
Keesokan harinya Tazkia, Prasetia, Sinta dan juga Aditya sudah berkumpul di mansion milik Tazkia sejak tadi pagi, mereka berempat benar benar penasaran akan cerita Tazkia yang kembali ke masa lalu bersama Faris.
" Jadi bagaimana? apakah memang terjadi sesuatu?" tanya Prasetia dengan penasaran begitu juga Sinta dan Aditya.
" Ya seperti perkataan ku sebelumnya bahwa nyokap nya dokter Faris meninggal karena kesalahan yang di perbuat bokap nya sendiri namun bisa di katakan tidak sengaja sebenarnya sih, hanya saja karena bokap nya yang tergiur dengan ucapan Tania jadilah kedua orang itu menutupi bahwa nyokap nya meninggal karena kerampokan." ucap Tazkia sambil memakan buah apel di tangannya.
" Kasihan sekali ya dokter Faris, padahal ganteng begitu orangnya." ucap Sinta dengan wajah sendu yang di buat buat.
" Kagak ada hubungannya Sintaaaa antara ganteng dan juga kasus yang menimpa si Faris Faris itu." ucap Aditya menimpali ucapan Sinta yang nyeleneh.
" Suka suka gue lah, kan yang ngomong gue." ucap Sinta acuh tak acuh.
" Lalu bagaimana tanggapan Faris tentang hal itu?" tanya Prasetia.
" Awalnya sih emosi parah gue bahkan sempat kewalahan menghadapinya, namun pada akhirnya gue berhasil meyakinkan dia bahwa hal itu tidak lah penting, dan itu berhasil pada akhirnya kami mulai mengumpulkan bukti, tapi ada satu hal yang menurutku aneh, kalau dipikir secara logika ketika kita menemukan bukti berupa rekaman kamera pengawas yang lengkap pasti kita akan segera memberitahunya ke Faris di masa itu atau paling gak kita bawa dan serahkan kepada polisi, namun ini malah kebalikannya dokter Faris malah menghapus semua rekaman pada waktu itu kemudian memberikannya beberapa virus agar bisa mengacaukan rekaman pengawas pada saat kejadian tersebut." ucap Tazkia panjang kali lebar.
" Apakah dia seorang psikopat?" ucap Aditya kemudian.
" Entahlah aku hanya merasa ada yang aneh dari cara dia menghapus sampai menghilangkan data kejadian pada waktu itu." ucap Tazkia lagi.
" Em mungkin ada alasan tersendiri bagi Faris untuk melakukan hal itu, dan jika itu menurutnya benar why not?" ucap Prasetia acuh tak acuh.
" Mungkin juga Faris yang di masa sekarang tidak ingin membuat Faris di masa lalu menjadi membenci bokap nya." ucap Sinta.
" Nah ini alasan yang paling masuk akal, toh kejadiannya memang tidak di sengaja bukan? hanya saja cara yang diambil bokap nya Faris agak nyeleneh takutnya hal itu yang bisa menjadi akar di masa depan ketika hubungan keduanya merenggang. " ucap Aditya sok bijak sambil manggut manggut kemudian meminum minumannya.
" Tumben loh bijak, biasanya juga slengean." cibir Sinta.
" Sue lo"
Ketika ketiganya tengah asyik melakukan rapat meja bundar dari arah luar mbok Ratmi datang menghampiri keempatnya seperti ingin menyampaikan sesuatu.
" Non ada temannya di depan." ucap mbok Ratmi.
Mendengar hal itu mereka berempat langsung saling pandang satu sama lain akan yang di maksud mbok Ratmi dengan temannya, di saat semua teman sekaligus sahabat Tazkia tengah berkumpul di sini sekarang, lalu siap yang datang?
__ADS_1
" Siapa mbok?" tanya Tazkia kemudian.
" Gak tahu non tapi ganteng ih bibi jadi suka lihatnya kalau bening bening begitu." ucap Mbok Ratmi kemudian melangkah menuju dapur meninggalkan Tazkia, Prasetia, Sinta dan juga Aditya dengan beragam tanda tanya.
" Ih si bibi mah ganjen." ucap Aditya yang di balas senyuman oleh mbok Ratmi ketika menuju ke arah dapur.
" Mending lo temuin deh ki daripada penasaran." ucap Sinta.
" Ya udah gue ke depan dulu ya sebentar." ucap Tazkia kemudian bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ketiganya.
" Kalau menurut kalian siapa yang datang?" tanya Sinta sambil menatap Prasetia dan juga Aditya secara bergantian.
" Mana gue tau, lo pikir gue cenayang." ucap Aditya.
" Ya kan siapa tahu lo kepikiran seseorang gitu." ucap Sinta lagi.
" Kalau kalian penasaran kenapa tidak kalian ke depan aja sekalian." ucap Prasetia dengan nada dingin.
" Ye santai aja kali Pras, kenapa lo tiba tiba berubah ketus gitu, kayaknya ada yang panas nih." cibir Aditya sambil tertawa cekikikan.
****
Sementara itu ketika Tazkia keluar dari mansion ia melihat mobil yang tidak asing terparkir di halaman mansion miliknya.
" Dokter Faris?" ucap Tazkia sambil menatap ke arah laki laki yang tengah berdiri membelakanginya.
" Oh hai, apa aku datang terlalu pagi?" tanya Faris setelah berbalik badan.
" Oh tidak, mari masuk" ucap Tazkia sambil tersenyum.
" Tidak perlu di sini saja." ucap Faris dengan tersenyum ramah.
" Apa anda yakin? di dalam juga ada beberapa teman saya anda bisa bergabung jika anda mau." tawar Tazkia.
" Tidak perlu, saya ke sini hanya ingin memberikan ini kepadamu." ucap Faris sambil menyerahkan sebuah kotak kecil yang lantas membuat Tazkia menatapnya kebingungan.
__ADS_1
" Apa ini?" tanya Tazkia.
" Itu adalah hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih dariku, aku harap kamu mau mengenakannya pasti akan sangat cantik ketika di pakai kamu." ucap Faris yang lantas membuat Tazkia tersipu malu.
" Anda terlalu berlebihan, saya tidak pantas menerimanya anggap saja yang kemarin adalah sebagai bentuk balas jasa saya karena anda telah merawat saya selama ini ketika di rumah sakit." ucap Tazkia.
" Sudahlah kamu ambil saja, jika terus terus begini maka kita tidak akan selesai dan terus menerus saling mengungkapkan rasa terimakasih." ucap Faris seperti tidak ingin di bantah.
" Tapi dok ..." ucap Tazkia namun urung karena Faris langsung memotongnya.
" Tidak perlu sungkan, jika kamu ingin membalasnya traktir aku makan jika kamu ada waktu lenggang." ucap Faris sambil melangkah memasuki mobilnya.
" Baiklah kalau begitu kita sepakat." ucap Tazkia.
" Oke, kabari aku jika kamu sudah menemukan waktunya." ucap Faris sambil menyalakan mobilnya hendak pergi dari sana.
" Tentu." ucap Tazkia sambil melambaikan tangan ke arah Faris.
Setelah kepergian Faris, Tazkia menatap kotak tersebut dengan tatapan yang kosong namun kemudian perlahan lahan senyuman mulai terukir di mulut Tazkia.
" Aaaaaaaaaaa bukankah dia sungguh manis." ucap Tazkia sambil menggelayutkan dirinya dengan manja ke kanan dan ke kiri.
Disaat Tazkia sedang melayang membayangkan hal hal yang indah di benaknya, tiba tiba saja Tazkia mendengar suara yang langsung melemparnya ke dasar jurang.
" Udah napa gak usah lebai gitu, baru aja hadiah kecil udah melenyot aja, gimana kalau rumah atau bunga bank?" ucap Aditya.
Tazkia kemudian perlahan lahan menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari pintu di mana terlihat ketiganya sudah berdiri di sana memperhatikannya sedari tadi.
" Apa yang kalian lakukan di sana? kalian nguping ya?" tanya Tazkia penuh dengan selidik.
" Kagak la, enak aja." ucap Aditya.
" Mana ada maling yang ngaku coba?"
" Udah udah sebaiknya kita masuk saja yuk." ucap Prasetia kemudian.
__ADS_1
Bersambung