
Mansion milik Hendrawan
Tania melangkahkan kakinya dengan wajah yang cemberut ke dalam mansion. Tania menuju ke arah taman tempat Hendrawan biasa bersantai, bak mansionnya sendiri Tania melangkahkan kakinya masuk ke dalam tanpa permisi ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Om bukankah om mengatakan akan menjamin Faris untuk saya? mana om? bahkan sekarang putra om tengah bermesraan dengan pasiennya itu." ucap Tania dengan kesal sambil berjalan mendekat ke arah Hendrawan yang tengah menikmati suasana di pagi hari.
" Tenanglah dulu, Faris hanya melakukan formalitas sebagai seorang dokter, apa kamu tidak mendengar janjinya waktu itu, dia bahkan berjanji akan memulai kembali semuanya dan memperlakukan mu dengan lebih baik." ucap Hendrawan.
" Memang benar, namun kalau Faris hanya mengatakannya di mulut saja bagaimana?" tanya Tania.
" Kamu tenang saja om bisa menjaminnya, bahwa Faris hanya akan menikah denganmu." ucap Hendrawan kembali mengingatkan Tania.
Flashback on
Seminggu yang lalu tepatnya setelah pertengkaran hebat sewaktu di taman rumah sakit, Faris memasuki mansion dengan langkah lelah dan ogah ogahan, sebenarnya ia benar benar malas pulang ke mansion karena pasti Hendrawan akan kembali menceramahi nya agar memperlakukan Tania dengan baik.
" Aku sudah mulai muak jika selalu seperti ini." ucap Faris dengan lirih pada diri sendiri.
Baru saja melangkahkan kakinya masuk Faris sudah di suguhi dengan drama yang telah di perankan oleh Tania, di mana di meja makan Tania terlihat sedang menangis tersedu dengan Hendrawan yang menatap ke arahnya dengan tajam.
" Apakah akan di mulai lagi? " ucap Faris dalam hati sambil menatap ke arah Tania dan juga Hendrawan secara bergantian.
" Apa lagi yang kamu lakukan ris? papa kan sudah meminta mu untuk memperlakukan Tania dengan baik? kenapa kamu tidak bisa mengubah sikap mu sama sekali ha?" ucap Hendrawan setengah meninggi sambil menatap tajam ke arah Faris.
" Pa Faris mohon biarkan Faria langsung istirahat kali ini saja, Faris benar benar lelah pa sungguh." ucap Faris kemudian mulai melangkahkan kakinya hendak menuju ke kamarnya.
" Om" panggil Tania dengan lirih ketika mengetahui Faris mengacaukannya.
" Faris Aarav Hendrawan ini terakhir kalinya papa minta padamu untuk melakukannya dengan sungguh sungguh, jika perlu papa akan mempercepat pernikahan kalian menjadi minggu depan jika sikap mu terus saja begitu." ucap Hendrawan dengan nada datar yang berhasil menghentikan langkah kaki Faris yang hendak menuju kamarnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu lantas membuat senyuman Tania mengembang di wajah sembabnya.
" Pa, papa tahu sendiri Faris tidak mencintai Tania, kenapa papa selalu memaksakan kehendak papa pada Faris?" ucap Faris dengan kesal namun masih dengan nada yang merendah karena ia begitu menghormati Hendrawan.
" Cinta cinta cinta kenapa kamu selalu saja membicarakan hal itu? cinta bisa tumbuh ketika kamu mulai serius dalam hubungan ini, lihatlah dirimu jangankan serius bahkan menatap Tania pun kau enggan, jika begitu lalu bagaimana cinta bisa tumbuh?" ucap Hendrawan lagi tak ingin kalah dari putranya.
" Pa cobalah untuk mengerti kali ini saja, aku sudah berusaha untuk diam selama dua tahun ini, aku sudah mencobanya pa tapi tetap saja tidak berhasil, aku dan Tania tidak memiliki kecocokan sama sekali, cobalah untuk mengerti." ucap Faris yang sudah tidak tahu lagi harus mengatakan dengan cara apa bahwa ia benar benar tidak bisa bersama dengan Tania baik untuk sekarang, masa lalu, maupun masa depan nantinya.
" Kamu pasti begini karena gadis itu bukan?" teriak Tania yang kesal karena perubahan sikap Faris padanya.
" Jangan menyalahkan orang lain karena memang kenyataannya antara aku dan kamu tidak memiliki kecocokan." ucap Faris.
" Baiklah jika memang kamu tidak mengakuinya kita lihat saja bagaimana kalau aku berbuat sesuatu padanya, apakah kamu masih akan perduli atau tidak." ancam Tania yang lantas membuat mimik wajah Faris berubah.
" Jangan gila kamu Tania! ada hak apa kamu menyakitinya? Hentikan drama telenovela ini dan pulang ke rumah mu sekarang." ucap Faris yang berusaha menutupi ke khawatirannya.
Faris yang mendengar hal itu lantas hanya diam membisu.
" Tidak, aku harus mengalah kali ini setidaknya demi Tazkia." ucap Faris dalam hati.
" Baiklah kita mulai lagi semuanya dari nol dan mari mencobanya, apa sekarang kamu sudah puas?" ucap Faris kemudian melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Flashback off
***********
Kembali ke rumah sakit di ruang rawat Tazkia
" Memangnya seperti apa wajahnya? karena aku selalu bisa merasakan kehadirannya namun ia sama sekali tidak pernah menampakkan wajahnya dengan jelas padaku." tanya Faris penasaran.
__ADS_1
" Wajahnya seperti ibu mu." ucap Tazkia lirih namun masih bisa di dengar oleh Faris.
Faris yang mendengar hal itu semakin di buat bingung, bagaimana tidak Tazkia bahkan tidak pernah bertemu ibunya tapi Tazkia mengatakan bahwa sosok itu mirip ibunya.
" Jangan bercanda kamu, ini tidak lucu." ucap Faris.
" Aku tahu ini gila, tapi aku sungguh melihatnya dan aku yakin bahwa sosok itu adalah ibu mu." ucap Tazkia lagi.
" Jangan aneh aneh, lagipula bagaimana kamu bisa tahu kalau dia adalah ibuku?" tanya Faris.
" Sebenarnya aku memiliki kelebihan yang bisa melihat kenangan ataupun masa depan dan tanpa sengaja ketika kita bersentuhan aku melihat kenangan mu bersama ibumu, aku minta maaf jika aku lancang tapi sungguh itu terjadi begitu saja tanpa bisa aku cegah." ucap Tazkia berusaha menjelaskan.
" Maksud mu kemampuan seperti indigo?" tanya Faris.
" Iya seperti penjelasan mu tadi dan satu hal lagi ibu mu meninggal bukan karena perampokan melainkan meninggal karena bertengkar dengan ayah mu hingga terjatuh dari tangga dan meregang nyawa." ucap Tazkia lagi namun dengan nada yang berhati hati.
Faris terdiam mendengar ucapan Tazkia ia benar benar tidak bisa mempercayainya begitu saja.
" Ini sudah mulai gila dan tidak masuk akal, aku bahkan melihat sendiri papa di ikat kala itu, lagi pula kamu juga tidak ada di sana. Sebaiknya kamu bersiap untuk pulang, kita sudahi saja pembicaraan kita." ucap Faris kemudian bangkit berdiri.
" Ini kenyataannya dan satu hal lagi kamu harus berhati hati dengan Tania karena ini semua rencananya untuk mendekati mu, pikirkanlah dok bukankah aneh jika tiba tiba saja Tania bisa dekat dengan papa mu padahal papa mu sangat tidak menyukai Tania." ucap Tazkia yang membuat langkah kaki Faris terhenti karena mendengar ucapan Tazkia.
" Tapi ini sungguh tidak masuk akal, kamu juga tidak mempunyai bukti bukan? jadi ini juga belum tentu sebuah kebenarannya." ucap Faris lagi.
" Apa aku harus membuktikannya? itu ide gila Tazkia." ucap Tazkia sambil menggigit bibir bawahnya mencoba mencari solusi.
" Bagaimana jika aku bisa membuktikannya?" ucap Tazkia dengan nada yakin menatap ke arah Faris yang berada di ambang pintu.
Bersambung
__ADS_1