.
" Mungkin kurang efisien jika kita harus mengajar secara satu persatu di setiap rumah yang kita singgahi, besok aku akan sekalian menanyakan kepada mbah tempat yang pas yang bisa kita gunakan sebagai sekolah dadakan." ucap Prasetia.
" Ya mungkin itu lebih baik." timpal Tazkia.
" Lalu bagaimana pendapat kalian Al, Don?"
" Kita ngikut kalian aja." jawab Aldo yang di balas anggukan oleh Doni.
" Baiklah kita sudah membuat keputusannya, jadi aku harap semoga program kita kali ini berjalan dengan lancar." ucap Prasetia dengan semangat.
__ADS_1
*********
Tak terasa hari mulai petang satu persatu mulai sibuk dengan urusan mereka sendiri sendiri. Prasetia dan Aditya sibuk mengobrol, Aldo dan Doni seperti biasa mereka asyik menyendiri dan mengobrol berdua tanpa berniat untuk berbaur bersama Prasetia dan juga Aditya.
Berbeda halnya dengan Tazkia, ia sedang asyik di dapur menyeruput wedang jahe kesukaannya, Faris benar benar tahu betul dengan minuman favoritnya, ia tidak menyangka Faris akan menyiapkannya sendiri agar bisa ia bawa ke perjalanan kali ini.
Di saat Tazkia sedang asyik meminum wedangnya dengan sesekali berbalas pesan dengan Faris ( butuh waktu lama untuk sekedar berbalas pesan karena memang di desa tersebut susah sekali mencari sinyal) entah itu halusinasinya atau apa Tazkia tiba tiba saja melihat Sinta berjalan cukup cepat menuju keluar rumah melalui pintu belakang. Melihat Sinta yang pergi ke luar Tazkia lantas bangkit dan hendak menyusulnya karena ia takut Sinta akan tersesat nantinya.
" Lo mau ke mana ki?"
Tazkia yang mendengar hal itu tentu saja langsung diam mematung tepat di tengah pintu, suara itu benar benar tidak asing di pendengarannya, ia tahu betul bahwa suara yang bertanya di belakangnya adalah Sinta.
" Jika itu Sinta lalu yang di belakang gue ..." ucap Tazkia sambil menelan salivanya kasar, ia kemudian lantas berbalik badan dengan perlahan untuk memastikan bahwa itu benar benar Sinta.
Namun ketika ia berbalik badan lagi lagi Tazkia di buat tercengang karena tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya, Tazkia perlahan mulai menatap ke sekeliling mencoba mencari apakah ada penampakan yang tak sengaja muncul di sana, sampai kemudian tepukan dari arah belakang mengagetkan dirinya yang tengah berdiri di tengah pintu.
" Gak baik ki malam malam di tengah pintu kayak gini, pamali tahu." ucap Sinta sambil menggeser tubuh Tazkia agar tidak menghalangi jalannya.
" Iya habis buang sampah."
" Seriusan lo?" tanya Tazkia masih tidak percaya.
" Dua rius malahan, ada apa sih?"
" Mungkin gue lelah kali ya, jadi agak ngehalu." ucap Tazkia dalam hati.
Baru saja Tazkia hendak bertanya lagi pada Sinta, tiba tiba saja terdengar suara arak arakan seperti tengah berkeliling layaknya patrol untuk membangunkan sahur.
" Waktunya untuk tidur, segera kunci pintu dan kamar kalian! pastikan untuk tidur sebelum jam 11."
__ADS_1
Dong dong dong
Mendengar suara seruan itu Tazkia dan Sinta lantas saling pandang satu sama lain, detik berikutnya Tazkia menginstruksikan kepada Sinta untuk mengunci seluruh pintu dan juga jendela yang ada di rumah tersebut, setelah memastikan bagian belakang aman Tazkia mengajak Sinta untuk ke tengah berkumpul dengan yang lainnya.
" Kalian denger seruan barusan?" tanya Tazkia ketika sampai di ruang tengah.
" Iya, ada yang aneh dengan desa ini." ucap Prasetia.
" Bukankah tempo hari Aldo mengatakan hal yang serupa kepada kita." ucap Aditya yang langsung membuat semua orang yang ada di situ menoleh ke arah Aldo secara bersamaan karena penasaran.
Aldo yang di tatap lantas menghela nafas panjangnya sebelum kemudian hendak memulai untuk bercerita.
" Aku tidak tahu pastinya, hanya saja semua larangan yang aku katakan kemarin sudah tersebar luas di jagat maya. Ada beberapa orang yang memang mengatakan alasannya dengan gamblang namun tentang kebenarannya tentu saja tidak ada orang yang mengetahuinya." ucap Aldo.
" Memang apa alasannya?" tanya Sinta dengan penasaran.
" Ada yang mengatakan bahwa tepat pada pukul 12 malam, di saat malam mulai larut samar samar akan terdengar alunan suara gamelan tepat dari arah tengah hutan, jika kalian mengikuti suara alunan gamelan itu maka kalian akan langsung menghilang tanpa jejak, ada juga yang mengatakan bahwa jika kamu mengikuti arah alunan gamelan itu kamu akan menjumpai hantu penari dengan wajah yang menyeramkan, entahlah terlebih benar atau tidaknya belum pernah ada satu orang pun yang membuktikan atau bahkan hanya sekedar mengikuti suara alunan gamelan itu." jelas Aldo panjang kali lebar kali tinggi.
" Lo tahu banyak ya tentang hal hal begituan." ucap Aditya.
" Ya, karena gue dan Doni menyukai hal hal yang berbau mistis." ucapnya yang di balas anggukan oleh Doni.
" Tapi btw, apakah itu sungguh nyata? maksud gue suara gamelan dan juga penari itu?" tanya Aditya.
" Aku juga tidak tahu."
Beberapa menit kemudian suara patroli itu mulai terdengar kembali di depan rumah, sepertinya beberapa warga tahu bahwa sekelompok mahasiswa memang tidak akan mempercayai hal begituan, itulah sebabnya mereka lebih banyak berkeliling di sekitar rumah yang menjadi tempat tinggal mahasiswa, kemudian barulah pulang sebelum pukul 12 malam.
" Sepertinya kita memang harus sudah pergi tidur malam ini." ucap Prasetia.
__ADS_1
Bersambung