Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Bayangan ~Tugas terakhir (Ambulans) #2


__ADS_3

Baik Prasetia, Aditya dan juga Tazkia duduk termenung menunggu hingga Sinta sadar, beruntung tidak ada luka serius dan hanya bagian tangan saja yang mengalami patah tulang, membuat ketiganya lantas menjadi sedikit lega ketika mendengar keadaan Sinta baik baik saja.


"Gue akan keluar cari makan dulu buat kita." ucap Tazkia kemudian bangkit dari kursinya.


"Cari makan... apa cari makan nih?" goda Aditya sambil senyum senyum yang langsung di balas Tazkia dengan tatapan tajam. "Oke oke silahkan pergi nona... gitu aja ngambek." sindir Aditya lagi namun Tazkia hanya melangkahkan kakinya seakan acuh dengan ucapan Aditya barusan.


Tazkia melangkahkan kakinya melewati lorong lorong rumah sakit menuju ke arah kantin, entah karena memang sudah malam atau mungkin karena orang orang pada tidur, suasana rumah sakit malam itu nampak sunyi dan sepi layaknya tak berpenghuni membuat bulu kuduk Tazkia lantas merinding ketika melintasi lorong demi lorong menuju ke arah kantin.


"Gila, ayang gue betah banget di sini padahal suasananya lebih seram di bandingkan dengan kuburan." ucap Tazkia dengan terus melangkahkan kakinya sambil bergidik ngeri.


Sekelebat bayangan putih nampak tiba tiba melintas melewati bagian belakang Tazkia membuatnya dengan spontan langsung menoleh ke arah belakang melihat apa yang barusan yang lewat. Hanya saja ketika Tazkia menoleh ke belakang sama sekali tidak ada seorang pun di sana kecuali dirinya sendiri.


"Ada apa Ki?" tanya Faris secara tiba tiba yang lantas mengejutkan Tazkia.


"Astaga! kamu mengejutkan ku." ucap Tazkia sambil mengelus dadanya.


"Maaf maaf aku tidak sengaja" ucap Faris sambil tersenyum. "Kamu mau ke mana?" tanya Faris kemudian.


"Mau beli makanan buat Pras sama Adit." ucap Tazkia kemudian sambil melangkahkan kakinya mulai menyusuri lorong rumah sakit begitu juga dengan Faris.


"Harusnya tadi kamu bilang saja padaku biar aku yang belikan ini sudah larut malam." ucap Faris yang lantas membuat Tazkia menoleh ke arahnya.


"Faris ini hanya di depan... tidak jauh, apa yang sedang kamu khawatirkan?" ucap Tazkia dengan santainya.


"Dasar kamu itu ya..." ucap Faris dengan gemas. "Btw Ki, kapan kamu akan mengganti panggilan mu itu? tidakkah kamu ingin menggantinya?" tanya Faris kemudian.


Mendengar hal itu Tazkia lantas tersenyum kemudian mencubit hidung Faris dengan gemas, membuat Faris lantas terkejut dengan perlakuan Tazkia barusan.


"Nanti ya setelah kita menikah" ucap Tazkia dengan berbisik membuat Faris lantas jadi salah tingkah di buatnya.

__ADS_1


Hanya saja Tazkia yang semula tersenyum mendadak terdiam ketika melihat di belakang Faris seperti ada seorang perawat laki laki tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang tajam, namun tidak terlalu jelas dan samar membuat Tazkia lantas mencoba untuk menajamkan pandangannya.


"Ada apa Ki?" tanya Faris kemudian ketika melihat Tazkia nampak terbengong menatap ke arah bagian belakangnya. "Ki!" panggil Faris lagi karena Tazkia sedari tadi hanya diam saja tanpa memperdulikan panggilannya.


"Eh iya..ada apa?" tanya Tazkia kemudian.


"Ada apa, harusnya aku yang tanya itu... ada apa dengan mu?" tanya Faris lagi.


"Tidak hanya saja tadi..." ucap Tazkia sambil menatap ke arah belakang hendak memberi tahu Faris tentang perawat tadi namun mendadak perawat tersebut menghilang dan sudah tidak ada di sana, membuat Tazkia lantas kebingungan menatap ke arah belakang Faris.


Sedangkan Faris yang melihat Tazkia lagi lagi terbengong lantas ikut melihat bagian belakang dan mencari apa yang tengah di lihat Tazkia, namun sayangnya tidak ada apapun di sana membuat Faris menjadi semakin bingung.


"Sudahlah lupakan saja, ayo kita segera pergi pasti Pras dan Adit sudah menunggu." ucap Tazkia kemudian sambil menarik tangan Faris agar segera mengikuti langkah kakinya.


Setelah kepergian keduanya tanpa Tazkia dan Faris sadari, sosok seorang perawat nampak kembali terlihat di tempat yang tadi Tazkia lihat, kemudian menghilang dan muncul lagi di tempat berbeda secara berulang ulang tanpa seorang pun yang menyadari kehadirannya kecuali Tazkia.


****


Sinta terlihat mulai mengerjapkan matanya perlahan menatap sekeliling, bau khas rumah sakit mulai tercium di hidungnya membuat Sinta sedikit mengerutkan keningnya.


"Lo sudah bangun Sin?" tanya Tazkia yang menyadari pergerakan dari Sinta barusan.


Mendengar pertanyaan tersebut Sinta hanya mengangguk pelan sambil meringis karena tangan sebelah kirinya terasa sedikit ngilu.


"Maaf merepotkan" ucap Sinta ketika melihat Pras dan juga Aditya sedang tertidur di sofa dengan raut wajah yang terlihat lelah.


Tazkia lantas tersenyum ketika mendengar ucapan Sinta barusan, dengan gerakan perlahan Tazkia lantas membantu Sinta untuk bangkit dan bersandar.


"Apakah lukanya parah?" tanya Sinta ketika melihat tangan sebelah kirinya di gips.

__ADS_1


"Tidak hanya patah tulang sedikit tidak perlu terlalu memikirkannya, mungkin sekitar 3 atau 4 minggu akan kembali normal jika kamu menurut apa kata dokter." ucap Tazkia dengan nada yang santai karena ia sama sekali tidak ingin itu menjadi beban pikiran Sinta dan memperburuk keadaannya.


"Pasti akan sangat menyusahkan nantinya." ucap Sinta dengan raut wajah yang sendu.


"Apa yang kau pikirkan? bukankah masih ada aku, Pras, dan juga Aditya? tak perlu merisaukan apapun karena kami akan selalu berada di samping mu." ucap Tazkia menenangkan Sinta.


Mendengar ucapan Tazkia barusan membuat hati Sinta menghangat, seulas senyum terlihat jelas di wajah cantik Sinta ketika mendengar kata kata penenang dari Tazkia.


"Ngomong ngomong Ki, apa kamu semalam tidur di sini?" tanya Sinta kemudian dengan raut wajah penasaran.


"Aku... semalam aku tidur di ruangan Faris namun setiap 3 jam sekali aku mampir ke sini untuk mengecek mu." ucap Tazkia menjelaskan.


"Oh begitu rupanya..." ucap Sinta kemudian. "Mungkin kemarin benar benar hanya Tazkia." ucap Sinta dalam hati ketika mengingat kejadian semalam.


**


Yang sebenarnya di rasakan Sinta semalam, antara sadar dan tidak sadar Sinta merasa seperti bangun namun tidak bisa bangun sepenuhnya, mungkin karena pengaruh obat bius jadi Sinta merasakan hal yang demikian.


Dalam posisi sadar dan tidak sadar Sinta seperti mendengar suara pintu terbuka diiringi langkah kaki seseorang yang masuk.


"Ah Kia.." batinnya dalam hati.


Namun, baru saja Sinta lega yang datang adalah Tazkia tepat ketika Tazkia berbalik badan dan memberikan selimut untuk Adit dan Pras. Di belakang Tazkia seperti ada sosok yang berdiri dengan menggunakan baju perawat menatap ke arahnya yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit dengan tatapan yang merah menyala. Sosok itu nampak mendekat dan semakin mendekat ke arah Sinta kemudian membisikkan sesuatu.


Tugas ku untuk mengantar mu telah selesai, saatnya aku melanjutkan tugas ku yang lainnya!


Ucap sebuah suara tersebut terdengar nyaring di telinga Sinta malam itu.


Flashback off

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2