Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Mungkin hanya firasatku ~ Misteri villa nenek #1


__ADS_3

Prasetia, Sinta dan juga Aditya berkunjung ke mansion Tazkia siang harinya, mereka ingin memastikan bagaimana keadaan Tazkia saat ini. Diketuknya perlahan pintu mansion dengan cemas takut kembali di usir oleh Tazkia seperti tempo hari.


Tak berapa lama terlihat Arini melangkahkan kakinya menuju ke pintu depan.


"Siang tan" ucap ketiganya secara bersamaan.


"Oh kalian ayo masuk." ajak Arini begitu melihat ketiga teman Tazkia datang.


"Kia nya ada tan?" tanya Prasetia.


"Wah sayang sekali Kia sedang berkunjung ke villa neneknya untuk merefresh pikirannya, apa kalian tidak mengabari Kia dulu kalau mau mampir?" tanya Arini yang di balas gelengan kepala oleh ketiganya. "Wah sayang sekali kalau begitu kalian tidak bertemu Kia." ucap Arini.


Mendengar hal itu ketiganya saling pandang satu sama lain, ternyata kedatangan mereka berakhir dengan sia sia.


"Apa kami boleh menyusulnya tan?" ucap Aditya tiba tiba yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sinta dan Prasetia.


Terdengar helaan nafas dari Arini.


"Apa kalian sungguh akan meluluhkan hati Kia? kalian tidak marah dengan kata katanya tempo hari yang mengusir kalian?" tanya Arini.


"Tidak tan karena ini juga salah kami juga, jadi kami sama sekali tidak marah atas perlakuan Tazkia tempo hari." ucap Prasetia.


"Baiklah kalau begitu pergilah, tante akan mengirim alamatnya pada kalian nanti, berangkatlah weekend, untuk tiga hari ini biarkan Kia sendiri dan menenangkan dirinya dulu." ucap Arini sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak tan." ucap Sinta kemudian.


*******

__ADS_1


Sementara itu perjalanan yang di tempuh oleh Tazkia dan juga Faris berjalan dengan lancar, tidak ada halangan atau gangguan berarti yang mereka alami, seakan Faris seperti dapat mengontrol aura Tazkia agar tidak menarik makhluk makhluk di sekitarnya.


Keduanya sampai di villa nenek Tazkia sore harinya, villa itu benar benar terletak di tengah tengah hamparan kebun dan juga tanaman pohon pinus di sekitarnya. Letaknya cukup jauh dari perkotaan tanpa tetangga ataupun kedai kedai kecil di sekitarnya, benar benar seperti pulau pribadi dengan nuansa yang masih asri sungguh cocok jika digunakan untuk merefresh ulang penatnya beban pikiran.


Faris memarkirkan mobilnya tepat di depan villa, di tatapnya Tazkia yang tengah tertidur dengan pulasnya sambil tersenyum. Pandangan Faris terhenti pada bibir ranum milik Tazkia yang sedikit terbuka ketika tertidur, benar benar lucu dan menggemaskan.


Dengan pikiran yang jail Faris kemudian memainkan dagu Tazkia ke atas agar tertutup namun lagi dan lagi kembali terbuka seperti enggan tertutup, sampai kemudian Faris yang tengah asyik bermain menjadi lupa waktu hingga suara ketukan dari luar kaca mobil mengejutkannya.


"Astaga" ucap Faris yang cukup terkejut dengan suara ketukan itu.


Tazkia nampak mengerjapkan matanya perlahan, ia sempat terkejut karena melihat wajah Faris yang begitu dekat dengannya.


"Ada apa?" tanya Tazkia sambil mencoba bersikap biasa saja padahal saat ini ia benar benar merasa gugup karena mengira Faris hendak menciumnya di kala ia sedang tidur, tapi nyatanya tidaklah seperti itu.


"Aku hendak membangunkan mu barusan." ucap Faris sambil menurunkan kaca mobilnya untuk melihat siapa yang mengetuk kaca mobil barusan.


"Oh membangunkan... ku kira sesuatu yang lain.." ucap Tazkia dalam hati dengan raut wajah kecewa.


"Iya sebentar lagi." ucap Faris mencoba bersikap ramah. " Jangan bilang dia mengira aku berbuat mesum dengan Kia tadi." ucap Faris dalam hati menerka nerka ketika melihat ekspresi wajah wanita itu yang sama sekali tidak ramah.


Tak berapa lama keduanya lantas turun dan di tuntun masuk ke dalam villa oleh wanita tadi. Suasana villa begitu gelap padahal di luar masih sore harusnya cahaya masih bisa masuk melewati celah celah ventilasi, tapi entah mengapa suasana di dalam begitu redup dan sunyi sekali.


Keduanya terus di tuntun melewati lorong kamar seperti menuju ruang tengah, hingga langkah mereka terhenti pada sebuah ruangan seperti kamar yang di susun dengan nuansa dinding berwarna hijau tua sedangkan tepat di sudut ruangan terlihat sebuah kursi goyang yang di atur menghadap ke balkon membelakangi mereka berdua.


"Nek Kia datang." ucap Tazkia namun hanya hening yang menjawab ucapan Tazkia.


Wanita yang menuntun keduanya tadi lantas kemudian melangkah mendekat ke arah kursi goyang nenek.

__ADS_1


"Sepertinya nenek tertidur biar saya antar nona ke kamar saja, mari." ucapnya kemudian kembali melenggang pergi.


"Kapan kamu terakhir kali berkunjung?" tanya Faris dengan nada berbisik.


"Saat usiaku 8 tahun mungkin." ucap Tazkia santai.


"Dasar kamu ya cucu durhaka." ucap Faris menyindir sambil mengacak acak rambut Tazkia yang membuatnya langsung di hadiahi wajah cemberut Tazkia.


"Ehem kamar nona ada di sebelah sini sedangkan anda ada di ujung lorong ini, selamat beristirahat." ucapnya yang langsung menghentikan aksi keduanya.


"Sebentar, boleh ku tanya siapa nama mu?" tanya Tazkia karena ia seperti lupa lupa ingat wajah wanita di depannya ini.


Mendapat pertanyaan dari Tazkia wanita itu lantas tersenyum, namun entah mengapa kalau melihat wanita itu tersenyum rasanya malah membuat bulu kuduk berdiri.


"Panggil saja saya Rita." ucapnya kemudian melenggang pergi.


"Apakah kamu tidak merasa aneh dengannya Ris?" tanya Tazkia begitu kepergian Rita dari sana.


"Sudahlah mungkin itu hanya firasat mu saja, sebaiknya kamu istirahat di dalam, aku akan pergi ke kamar." ucap Faris.


"Baiklah, sampai bertemu makan malam." ucap Tazkia sambil tersenyum.


Setelah itu keduanya berpisah, Tazkia masuk ke dalam kamarnya sedangkan Faris menuju kamar yang di maksud oleh Rita tadi. Kamar yang di maksud oleh Rita benar benar terletak di ujung, entah mengapa Faris merasa seperti Rita sengaja mengerjainya agar tidak terlalu dekat dengan Tazkia, padahal di sepanjang ia berjalan dalam lorong tersebut terdapat banyak ruangan kamar yang sepertinya kosong, setidaknya lebih dekat dengan kamar Tazkia.


"Mungkin hanya firasat ku saja." ucap Faris sambil tertawa receh.


Ketika hendak membuka pintu kamar entah mengapa Faris seperti merasa ada yang melintas di belakangnya. Faris yang memang bisa merasakan lantas langsung berbalik badan untuk mengecek apakah itu sosok yang tidak terlihat atau hanya manusia biasa, namun ketika Faris berbalik lorong kamar itu kosong tidak ada siapa pun di sana. Faris hanya menghela nafas ia sudah biasa menghadapi bayangan sekilas seperti ini setidaknya ia tidak terlalu terkejut. Faris yang acuh dengan apa yang melintas barusan lantas kembali meneruskan langkahnya masuk ke kamar untuk beristirahat, karena perjalanan yang ia tempuh bersama Tazkia tadi cukup menguras energinya.

__ADS_1


"Sepertinya tidur sebentar tidaklah buruk." ucap Faris sambil merebahkan dirinya di ranjang kemudian bersiap berlayar ke pulau impian.


Bersambung


__ADS_2