Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Apa kalian baik baik saja? ~Ular tangga keramat #3


__ADS_3

"Eh tapi kok becek? kaya basah basah gitu." ucap Aditya dengan masih meraba ke dalam perosotan, sambil mulai menarik benda itu dan mengeluarkannya.


Saat benda tersebut telah berhasil keluar dan di pegang oleh Aditya, samar samar Aditya melihat seperti potongan kepala manusia dengan darah segar yang membasahi seluruh bagian kepalanya, namun tidak terlalu jelas karena posisi lampu yang terus hidup dan mati.


"Ti... tidak mungkin kan..." ucap Aditya dengan gemetaran tapi masih tetap memegang benda itu.


Aditya mencoba menghilangkan semua pikiran buruknya yang terus berputar mengelilingi kepalanya, dengan gerakan yang perlahan di angkatnya sedikit benda itu kemudian di putar. Benar saja sesuai dengan apa yang tengah di bayangkan Aditya, benda yang berada di tangannya adalah kepala manusia dengan mata yang melotot tajam, tersenyum menyeringai ke arah Aditya.


Aditya yang tentu saja terkejut lantas langsung membuang kepala itu, lalu mengusapkan tangannya yang penuh noda darah ke bajunya. Aditya mulai mundur perlahan berniat untuk lari, namun sayangnya kepala yang ia lempar tadi tiba tiba menggelinding kemudian melayang menatap ke arah Aditya dengan tatapan tajam, Aditya yang melihat hal itu sudah tidak karuan lagi dan begitu menakutkan, namun entah mengapa mendadak mata yang tadinya melotot perlahan seperti memejamkan mata layaknya orang yang tengah tertidur.


Seseorang telah menemukan potongan kepala, bersembunyi dan larilah! jangan sampai kepala itu menemukan mu atau kau akan berakhir dengan nasib yang tragis sebelum permainannya kembali di mulai.


Suara itu terdengar jelas memenuhi ruangan itu, membuat yang lainnya lantas kebingungan karena tidak mengerti apa apa. Aditya yang mendengar seruan itu lantas langsung mengambil langkah seribu, pergi secepat mungkin dari kepala yang masih menutup matanya itu.


"Sialan!" gerutu Aditya sambil terus berusaha lari walau kakinya terasa gemetaran hebat.


*Posisi Sinta


Sama seperti Aditya, Sinta yang memang sedang mencari papan kayu itu di bagian rak buku sebelah selatan, lantas di buat terkejut dengan seruan yang baru saja terdengar menggema di ruangan itu.


"Kepala? kepala apa?" tanya Sinta pada diri sendiri, namun tentu saja tidak ada yang menjawabnya selain kesunyian.


Sinta yang memang tidak terlalu mendengar dengan jelas, lantas mencoba terus mencari papan kayu itu di sekitaran rak buku.


Wus

__ADS_1


Hembusan angin kencang terasa melintas di belakang Sinta secara tiba tiba, Sinta yang berpikir itu hanya angin lewat lantas kembali melanjutkan pencariannya. Hanya saja, dari arah belakang Sinta seperti merasakan ada yang melintas di belakangnya namun dengan gerakan cepat dan melesat, membuat Sinta dengan spontan langsung berbalik badan untuk melihat apa yang baru saja lewat di belakangnya.


"Apa barusan yang lewat?" batinnya dalam hati.


Bau anyir mendadak tercium di hidung Sinta membuat perutnya terasa mual dan ingin muntah hingga kemudian.


Halo


Ucap sebuah sosok kepala tanpa tubuh, tepat di depan muka Sinta dengan wajah yang menyeringai, disertai darah segar yang terus menetes pada lehernya. Sinta terdiam membeku melihat sosok di hadapannya, ingin sekali Sinta berteriak, hanya saja suaranya mendadak membisu membuat Sinta tak bisa mengeluarkan suara apapun walaupun ingin.


"Makhluk apa... ini?" batin Sinta dalam hati.


Melihat Sinta terdiam mematung, makhluk itu nampak tertawa dengan lantang membuat tubuh Sinta semakin terasa kaku dan sulit untuk di gerakkan.


Tidak berapa lama, sosok kepala tanpa tubuh itu lantas terlihat membuka mulutnya lebar lebar membuat Sinta lantas menelan salivanya dengan kasar. Sinta merasa seperti mati kutu berada di sini, tapi tidak bisa lari namun juga tidak bisa terus pasrah dan tetap berada di sini.


Sinta mencoba meronta sebisa mungkin agar tubuhnya terlepas dari sosok kepala tanpa tubuh itu. Namun sayangnya, semakin Sinta berusaha untuk memberontak sosok itu semakin menarik tubuh Sinta dan membenturkan tubuhnya berulang kali pada rak buku ke kanan dan ke kiri, hingga membuat buku buku di rak berjatuhan karena benturan itu.


Sampai kemudian...


Bug


Bunyi pukulan sangat keras terdengar, tepat dengan suara itu terjadi tubuh Sinta langsung jatuh ke bawah.


"Lo gak papa Sin?" tanya Tazkia sambil membantu Sinta untuk bangkit, sedangkan suara pukulan keras tadi ternyata berasal dari Faris yang memukul kepala tanpa tubuh itu menggunakan balok kayu.

__ADS_1


"Hanya sedikit terasa remuk, selebihnya masih oke." ucap Sinta sambil memegangi pinggangnya.


Tazkia kemudian lantas langsung membantu Sinta untuk bangkit dan menjauh dari sana secepat mungkin.


"Ayo pergi sekarang Cami!" ucap Tazkia setengah berteriak yang langsung di balas anggukan oleh Faris.


Faris nampak mulai terbiasa dengan panggilan aneh yang di berikan oleh Tazkia, namun sayangnya hal itu berbeda dengan Sinta yang baru mendengar panggilan itu.


"Siapa Cami Ki?" tanya Sinta sambil menatap sekilas ke arah Tazkia yang tengah memapahnya.


"Faris" jawabnya singkat namun Sinta masih saja tidak mengerti apa hubungannya Faris dan juga Cami. "Cami itu kepanjangan dari Calon suami, udah nanti aja bahas nya situasi lagi genting nih." imbuhnya lagi.


Baik Tazkia, Sinta dan juga Faris terus berlari dan bergerak mencari tempat persembunyian yang tepat, hingga kemudian terdengar suara lantang dari Prasetia yang langsung menghentikan langkah kaki mereka.


"Gue menemukannya!" teriak Prasetia dengan kencang.


Tepat setelah Prasetia berteriak dan mengatakan bahwa ia telah menemukan papan kayu tersebut, lampu ruangan kembali menyala dengan normal sedangkan sosok kepala tanpa tubuh itu menghilang begitu saja.


Melihat semua sudah kembali normal baik Aditya, Sinta, Faris, dan juga Tazkia lantas kembali berkumpul di tengah.


Ketika sampai di tengah Aditya langsung merebahkan dirinya ke lantai dengan nafas yang ngos ngosan disertai keringat yang bercucuran begitu pula Sinta, sedangkan Tazkia dan Faris langsung duduk tanpa banyak bicara seperti enggan untuk berkomentar.


Prasetia yang memang tidak tahu menahu mengenai apa yang terjadi pada teman temannya, lantas hanya menatap keempatnya dengan tatapan bertanya tanya, apalagi ketika melihat penampilan Sinta yang awut awutan dan tangan Aditya yang penuh dengan bercak darah yang telah mengering, membuat Prasetia semakin bingung akan apa yang sebenarnya terjadi.


Bukan karena Prasetia tidak mendengar teriakan temannya atau apa, hanya saja posisi kafe yang jaraknya cukup jauh, tepatnya di sebelah kanan ruang baca yang dipisahkan oleh sekat dinding tembok, namun tanpa pintu membuat Prasetia tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, apalagi mengingat cahaya lampu yang mati hidup tanpa henti membuat jarak pandang Prasetia tidak terlalu jelas.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi? apa kalian baik baik saja?"


Bersambung


__ADS_2