Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Salah satu daerah di Jawa Barat ~Mengapa aku dilahirkan #8


__ADS_3

Karena Tazkia yang tak kunjung kembali juga membuat Prasetia dan juga Sinta lantas menyusul ke arah ruang televisi untuk mengecek apa yang tengah di lakukan Tazkia di sana, oh ya tentu saja tak ketinggalan Aditya yang terpaksa mengikuti langkah kaki keduanya menuju ruang televisi karena takut di tinggal sendirian.


Ketika ketiganya sampai di sana, suasana begitu hening dan sepi sedangkan Tazkia tidak terlihat di manapun atau bahkan sosok hantu bocil yang seperti di katakan oleh Aditya tadi.


"Ki... lo di mana?" panggil Prasetia kemudian yang tidak melihat keberadaan Tazkia di manapun.


Hihihi


Sebuah tawa khas anak kecil terdengar tiba tiba ketika Prasetia memanggil Tazkia barusan. Ketiganya yang mendengar suara ketawa itu tentu saja terkejut dan juga takut, terlebih lagi Aditya yang langsung melipir ke belakang Sinta karena takut. Perasaan aneh mendadak menyelimuti ruangan itu, terasa begitu dingin dan mencekam membuat siapa saja yang masuk ke dalam ruang televisi tersebut pasti akan merasakan adrenalin yang sama dan membuat bulu kuduk merinding seketika.


"Ki lo di mana?" panggil Prasetia sekali lagi mencoba berpura pura tidak mendengar suara tawa tersebut dan mengabaikan bulu kuduk yang sudah berdiri sedari tadi ketika masuk ke dalam ruang televisi.


"HALO!" ucap Tazkia kemudian dengan posisi menggantung terbalik tepat di hadapan ketiganya, membuat Prasetia, Aditya dan juga Sinta yang melihat hal itu tentu saja terkejut bukan main apalagi ketika melihat rambut Tazkia yang menjuntai panjang ke bawah.


Tazkia benar benar tampak menyeramkan di atas dengan posisi menggantung terbalik seperti itu, rambutnya yang panjang tergerai menjuntai ke bawah begitu nampak seperti kunti kunti yang sedang bergelantungan dengan posisi yang terbalik disertai senyum yang menyeringai.


"Astaga lo benar benar ya Ki!" pekik Aditya yang terkejut dengan kehadiran Tazkia yang tiba tiba menggelantung di atap.


"Turun ke bawah Ki... ngapain sih lo di atas?"ucap Prasetia sambil mencoba membantu Tazkia untuk turun, namun bukannya turun Tazkia malah tertawa menatap ke arah ketiganya.


"Tak apa biarkan gue seperti ini!" ucap Tazkia tiba tiba seperti sudah sadar namun sepersekian detik kembali berkelakuan aneh. "JANGAN MENGGANGGU KAMI!" imbuhnya yang lantas membuat ketiganya bingung bukan main.


Melihat Tazkia yang seperti sadar dan tidak sadar membuat ketiganya bingung harus bereaksi seperti apa selain menatap dengan tatapan yang melongo mengikuti gerak gerik Tazkia yang ke sana ke mari. Benar benar sama persis dengan yang di lakukan Sinta tadi siang ketika Aditya dan juga Prasetia baru datang tadi.


Tazkia terus melangkah ke sana kemari dengan tertawa cekikikan, membuat bulu kuduk ketiganya semakin merinding ketika mendengar suara tawa cekikikan tersebut.


"Kita harus gimana?" tanya Sinta kemudian yang di balas ketiganya dengan gelengan kepala.

__ADS_1


Pada akhirnya sesuai dengan permintaan Tazkia yang menyuruh mereka untuk tidak melakukan apapun baik Sinta, Aditya dan juga Prasetia hanya menatap Tazkia dengan heran sampai kemudian terdengar suara keras seperti benda jatuh.


Buk


Ketiganya yang melihat Tazkia jatuh tepat ke sofa langsung berlari mendekat ke arah Tazkia dan mengerubunginya.


"Lo gak papa Ki?" tanya Aditya kemudian dengan raut wajah yang penasaran begitu juga Sinta dan Prasetia.


Tazkia yang mendapat pertanyaan tersebut hanya mengangkat tangannya memberikan isyarat kepada yang lain untuk memberinya waktu sebentar mengatur nafasnya.


Setelah Tazkia merasa siap untuk bercerita, dengan perlahan Tazkia mulai bangkit dan membenarkan posisi duduknya.


"Hhhhhhh aku sudah menemukannya... ya aku sudah menemukannya." ucap Tazkia sambil tersenyum yang malah membuat ketiganya saling pandang satu sama lainnya karena tidak mengerti akan maksud dari ucapan Tazkia barusan.


"Apa yang sudah lo temukan Ki?" tanya Prasetia dengan penasaran.


"Informasi tentang sosok bocah penunggu sofa tersebut." ucap Tazkia dengan gembira.


"Ya seperti biasa, gue harus menyelesaikannya. Tapi tergantung dengan kalian sih... lagipula Sinta yang membeli sofa berarti Sinta yang buat keputusan." ucap Tazkia kemudian.


Sinta yang mendengar hal itu tentu saja terkejut, mana tahu kalau membeli sofa bisa menyebabkan situasi yang horor seperti ini. Jika Sinta tahu akan berakhir seperti ini mungkin Sinta tidak akan membelinya kemarin.


"Tidak bisakah kita tidak melakukannya Ki?" tanya Sinta kemudian, berharap tidak lagi terlibat dengan hal hal yang berbau mistis.


"Bisa, hanya saja gue tidak menjamin setelah sofa ini di kembalikan sosok hantu anak kecil itu akan pergi." ucap Tazkia dengan nada yang datar.


"Jika begitu artinya kita harus bereskan masalah ini sebelum merembet dan semakin besar." ucap Sinta pada akhirnya memberikan keputusan.

__ADS_1


"Tapi tunggu, bagaimana dengan mayat yang ada di kolong sofa Ki?" tanya Aditya yang kemudian baru teringat dengan mayat sosok anak kecil tersebut yang sudah menjadi tulang belulang di sofa.


"Jika kita lapor polisi kita pasti juga akan terseret dalam kasus ini, jika kita langsung menguburnya pasti warga akan bertanya tanya tentang mayat siapa ini." ucap Prasetia dengan nada yang juga bingung.


"Lalu kita harus bagaimana? kasihan kan kalau gak segera di makamkan dengan layak." ucap Sinta.


"Apa kita selesaikan dulu masalah ini, setelah kita mendapat bukti yang cukup baru kita lapor polisi, gimana?" ucap Tazkia memberikan ide.


"Bukankah itu akan membuat kita semakin di curigai Ki?" tanya Prasetia yang lantas membuat ketiganya kembali terdiam karena tidak memiliki jawaban yang pas akan pertanyaan mereka.


"Bagaimana kalau kita serahkan pada Faris saja masalah ini, sedangkan kita fokus menyelesaikan masalah sosok hantu anak kecil tersebut." ucap Tazkia memberikan saran yang mungkin akan meringankan pekerjaan mereka.


"Apa lo yakin akan hal ini Ki?" tanya Prasetia yang merasa Faris mungkin tidak akan mau melakukannya.


"Kita belum mencobanya bukan?" ucap Tazkia dengan nada yang yakin.


"Kalau gue sih terserah." ucap Aditya seakan acuh tak terlalu memikirkannya.


"Ya sudah terserah lo, asal Faris tidak keberatan." ucap Prasetia pada akhirnya.


"Baiklah satu masalah sudah terpenuhi sekarang saatnya kita bersiap dan pergi." ucap Tazkia sambil bangkit berdiri, membuat Sinta, Aditya dan juga Prasetia menatap bingung ke arah Tazkia.


"Sebentar sebentar memangnya berkemas ke mana?" tanya Sinta.


"Katanya mau menyelesaikan masalah sosok hantu anak kecil tersebut? dan kita harus segera berkemas karena perjalanan kita akan panjang." jawab Tazkia dengan ambigu.


"Kemana?" tanya Aditya yang juga ikut di buat penasaran akan ucapan Tazkia yang sedari tadi berputar putar.

__ADS_1


"Ke salah satu daerah di Jawa barat." ucap Tazkia dengan santainya yang langsung membuat ketiganya saling pandang satu sama lain ketika mendengar ucapan Tazkia barusan.


Bersambung


__ADS_2