
Hari ini Tazkia melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju rumah sakit tempat praktek Faris, bukan untuk medical check up atau tes kesehatan. Tazkia sengaja ke sana karena keduanya sudah janjian untuk pergi nonton setelah shift Faris selesai.
Tazkia memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Dengan langkah perlahan disertai senyum mengembang Tazkia mulai melangkah keluar turun dari mobil.
Niu... niu... niu...
Suara sirine ambulans yang tiba tiba, lantas mengejutkan Tazkia yang baru saja turun dari mobilnya.
"Astaga! bikin kaget saja..." ucap Tazkia yang terkejut ketika mendengar suara sirine yang tiba tiba itu.
Tazkia melangkahkan kakinya kembali sambil sesekali menoleh ke arah ambulans yang terparkir tak jauh dari mobilnya.
"Kacanya tertutup, apa ada orang ya di dalamnya?" tanya Tazkia dalam hati.
Kia!
Teriak Icha tiba tiba mengejutkan Tazkia dengan muncul di depannya tanpa aba aba.
"Ichaaaa, ngagetin deh" ucap Tazkia setengah kesal karena kehadiran Icha yang tiba tiba.
Apa kamu terkejut?
Tanya Icha sambil tertawa cekikikan sementara Tazkia mulai melanjutkan langkahnya.
"Siapa yang gak terkejut jika kamu tiba tiba membunyikan suara sirine ambulans secara diam diam lalu muncul di hadapan ku seperti itu." ucap Tazkia dengan kesal.
Aku tidak membunyikan sirine ambulans sungguh...
"Jangan bohong itu tidak lucu." ucap Tazkia yang masih yakin itu adalah ulah dari Icha.
Sungguh aku tidak melakukannya
Ketika Tazkia sedang asyik berdebat dengan Icha, dari arah lorong rumah sakit Faris nampak berjalan mendekat ke arah Tazkia.
"Ki...." panggilnya yang membuat Tazkia lantas menoleh ke arah sumber suara.
"Hai, apa kamu sudah selesai?" tanya Tazkia kemudian ketika Faris berhenti tepat di depannya.
"Sudah" jawabnya dengan singkat. "Apa tadi Icha mengganggu mu? sepertinya kamu tampak kesal sekali." tanya Faris ketika melihat muka bete Tazkia.
__ADS_1
"Iya, Icha iseng pencet bel sirine ambulans di depan hingga membuat ku terkejut." ucap Tazkia dengan kesal.
Aku tidak melakukannya
Ucap Icha tidak terima dengan tuduhan itu, sedangkan Tazkia hanya memutar bola matanya jengah karena icha terus menyangkalnya.
"Tapi Ki, apa kau yakin itu Icha?" tanya Faris yang lantas di balas Tazkia dengan mengangkat pundaknya pelan. "Masalahnya beberapa perawat sering mengatakan hal yang sama dengan mu, tidak hanya itu terkadang mereka melihat lampu sen ambulans yang menyala dengan sendirinya." ucap Faris kemudian yang membuat Tazkia langsung menatap ke arahnya.
Tuh kan bukan aku...
"Ichaaa!" panggil Faris dengan memanjang membuat Icha lantas terdiam.
Maaf dok
Ucapnya singkat kemudian menghilang dari sana karena mendapat tatapan tajam dari Faris barusan.
"Apa kamu yakin? tidakkah mungkin karena konsleting kabel atau kerusakan pada ambulans tersebut?" ucap Tazkia kemudian mencoba mencari alasan yang masuk di akal.
"Entahlah, tapi tidak ada perawat lain yang mau memakai ambulans tersebut karena kata mereka hawa dari ambulans tersebut tidak enak membuat bulu kuduk merinding." ucap Faris menjelaskan.
"Pasti ada sesuatu, namanya juga ambulans kan? apalagi mereka sering di gunakan untuk mengantar jenazah pasti menyimpan banyak hal mistis yang tidak bisa di jelaskan dengan akal sehat." ucap Tazkia berpikir rasional.
"Ayo aku juga sudah tidak sabar ingin menonton film ini." ucap Tazkia sambil menggandeng manja lengan Faris.
Keduanya kemudian lantas menuju ke arah mobil Tazkia kemudian melajukannya menuju ke arah bioskop terdekat.
****
Malam harinya
Sinta yang baru pulang dari kondangan lantas menyetir mobilnya perlahan melaju membelah jalanan ibu kota. Deringan ponsel yang langsung tersambung dengan mp3 mobilnya, lantas membuat Sinta yang sedang fokus menyetir langsung menggeser ikon berwarna hijau di layar mp3 nya.
"Lo di mana Sin?" tanya sebuah suara di seberang sana.
"Di jalan baru pulang dari kondangan, ada apa?" tanya Sinta.
"Pantas saja aku melihat mobil mu di depan, ternyata benar kau." ucap Aditya sambil tersenyum cengengesan.
"Depan? depan mana Dit?" tanya Sinta dengan bingung sambil mencari keberadaan Aditya namun masih tetap fokus menyetir.
__ADS_1
"Gue di belakang lo Sin bukan di depan, yang gue maksud depan itu... mobil lo tepat di depan mobil gue." ucap Aditya sambil membunyikan klakson mobilnya agar bisa di dengar oleh Sinta.
"Kampret lo, dari mana?" tanya Sinta kemudian sambil menoleh ke arah kaca spion dan memang terlihat mobil milik Aditya tengah berada di belakangnya.
"Gak ada nongkrong aja suntuk gue." ucap Aditya dengan santainya.
Keduanya lantas hanyut dalam pembicaraan garing seperti biasanya padahal jelas jelas mobil mereka melaju beriringan, bukankah ini namanya pemborosan pulsa?
"Kapan kita healing bareng, udah kangen nih." ucap Sinta dengan nada yang mengajak.
"Boleh juga, asal cari tempat yang bener jangan kayak kemaren kemaren lagi." ucap Aditya memberikan usul.
"Setuju" ucap Sinta dengan tersenyum yang tentu saja tidak akan bisa di lihat oleh Aditya.
"Btw si Pras ke mana? tumben gak lo ajak." ucap Sinta lagi yang baru teringat akan Prasetia.
"Gue sedari tadi ada di sebelah Aditya, kalian berdua aja yang asyik mengobrol di telpon tanpa memikirkan sekitar, bukankah kalian terlalu berlebihan? lebih baik menepi dan cari tempat, bukankah lebih enak?" gerutu Prasetia di seberang sana karena sedari tadi dia hanya di jadikan nyamuk oleh keduanya.
Mendengar gerutuan Prasetia barusan lantas membuat Aditya dan juga Sinta tertawa terpingkal pingkal karena mengacuhkan Prasetia sedari tadi. Sampai kemudian ketika Sinta hendak berbelok di persimpangan secara sekilas ia melihat seperti bayangan hitam melesat di depan mobilnya, membuat Sinta lantas langsung banting stir dan menabrak ke arah pohon besar.
Baik Prasetia maupun Aditya yang melihat mobil Sinta menabrak pohon besar, lantas mulai menepi dan terlihat panik kemudian berhamburan keluar dari mobil menghampiri mobil Sinta.
Kepulan asap mulai terlihat membumbung tinggi pada bagian kap mobil milik Sinta, membuat Aditya sampai terbatuk batuk kala ia sudah berada di dekat pintu mobil bagian pengemudi.
"Sin... Sinta!" teriak Prasetia sambil berusaha membuka pintu mobil bagian pengemudi tepat di mana Sinta berada.
"Gue akan telpon ambulans" ucap Aditya kemudian melipir dan membiarkan Prasetia membantu Sinta.
Butuh sedikit tarikan bagi Prasetia untuk dapat membuka pintu mobil dan menolong Sinta. Terlihat Sinta nampak bersandar pada stir mobilnya dengan dahi yang sudah mengalir darah segar karena benturan barusan.
"Lo gak papa Sin?" tanya Prasetia ketika melihat Sinta nampak meringis namun tetap dalam posisi yang sama tanpa bergerak sedikit pun.
"Ta... tangan gue sakit... Pras... tolong..." ucap Sinta dengan lirih.
Prasetia yang mendengar hal itu lantas melihat ke arah dalam untuk mengecek sekilas tangan Sinta. Meski Prasetia tidak terlalu paham tentang kondisi seseorang namun jika di lihat secara kacamata awam, tangan Sinta nampak mengalami patah tulang membuat Prasetia tak berani melakukan pertolongan pertama karena takut akan melakukan kesalahan apabila dirinya mengangkat Sinta dengan asal.
"Lo sabar ya... Adit sedang menelpon ambulans..." ucap Prasetia menenangkan.
Bersambung
__ADS_1