Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Sosok hantu anak kecil ~Mengapa aku dilahirkan #2


__ADS_3

Melihat tidak ada siapapun di sana membuat bulu kuduk Sinta kembali meremang. Sinta yakin ini bukan hanya sekedar halusinasinya saja.


"Ini benar benar sudah tidak beres." ucap Sinta kemudian melenggang pergi menuju kamarnya sambil membawa secangkir coklat panas di tangannya.


Sinta melangkahkan kakinya dengan terburu buru lalu menutup pintunya agak keras, bayangan tentang suara misterius itu terdengar jelas menggema di telinga Sinta membuat bulu kuduknya lantas berdiri seketika.


Setelah menaruh cangkir yang ada di genggamannya Sinta lantas mengambil laptop miliknya dan memulai panggilan vidio.


"Ada apa?" ucap Aditya di seberang sana sambil menatap Sinta dengan aneh dari layar ponselnya.


"Jutek amat sih Dit?" ucap Sinta kemudian.


"Gimana gak jutek, gue baru aja sampek tapi lo udah vidio call aja, kangen banget lo?" tanya Aditya dengan tatapan menelisik.


"GR lo, gue hanya minta di temani sebentar." ucap Sinta tidak menjelaskan detail alasannya. "Btw yang lain ke mana?" tanya Sinta karena baik Tazkia maupun Prasetia tidak ada yang mengangkat panggilan vidio darinya.


"Tazkia mungkin sedang asyik kencan, kalau si Pras masih mampir kali." jawab Aditya seadanya.


"Oh..."


Hening sesaat, sepertinya Aditya sedang melakukan panggilan vidio sambil mengerjakan tugasnya sehingga ia tidak banyak bicara namun masih menyalakan panggilan videonya.


"Dit" panggil Sinta


"Hem"


"Ngomong sesuatu kek Dit sepi nih." ucap Sinta yang melihat Aditya cuek bebek dan malah sibuk mengerjakan tugasnya.


"Diamlah Sin gue lagi sibuk nih." ucap Aditya dengan singkat tanpa menatap ke arah layar ponselnya sama sekali dan tetap fokus mengerjakan tugasnya.


"Ah gak asyik lo, lagi pula sejak kapan lo jadi kutu buku begitu? biasanya juga gak pernah ngerjain tugas." sindir Sinta yang lantas membuat Aditya mendongak menatap ke arah layar.


"Lo mah ya Sinta temannya di jalan yang bener bukannya ngedukung malah jadi setan lo. Udah ah malas gua bye...." ucap Aditya kemudian mengakhiri panggilan videonya begitu saja tanpa persetujuan dari Sinta sebelumnya, membuat Sinta lantas langsung menatap kesal ke arah layar laptopnya.


Sinta menaruh laptopnya begitu saja kemudian merebahkan dirinya di ranjang sambil menatap ke langit langit kamarnya.

__ADS_1


"Entahlah... lebih baik gue tidur saja." ucap Sinta kemudian.


**


Tepat tengah malam ketika suara detik jam terus berdetak di tengah keheningan malam, Sinta yang tengah tertidur lelap sayup sayup seperti mendengar suara langkah kaki tengah berlarian dengan cepat di depan kamarnya, membuat Sinta yang tadinya tertidur lantas langsung terbangun karena mendengar suara langkah kaki tersebut.


Sinta menajamkan pendengarannya dengan seksama, bukan karena apa, di jam jam segini Sinta takut yang sedang berada di luar adalah maling atau orang jahat. Dengan perlahan Sinta mulai bangkit dan mendekat ke arah pintu kamarnya, ada perasaan ragu dalam dirinya antara membuka pintu atau membiarkannya begitu saja dan pura pura tidak mendengarnya.


"Kok gue jadi deg degan?" ucap Sinta dalam hati sambil menyentuh dadanya berharap dapat menahan gejolak di dalam dirinya.


Digenggamnya gagang pintu dengan erat bersiap untuk membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang ada di luar.


Dok dok dok dok


Suara pintu di ketuk dari luar mengejutkan Sinta yang hendak membuka pintu kamarnya memastikan langkah kaki siapa tadi. Mendengar suara ketukan itu tentu saja membuat nyali Sinta menciut dan langsung kabur masuk ke dalam selimut dengan tubuh yang gemetaran.


Sinta memencet layar ponselnya dengan susah payah karena tangannya yang sedari tadi gemetaran dan sama sekali tidak bisa di ajak untuk berkompromi.


"Ayo dong Ki angkat... kenapa susah sekali sih!" gerutu Sinta di dalam selimut sambil terus berusaha mendial nomor Tazkia di ponselnya.


Sebuah tawa anak kecil kembali terdengar dan kali ini seperti berada di dalam kamarnya. Sinta terdiam menghentikan gerakannya yang sedari tadi berusaha untuk menelpon Tazkia. Diliriknya ke kanan dan ke kiri dari dalam selimut yang menutupi tubuhnya.


Peluh keringat dingin lantas mulai membasahi dahinya ketika dari balik selimut Sinta melihat seperti bayangan seseorang melintas ke kanan dan ke kiri dengan gerakan yang cepat.


"Ini tentu bukan manusia..." ucap Sinta lirih sambil menelan salivanya dengan kasar.


Sampai kemudian mendadak selimut miliknya mengembang dan dengan gerakan kilat seorang anak laki laki berwajah pucat berada tepat di bawah selimut bersama dengan Sinta sambil tersenyum menyeringai menatap ke arah Sinta.


Aaaaaaaaa


Teriak Sinta ketika melihat sosok hantu anak kecil tersebut, Sinta yang terkejut karena sosok hantu anak kecil tersebut tiba tiba saja muncul lantas dengan spontan bergerak mundur tanpa sadar bahwa ada tembok di belakangnya, membuat kepalanya sedikit terbentur dan berakhir dengan pingsan.


Sosok hantu anak kecil tersebut nampak menatap ke arah Sinta yang mendadak pingsan akibat benturan barusan.


Kenapa kakak malah tidur? padahal aku ingin mengajaknya main...

__ADS_1


Ucap sosok hantu anak kecil tersebut dengan polosnya sambil terus menatap ke arah Sinta kemudian menghilang tak berbekas dari kamar Sinta.


****


Keesokan paginya


Setelah Tazkia bersiap dan sudah rapi dengan pakaiannya, Tazkia lantas bergegas turun sambil memeriksa ponsel miliknya yang semalam ia matikan karena kesal dengan Faris, hanya gara gara kemarin gagal untuk membeli donat setelah selesai menonton. Sebenarnya bukan Faris tidak menuruti Tazkia hanya saja semalam ada telpon penting dari rumah sakit sehingga membuatnya harus membatalkan janji yang telah ia buat pada Tazkia. Ya mungkin Tazkia sedang dalam kondisi PMS sehingga membuatnya kesal hanya karena masalah yang sepele.


"Sinta? tumben banget telpon aku tengah malam, apa ada sesuatu ya?" ucap Tazkia kemudian bertanya tanya tentang alasan Sinta menelponnya semalam.


Karena rasa penasarannya Tazkia lantas menelpon kembali nomer Sinta di ponselnya.


Panggilan pertama...


Panggilan kedua...


Panggilan ketiga...


Namun Sinta tak kunjung menjawab panggilannya membuat Tazkia lantas khawatir akan keadaan Sinta saat ini.


"Sepertinya lebih baik aku langsung ke apartemennya saja sekalian jalan dan melihat keadaannya." ucap Tazkia ada akhirnya membuat keputusan.


**


Setelah memutuskan untuk pergi ke apartemennya Sinta, Tazkia lantas mulai melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju apartment Sinta.


Kia


"Ada apa cha?" ucap Tazkia ketika mendengar panggilan Icha yang tiba tiba muncul ketika ia sedang menyetir.


Ada hal yang belum aku beritahu padamu, sebenarnya ketika di apartment Sinta kemarin aku bertemu dengan sosok hantu anak kecil. Karena aku kasihan padanya aku mengijinkannya untuk tinggal di apartment Sinta asalkan dia tidak mengganggu Sinta.


Ucap Icha dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Tazkia, yang lantas membuat Tazkia menghentikan laju mobilnya dengan tiba tiba setelah mendengarkan pengakuan Icha barusan.


"Kenapa kamu baru bilang sih cha!" pekik Tazkia dengan nada yang kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2