Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Sosok menyerupai Faris ~ Misteri villa nenek #4


__ADS_3

Pagi harinya baik Prasetia, Sinta dan juga Aditya sudah bersiap masuk ke mobil hendak berangkat menuju ke villa neneknya Tazkia, padahal Arini jelas jelas meminta ketiganya berangkat akhir weekend atau hari ke empat setelah kepergian Tazkia, namun bukan anak muda namanya kalau menuruti ucapan orang tua, jadilah mereka bertiga memutuskan berangkat hari ini, seperti kebiasaan lama di mana semakin dilarangnya sesuatu semakin penasaranlah mereka, mungkin pepatah itu cocok untuk mereka.


"Apa lo yakin tante Arini tidak akan marah kalau kita berangkat sekarang?" tanya Sinta ragu ragu setelah berada di dalam mobil.


"Gue gak yakin juga sih, tapi bukankah semakin cepat semakin baik? lagi pula kita harus segera memperbaiki kesalahpahaman ini." ucap Aditya dengan santainya.


"Tapi kan..." ucap Sinta namun terpotong oleh Prasetia.


"Sudahlah Sin untuk kali ini kamu hanya perlu duduk diam saja oke?" ucap Prasetia menyela.


Dan pada akhirnya Sinta hanya bisa diam pasrah menuruti keinginan kedua laki laki ini tanpa banyak protes lagi hingga mobil yang di kendarai Aditya melaju membelah jalanan ibukota menuju villa neneknya Tazkia.


*****


Sementara itu di villa milik nenek Tazkia.


"Kemarikan tangan mu!" perintah Faris dengan tatapan yang tidak ingin di bantah.


"Tak apa" ucap Tazkia sambil menurunkan tangannya berharap Faris tidak memaksanya.


"Ki... aku tidak akan mengulanginya lagi! coba sini aku lihat." ucap Faris lagi dengan nada penuh penekanan.


Mendengar hal itu pada akhirnya dengan ragu ragu Tazkia mengangkat tangannya kembali ke atas meja, namun dengan wajah yang berpaling karena ia yakin sebentar lagi Faris pasti akan mengomelinya.


"Astaga Ki! kenapa sampai seperti ini? harusnya kamu bilang dari kemarin jangan hanya diam, bagaimana kalau lukanya infeksi? apa kamu menginginkan itu? harusnya kita sudah menseterilkannya dari kemarin? kamu ini ya benar benar...." ucap Faris panjang kali lebar kali tinggi seperti layaknya seorang emak emak yang sedang khawatir dan mengomeli anaknya.


"Inilah sebabnya aku tidak mau bilang, kamu bahkan lebih parah dari mamaku" ucap Tazkia bergumam namun masih bisa di dengar oleh Faris.

__ADS_1


Mendengar hal itu Faris menghela nafasnya panjang, sepertinya ia terlalu berlebihan barusan, tapi bukankah ini wajar khawatir pada wanita yang dicintainya? mana bisa Faris tenang ketika melihat Tazkia terluka.


"Ya sudah aku tidak akan memarahi mu lagi, kita obati saja lukanya." ucap Faris kemudian bangkit dan hendak masuk mengambil kotak P3 K.


Ketika Faris hendak melangkahkan kakinya memasuki villa suara Rita yang datang dari arah kebun menghentikan langkah kakinya.


"Luka itu tidak akan bisa di obati dengan obat obatan di kotak P3 K, biar saya yang menyiapkan dan mengobati luka anda nona." ucap Rita yang melangkah mendekat sambil membawa keranjang berisi sayur mayur.


"Bukankah ini hanya luka biasa? aku sungguh tak apa." tanya Tazkia karena merasa tak enak membuat khawatir orang orang, sedangkan Faris hanya menatap dengan bingung ke arah Rita mencoba mencerna perkataannya barusan.


Rita mendekat ke arah Tazkia dan melihat luka itu kemudian terdengar helaan nafas di sana.


"Nona sudah di tandai, apa nona sudah membuka segel eh maksud saya pergi ke daerah sumur tua?" tanya Rita menebak.


"Bagaimana dia bisa tahu?" tanya Tazkia dalam hati.


"Saya tahu apa yang ada dipikiran mu, saya harap untuk kali ini mohon kerjasama jika kamu masih ingin bersama nona." ucap Rita kemudian melenggang pergi dari sana.


Faris kembali mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Tazkia, keduanya nampak terdiam menyelami pikiran masing masing setelah mendengar perkataan dari Rita barusan.


Ditatapnya luka Tazkia dengan seksama dan memang itu bukan seperti luka pada umumnya, Faris kemarin sungguh yakin bahwa luka itu hanya goresan kecil saja bahkan Faris berpikir hanya dengan diolesi salep itu akan sembuh esok harinya, namun mengapa ketika pagi hari luka itu malah kian membesar dengan disertai lebam dan juga nanah di sekitaran lukanya, bagaimana mungkin dalam waktu hanya beberapa jam sudah menjadi seperti ini?


"Baiklah aku akan mencoba mempercayai ucapannya kali ini, karena aku yakin ada yang tidak beres sejak kedatangan ku dan juga Tazkia kemarin." ucap Faris dalam hati sambil terus menatap ke arah luka itu.


***


Siang harinya sambil menunggu Rita mempersiapkan segalanya Tazkia menyeduh dua cangkir teh bunga melati yang ia temukan di dapur villa, aromanya begitu harum hingga menyeruak memenuhi hidungnya, namun baru saja harum melati tercium dari sana mendadak bau bunga melati berganti menjadi bau busuk hingga membuat Tazkia spontan menutup hidungnya karena bau itu.

__ADS_1


"Siapa yang kentut? perasaan aku sendiri di sini? apa mungkin ada bangkai tikus?" tanya Tazkia pada diri sendiri.


Tepat setelah Tazkia mengatakan hal itu sebuah tangan kokoh nampak melingkar di perutnya, Tazkia yang tidak mengetahuinya lantas hampir saja menjatuhkan gelasnya jika tidak terdengar suara yang tak asing di pendengarannya.


"Baunya sangat harum." ucap Faris sambil menyenderkan dagunya ke bahu Tazkia.


Tazkia hanya tersenyum menanggapi tingkah Faris yang menurutnya masih wajar bahkan Tazkia sempat membelai kepala Faris dengan lembut ketika Faris menyenderkan kepalanya di bahu Tazkia, namun entah mengapa semakin lama Faris sedikit menjadi semakin brutal seperti dengan sengaja mengendus, menyesap bahkan menggigiti leher Tazkia. Tazkia yang merasa ini sudah berlebihan perlahan ia melepas pegangan tangan Faris yang melekat di area perutnya, namun entah mengapa terasa sangat sulit sekali dan begitu berat.


" Jangan bergerak!"


ucap Faris dengan suara berat membuat Tazkia seketika diam membeku karena menyadari bahwa ini bukanlah suara Faris.


"Lepaskan aku Faris!" ucap Tazkia setengah berteriak sengaja menyebut nama Faris berharap Faris yang asli mendengar dan datang ke sini.


Tak berapa lama tiba tiba dagu yang semula menopang ke bahu Tazkia perlahan seperti diangkat, sedangkan dari bayangan sebuah panci penggorengan yang tergantung tepat di depan Tazkia, terlihat sorot mata Faris yang merah menyala hingga membuat Tazkia terkejut dan tanpa sengaja menyenggol gelas teh hingga jatuh ke bawah dan berserakan.


"Ada apa Ki kok teriak teriak?" tanya Faris dari arah pintu sedangkan Tazkia hanya diam mematung memikirkan mata merah menyala dengan wujud yang menyerupai Faris barusan yang seakan lenyap setelah kedatangan Faris.


"Apakah kakimu terluka? sini pindah ke sini biar aku yang membersihkannya." ucap Faris yang melihat beberapa pecahan gelas di lantai, Faris kemudian lantas menuntun Tazkia agar duduk di kursi dekat mini bar.


Dengan gerakan perlahan Faris membersihkan pecahan gelas satu persatu kemudian mengepel sisa sisa teh yang menggenang di lantai.


Tazkia benar benar hanya terdiam mematung memikirkan makhluk apa yang barusan itu yang menempel bahkan sempat menciumi dirinya.


"Bagaimana bisa dia merubah bentuk menyerupai Faris? tanya Tazkia dalam hati sambil duduk diam termenung.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2