
Setelah menerima telpon dari ibunya pada akhirnya mau tidak mau Prasetia lantas mengijinkan Melisa untuk menginap di rumahnya.
"Kan apa ku bilang... Bude pasti menyetujuinya." ucap Melisa sambil tersenyum dengan lebar.
"Terserah padamu yang jelas jangan ganggu aku." ucap Prasetia pada akhirnya.
****
Malam harinya
Prasetia terlihat tengah terlelap mengarungi pulau impiannya dengan hati yang bahagia karena mimpi indah. Tanpa Prasetia sadari perlahan pintu kamarnya mulai terbuka sendiri, di mana tak lama setelah itu memperlihatkan boneka yang tadi di bawa oleh Melisa berjalan mendekat ke arah Prasetia.
Hahahaha
Suara tawa itu mulai terdengar nyaring seiring langkah boneka tersebut. Ditariknya perlahan selimut yang menutupi badan Prasetia hingga sampai ke pinggang. Prasetia yang merasa dingin lantas terbangun kemudian menarik kembali selimut tersebut hingga menutupi tubuhnya lagi.
Melihat Prasetia barusan yang belum sadar akan kehadirannya, boneka tersebut lantas tertawa kemudian dengan usilnya kembali menarik selimut Prasetia sampai ke bawah. Prasetia yang memang sedang asyik asyiknya tidur, ketika selimutnya kembali terasa merosot lantas kesal dan berpikir bahwa Melisa sedang mengerjainya kali ini.
"Mel hentikan!" teriak Prasetia sambil bangkit dari tidurnya namun ketika ia menatap ke arah sekeliling sama sekali tidak ada Melisa di sana kecuali pintu kamarnya yang terbuka.
Prasetia kemudian lantas bangun dan beranjak hendak ke kamar Melisa karena ia masih yakin Melisa lah yang sedang mengerjainya kali ini.
"Sudah ku duga kalau itu Melisa, buktinya boneka dekil ini ada di sini!" ucap Prasetia ketika melihat boneka tersebut ada di lantai kamarnya.
Prasetia mulai mengambil boneka tersebut dan langsung membawanya menuju ke kamar Melisa lalu membuka pintu kamar Melisa dengan kasar. Sekedar info, letak kamar yang di tempati Melisa dan juga Prasetia berdekatan, hanya di pisahkan oleh satu ruangan berisi alat alat olahraga yang biasa digunakan Prasetia untuk olahraga, sehingga Prasetia tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk menuju ke kamar Melisa.
"Mel kakak gak suka ya kalau kamu..." ucap Prasetia menggantung kala melihat Melisa tengah tertidur di ranjangnya dengan damai. "Apa dia sedang berpura pura?" batin Prasetia menerka nerka. sambil menatap ke arah ranjang Melisa.
*******
Keesokan harinya
Karena hari ini Prasetia ada kelas siang, jadilah ia membawa Melisa ikut serta dengannya ke kampus. Prasetia menatap kesal ke arah Melisa yang tengah berjalan di sebelahnya, sedangkan Melisa malah nampak acuh dan sibuk memandangi bagian bagian kampus seakan takjub dengan kemegahannya.
__ADS_1
"Ngapain sih kamu bawa boneka itu?" tanya Prasetia dengan kesal karena gara gara Melisa membawa boneka tersebut Prasetia dan juga Melisa sudah jadi pusat perhatian sejak tadi.
"Inikan boneka aku, ya suka suka aku lah!" ucap Melisa dengan ketus.
"Lagian kau itu sudah besar, boneka bukan lagi mainan mu." ucap Prasetia
Mendengar ucapan Prasetia barusan boneka itu terlihat tidak suka dan langsung menatap ke arah Prasetia dengan tatapan tajam. Prasetia yang memang sibuk mengomel dan tidak terlalu memperhatikan jalan lantas tersandung sesuatu hingga jatuh terduduk di lantai, padahal menurut Prasetia tidak ada apapun di sana, namun entah mengapa rasanya seperti ada yang menjegal kakinya.
"Syukurin mangkanya jadi orang jangan syirik." ucap Melisa sambil menjulurkan lidahnya dan terus melangkah meninggalkan Melisa.
Prasetia perlahan bangkit sambil termenung, entah mengapa rasanya ada beberapa keanehan yang terjadi padanya sejak semalam namun ia tidak tahu apa itu.
"Ada apa dengan gue sebenarnya akhir akhir ini? mengapa rasanya aneh ya?" batin Prasetia.
**
Kantin
Prasetia dan juga Melisa lantas melangkahkan kakinya menuju ke meja yang sudah diisi oleh ketiga temannya itu.
"Anak siapa nih Pras? lucu amat pakai bawa boneka lagi." ucap Aditya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Melisa.
"Sepupu gue, titip ya kalau dia bandel jewer aja gak perlu sungkan." ucap Prasetia dengan nada santainya.
"Kakak!" teriak Melisa dengan kesal.
"Santai aja Pras lo bisa pergi ke kelas dengan tenang." ucap Sinta kemudian, sedangkan Tazkia hanya fokus menatap ke arah boneka yang di bawa oleh Melisa sedari tadi tanpa berkedip.
"Boneka itu ada isinya! jahat!"
Ucap Icha secara tiba tiba seakan mengiyakan firasat Tazkia barusan yang mengatakan ada sesuatu hal yang membuat boneka itu berbeda dari umumnya.
"Iya cha lo bener, apa lo tahu kenapa dia bisa jadi seperti itu." ucap Tazkia dalam hati yang tentu saja hanya bisa di dengar oleh Icha.
__ADS_1
"Aku tidak tahu penyebab pastinya, hanya saja itu dapat terjadi ketika arwah tersebut ingin menuntut balas atas kematiannya yang tidak wajar."
Disaat Tazkia dan juga Icha sedang berkomunikasi, Aditya yang melihat Tazkia hanya menatap lurus ke arah boneka itu lantas dengan iseng menepuk bahu Tazkia dengan kencang.
"Aw Dit sakit!" teriak Tazkia kala mendapat pukulan dari Aditya barusan.
"Lo sih pakai acara melamun, kan gue takut lo kesambet." ucap Aditya dengan santainya membuat Tazkia di buat melongo mendengar jawaban Aditya barusan.
"Kampret lo!" ucap Tazkia dengan kesal.
"Maaf ya Mel, teman teman kakak agak berisik. Kenalin kakak Sinta, ini kak Kia dan yang paling tengil itu kamu bisa memanggilnya kak Adit." ucap Sinta yang di balas senyuman oleh Melisa.
"Halo aku Melisa, senang bertemu dengan teman teman kak Pras." ucap Melisa dengan ramah.
"Mel boleh kakak tanya? dimana kamu dapat boneka itu?" tanya Tazkia dengan to the point yang membuat Aditya dan juga Sinta saling pandang satu sama lain ketika mendengar pertanyaan Tazkia barusan.
"Kenapa emangnya kak? apa kak Kia suka bonekanya?" tanya Melisa ketika mendapat pertanyaan tersebut.
"Tidak hanya saja kakak sedikit penasaran dengan boneka itu, sepertinya dia istimewa." ucap Tazkia berdalih.
"Benarkah kak, aku juga merasakan hal yang sama, hanya kak Pras yang menganggapnya boneka kucel." ucap Melisa dengan antusiasnya.
"Tapi bukankah ucapan Pras tentang boneka itu benar ya?" ucap Aditya karena memang ia tampak sependapat dengan Prasetia untuk masalah boneka itu.
"Boleh kakak pinjam?" tanya Tazkia kemudian, mungkin lebih tepatnya ia ingin mengetahui cerita kelam tentang boneka itu lewat sentuhannya.
"Tentu saja kak." ucap Melisa dengan senang hati sambil memberikan boneka itu.
Perlahan Tazkia mulai menerima boneka itu dan mencoba menerawang apa yang sebenarnya terjadi. Tepat ketika boneka tersebut berada di tangan Tazkia, sebuah penglihatan terlihat bermunculan. Hanya saja dengan waktu yang cepat dan saling berloncatan seakan akan sosok yang menghuni boneka itu tahu Tazkia ingin mengetahui sesuatu dari sentuhannya. Potongan demi potongan ingatan itu terus terkocok dan acak, membentuk sebuah kepingan puzzle yang membuat Tazkia bingung.
Tazkia yang tidak mendapat penglihatan apapun di sana, awalnya ingin memaksa untuk bisa masuk dan menerobos dinding pertahanan sosok tersebut. Hanya saja mendadak tangannya terasa melepuh seperti menyentuh sesuatu yan lancip dan juga panas.
"Aw..." teriak Tazkia kemudian sambil melempar boneka tersebut.
__ADS_1
Bersambung