
Kantin kampus
Suasana kantin siang itu terlihat cukup ramai oleh beberapa mahasiswa yang sedang berlalu lalang membeli makanan untuk mengisi perut mereka yang tengah kosong.
Di sudut kantin terlihat Aditya dan juga Prasetia tengah menikmati pesanan makanan mereka dengan santai dan tentunya lahap. Pesanan soto madura yang kali ini menjadi menu makan siangnya terasa begitu nikmat menggoyang lidah Aditya yang menikmati makanan itu sambil tersenyum seperti orang bodoh. Sedangkan Prasetia yang melihat kelakuan absurd Aditya hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali karena baginya tiada hari tanpa kelakuan absurd dari Aditya.
"Ngomong ngomong apa hari ini Sinta dan juga Kia tidak ada kelas ya? kok tumben gak ke kampus?" tanya Aditya di sela sela makannya.
"Gue juga gak tahu, tadi pagi sih sudah coba gue hubungi tapi ponsel Kia sama sekali tidak tersambung, sedangkan ponsel milik Sinta tersambung sih namun tidak ada jawaban sama sekali." ucap Prasetia sambil menyeruput es jeruk pesanannya.
Aditya yang mendengar jawaban dari Prasetia nampak hanya manggut manggut sambil menikmati soto madura di hadapannya. "Bukankah ini aneh Pras? jarang jarang mereka berdua susah di hubungi seperti ini." ucap Aditya kemudian dengan raut wajah yang serius walau masih sibuk dengan makanannya.
"Yap lo bener, perasaan gue bahkan tidak enak mengingat semenjak kita sering mengalami kejadian di luar nalar itu, sekarang gue jadi parno kalau kalian gak bisa di hubungi bawaannya curiga mulu, bikin stres tau gak?" ucap Prasetia dengan ekspresi wajah yang kesal membuat Aditya lantas tersenyum menatap ke arahnya.
"Ceilah gaya gayaan lo, jangan terlalu memikirkan hal yang belum pasti bisa aja kan hp mereka habis baterai atau tidak ada sinyal mungkin..." ucap Aditya lagi masih berpikir positif.
"Ya ya ya mr positif terserah apa ucapan anda." ucap Prasetia pada akhirnya menyerah menanggapi Aditya yang selalu saja hobi menyangkal ucapannya.
"Tapi nih ya Pras, kalau lo bener bener penasaran dengan Sinta dan juga Kia cabut aja yuk susulin mereka berdua..." ucap Aditya kemudian memberikan ide sambil menaik turunkan alisnya memasang wajah aneh tepat di depan wajah Prasetia.
"Jauhkan wajah lo dari gue jijik tahu!" ucap Prasetia kemudian sambil mendorong wajah Aditya agar menjauh darinya.
"Ye biasa aja kali Pras! muka ganteng kayak gini lo dorong dorong kalau gue berubah jadi jelek gimana?" ucap Aditya dengan nada yang kesal menatap ke arah Prasetia.
__ADS_1
"Lebay lo!" ucap Prasetia dengan kesal.
"Jadi gimana nih?" tanya Aditya lagi karena Prasetia belum menjawab pertanyaannya sedari tadi.
"Gue masih ada kelas setelah makan siang." tolak Prasetia walau sebenarnya ia ingin sekali menyetujui ucapan Aditya barusan.
"Halah Pras sekali kali absen juga gak papa kali, lagi pula lo kan bisa titip absen juga, gak bakal ada yang sadar karena lo kan mahasiswa terbaik di kampus ini." ucap Aditya dengan menggebu gebu membuat Prasetia langsung menatapnya dengan tajam.
"Justru karena itu mereka akan menyadarinya oon!" ucap Prasetia dengan kesal membuat Aditya lantas langsung terdiam mencerna ucapan Prasetia barusan.
"Eh iya juga ya? karena lo salah satu mahasiswa aktif di kampus pasti akan sangat terlihat jika lo tidak ada." ucap Aditya kemudian.
"Dasar lo" ucap Prasetia kemudian bangkit dari tempat duduknya hendak melenggang pergi membuat Aditya lantas menatap bingung ke arah Prasetia.
Sedangkan Prasetia yang mendengar pertanyaan itu lantas menghentikan langkah kakinya sambil menatap ke arah Aditya yang masih duduk di bangku kantin dengan tatapan yang kesal..
"Katanya mau cabut, gimana sih lo?" ucap Prasetia dengan kesal.
Aditya yang mendengar perkataan itu keluar langsung dari mulut Prasetia lantas langsung bangkit sambil tersenyum cerah mendekat ke arah Prasetia yang masih menatapnya dengan tatapan yang kesal.
"Bilang dong dari tadi kalau mau..." ucap Aditya sambil melangkahkan kakinya menyusul langkah Prasetia di hadapannya.
***
__ADS_1
Apartment Sinta
Setelah berteriak hingga menyebabkan beberapa lampu apartment pecah, Sinta yang semula menunduk lantas langsung mendongak dan menatap ke arah Tazkia dengan manik mata yang merah menyala, sepertinya sosok hantu anak kecil itu kini tengah marah dengan Tazkia karena mengganggu dirinya yang sedang asyik bermain di apartemen milik Sinta.
"KAKAK JAHAT! AKU TIDAK SUKA PADA KAKAK! AAAAAAAA." ucap Sinta lagi yang lantas membuat lampu apartment Sinta menjadi mati hidup berulang kali tepat setelah Sinta berteriak.
"Kamu salah paham, kakak sama sekali tidak melarang mu untuk bermain main di sini. Hanya saja kamu salah jika harus masuk ke dalam tubuh kakak itu." ucap Tazkia yang kali ini dengan nada yang lebih rendah.
Berbicara dengan sosok hantu anak kecil sama dengan berbicara langsung dengan anak kecil pada umumnya. Tazkia tidak boleh mengedepankan emosi atau malah akan membuat sosok itu merajuk. Tazkia memijat pelipisnya pelan mencoba mencari solusi dari masalahnya. Tazkia adalah putri tunggal mana bisa ia berbicara kepada anak anak jika ia sendiri bahkan tidak pernah merasakan bagaimana mempunyai seorang adik.
"AKU SUKA DENGAN KAKAK INI, AKU AKAN BERADA DI SINI BERSAMANYA." ucap Sinta lagi dengan girang dan berlarian ke kanan dan ke kiri seperti tengah menikmati tubuh barunya saat ini.
Tazkia yang melihat hal itu lantas kebingungan harus berbuat bagaimana? Tazkia benar benar kehabisan ide untuk membujuk sosok anak kecil yang menempel pada tubuh Sinta.
"Kita main yuk tapi kamu harus keluar dulu dari tubuh kakak itu bagaimana? nanti kakak antar kamu ke tempat yang menakjubkan." ucap Tazkia lagi.
Mendengar ucapan Tazkia barusan Sinta nampak berhenti dan langsung menatap tajam ke arah Tazkia, membuat Tazkia lantas menjadi kebingungan akan reaksi yang di berikan sosok hantu tersebut pada dirinya.
"KALIAN SEMUA SAMA SAJA! SELALU SAJA MENGATAKAN AKAN MENGAJAK KU KE TEMPAT YANG INDAH, NAMUN NYATANYA KALIAN MALAH MEMANFAATKAN KU UNTUK KEPENTINGAN KALIAN! AKU TIDAK SUKA TIDAK SUKA!" ucap Sinta sambil menatap tajam ke arah Tazkia membuat Tazkia lantas terdiam dan tidak bisa berkata apa apa lagi.
Setelah mengatakan hal itu, Sinta lantas kembali tertawa lalu berlarian sambil memanjat dinding apartment dengan ringannya layaknya spiderman di serial film marvel. Sedangkan Tazkia yang melihat itu lantas hanya bisa menatap tingkah laku Sinta yang hilir mudik ke kanan dan ke kiri layaknya setrikaan itu tanpa bisa berbuat apa apa lagi.
"Sepertinya aku tidak akan bisa menangani Sinta jika hanya sendirian. Aku butuh bantuan Prasetia dan juga Aditya di sini." ucap Tazkia pada akhirnya.
__ADS_1
Bersambung