
"Bukankah ini aneh?" tanya Prasetia setelah menge-pause vidio tersebut.
"Apanya yang aneh sih Pras? mungkin orang itu adalah orang jalanan yang kurus kering sehingga seperti tengkorak begitu." ucap Aditya.
"Ayolah Dit, orang awam juga tahu kali... banyak yang janggal pada mayat itu, iya kan Ki?" ucap Prasetia.
"Lo benar Pras ada yang aneh dari mayat itu."
"Kalian yang aneh." ucap Aditya masih menyangkal tuduhan keduanya.
"Masalahnya gini ya Dit, semalam pas gue mau temenin lo bikin minuman hangat gue lihat Sinta masuk dari pintu depan, logikanya ngapain Sinta malam malam keluar rumah tanpa ngajak kita? gak hanya itu gue juga denger Sinta tertawa sambil menatap ke arah peti di kamar nyokap nya Kia, dan yang lebih aneh lagi mayat itu meninggal dalam keadaan seperti di serap habis kehidupannya oleh seseorang yang tentu saja mendalami ilmu hitam atau sejenisnya." jelas Prasetia panjang kali lebar.
"Tapi...gak logis dong kalau lo langsung nuduh Sinta gitu aja, gimana kalau pelakunya orang lain? yang ada jatuhnya fitnah." ucap Aditya kekeh.
"Ucapan Pras ada benarnya juga, gue gak nuduh Sinta pelakunya hanya saja Sinta sedikit aneh belakang ini, semalam pas tengah malam Sinta sisiran, gue lihat wajah Sinta pucat banget seperti mayat hidup, pas gue tanya apa dia sakit? dia bilang baik baik aja, dan asal lo tahu pagi harinya pas gue bangun tidur Sinta kembali sudah duduk di cermin rias sambil sisiran namun pagi itu dengan wajah yang lebih fresh dan cantik, lo tahu seperti auranya benar benar terpancar." imbuh Tazkia.
"Tapi..." ucap Aditya hendak menyangkal namun terpotong.
"Stop deh dit, bukan kita memojokkan Sinta hanya saja semua bukti dan petunjuk mengarah padanya, dari pada kita hanya berspekulasi dan saling ribut mending kita cari buktinya sama sama nanti." ucap Tazkia kemudian.
"Gue setuju." ucap Prasetia.
"Oke" ucap Aditya pada akhirnya.
Disaat ketiganya sedang berdiskusi dengan serius, dari arah dalam Sinta tiba tiba saja muncul dan mengagetkan ketiganya.
"Apanya yang setuju?" tanya Sinta tiba tiba dengan nada yang datar membuat Prasetia, Tazkia dan juga Aditya kelabakan.
"Se...tuju untuk Pras bikin cemilan, udah lapar banget soalnya, ya gak Dit?" ucap Sinta berdalih sambil memberi kode kepada Aditya untuk ikut berakting.
"Oh iya cemilan." ucap Aditya kemudian.
"Gue ke dapur dulu ya mau buat cemilan." ucap Prasetia kemudian melenggang pergi menuju ke arah dapur.
*******
Malam harinya.
Ketika hendak pergi tidur ke kamarnya, ketiganya lantas berkumpul sebentar di ruang makan untuk membahas hal yang tadi siang mereka bicarakan bersama.
"So malam ini kita jadi detektif?" tanya Aditya sambil menatap ke arah Prasetia dan juga Tazkia secara bergantian.
__ADS_1
"Lo yakin hari ini Pras? masalahnya gue lihat Sinta gak sepucat semalam." tanya Tazkia yang tidak yakin.
"Kita coba aja dulu, kalau gak sekarang mungkin besok atau lusa." ucap Prasetia.
"Pokoknya hanya tiga kali kesempatan ya, gue gak mau hanya gara gara masalah ini hubungan persahabatan kita jadi renggang." ucap Aditya.
Setelah selesai berdiskusi ketiganya lantas kembali ke kamar masing masing untuk memulai rencana mereka.
**
Tepat pukul 12 malam.
Seperti biasa Tazkia melihat Sinta tengah menyisir rambutnya tanpa penerangan di depan cermin rias miliknya.
"Kok gue gak yakin kalau Sinta akan melakukannya hari ini." ucap Tazkia sambil sesekali melirik ke arah cermin riasnya. "Coba aja dulu siapa tahu hari ini."imbuhnya lagi sambil kembali melirik ke arah meja riasnya namun kali ini Sinta sudah tidak ada di sana.
Tazkia yang terkejut sekaligus panik karena takut kecolongan langsung bangkit dan menyapu sekeliling dengan pandangannya mencari keberadaan Sinta.
"Apa kau mencari ku?" tanya Sinta tiba tiba tepat di sebelah telinga kanan Tazkia dengan nada yang berbisik.
"Astaga Sin lo ngagetin gue tahu gak, ngapain sih lagian lo mendadak muncul mendadak hilang kayak kurang kerjaan." gerutu Tazkia yang terkejut karena keberadaan Sinta.
"Hihihihihihi."
"Hihihihihihihi."
"Udah tidur sana udah malam." ucap Tazkia kemudian berbaring dan membelakangi Sinta. "Gue bilang juga apa, gak bakal hari ini deh." ucapnya kemudian dalam hati.
****
Keesokan paginya di meja makan, ketiganya nampak kelelahan dengan kantung mata yang tebal di area bawah mata.
"Gila lo, sia sia gue begadang semalaman." gerutu Aditya.
"Sabar, gak semudah itu kali jadi detektif." ucap Tazkia sambil menguap karena mengantuk.
"Masih ada nanti malam kan?" ucap Prasetia.
"Lagi?" tanya Aditya dengan tatapan mlongo.
"Ya mau bagaimana lagi." ucap Prasetia kemudian.
__ADS_1
Di saat ketiganya berbincang ponsel Tazkia berdering membuat Aditya dan juga Prasetia lantas menghentikan ucapannya.
"Gue angkat telpon dulu ya." ucap Tazkia yang di balas anggukan oleh Aditya dan juga Prasetia.
"Halo"
"Halo maaf aku baru bisa ngabarin kamu soalnya rumah sakit lagi keos banget apalagi semenjak kedatangan mayat itu, apa kamu melihat beritanya?" ucap Faris berkeluh kesah.
"Ya aku melihatnya kemarin? kalau boleh tahu apakah dia memang terkena busung lapar atau penyakit tertentu?" tanya Tazkia ragu ragu.
"Dari hasil laporan otopsi mengatakan tidak ada penyakit tertentu yang di alami pasien, hanya saja ada satu hal yang membuat kematiannya terkesan aneh dan menggemparkan, dalam dompet korban tertera usia biologisnya adalah 40 tahun sedangkan kenyataannya malah sebaliknya." ucap Faris menjelaskan.
"Lalu?"
"Sejauh ini masih terus di selidiki, pihak kepolisian menduga bahwa korban memalsukan kartu penduduk dan identitasnya, tapi jika menurutkan itu tidak mungkin, karena meskipun kamu memalsukan identitas mu setidaknya foto diri akan tetap sama bukan? tidak seperti sekarang mereka sungguh tampak seperti dua orang yang berbeda, lebih tepatnya seperti kakek dan seorang cucunya."
"Kamu benar, ada yang tidak beres dengan korban itu."
"Apa kamu mengetahui sesuatu Ki?" tanya Faris menebak.
"...."
Disaat Tazkia bingung akan menjawab apa pertanyaan Faris, terdengar suara seorang suster memanggilnya.
"Kita sambung lagi nanti ya Ki, ada pasien yang harus aku cek." ucap Faris kemudian.
"Tentu"
"Love you"
"Love you too" ucap Tazkia kemudian terdengar sambungan telpon terputus.
"Sudah gue duga." ucap Tazkia setelah sambungan telponnya terputus.
Tazkia kemudian lantas bergegas menuju ke arah kamar orang tuanya ketika teringat dengan cermin itu.
"Mau kemana lo Ki?" tanta Aditya yang melihat langkah Kia terburu buru.
"Ke kamar nyokap" ucap Tazkia setengah berteriak sambil berlalu.
Aditya dan Prasetia lantas saling pandang, detik selanjutnya mereka berdua ikut bangkit dan menyusul Tazkia menuju kamar orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung