
"Ada hantu di kampus!" ucap Aditya lagi dengan pelan.
Mendengar hal itu baik Prasetia, Tazkia dan juga Sinta lantas menatap tak percaya ke arah Aditya. Pasalnya setiap tempat memang ada penunggunya, namun jika hanya sekedar sekelebat tidak mungkin Aditya akan seheboh itu bukan?
"Kalian selalu kurang update deh!" ucap Aditya kesal namun kemudian memberikan isyarat kepada ketiga temannya untuk sedikit lebih dekat agar bisa mendengarnya. "Kalian tahu? pagi tadi pak Ridwan di temukan pingsan di lorong dekat lapangan basket, katanya dia melihat penampakan hantu merayap di atap lorong." ucap Aditya lagi.
Deg
"Apa jangan jangan gadis yang jatuh dari atap gedung tempo hari itu?" batin Tazkia dalam hati.
"Kalau begitu kita selesaikan secepatnya Ki, aku tidak mau bermalam di sini dan ketemu hantu itu." ucap Sinta sambil langsung fokus melihat bukunya.
"Kau takut ya Sin.." goda Aditya.
"ADIT!" teriak Sinta dengan kesal hingga membuat beberapa mahasiswa lain menatap ke arah mereka.
"Stttt" ucap seorang petugas perpustakaan.
Sementara Sinta yang mendapat peringatan langsung sedikit menunduk meminta maaf karena telah menimbulkan suara gaduh.
Pffftt
"Diam gak lo! gara gara lo gue kena tegur." ucap Sinta kesal namun dengan nada setengah berbisik sedangkan Aditya hanya menahan tawanya saja sedari tadi.
"Tenang aja Sin jika harus pulang malam untuk selesaikan semua tugas lo, kita akan tunggu lo." ucap Tazkia dengan tersenyum. "Ya kan Dit, Pras?" imbuhnya sambil menatap ke arah Aditya dan Prasetia.
"Oke"
"Iya dengan terpaksa" ucap Aditya.
"Kampret Lo!"
Dengan begini Tazkia jadi punya alasan untuk pulang malam, jujur saja Tazkia penasaran dengan sosok hantu yang di katakan oleh Aditya barusan, bukan karena iseng atau apa? hanya saja di sudut pojok ruangan perpus Tazkia seperti melihat bayangan samar samar sosok merayap naik ke atap, mungkin karena ini masih siang dan keadaan sekitaran yang masih sangat ramai jadi Tazkia memutuskan untuk mengacuhkannya.
"Aneh sekali, kenapa sosok itu hanya merayap sambil bergumam tidak jelas? jika sosok yang lainnya pasti akan mencerca dan memaksa gue untuk menolongnya, tapi sosok ini seakan akan acuh dan tak ingin mengatakan apapun pada gue." ucap Tazkia dalam hati bertanya tanya sambil membolak balik bukunya.
__ADS_1
*********
Sementara itu di sebuah apartment.
Terlihat seluruh ruangan gelap tanpa penerangan, meski keadaan di luar masih siang namun tak ada satupun sinar matahari yang masuk karena seluruh ruangan tertutup oleh gorden.
Rafi terlihat meringkuk di samping kasur meratapi kesalahannya. Bayangan demi bayangan setiap adegan di rooftop beberapa waktu lalu terus berputar di benaknya, membuat dirinya hampir gila karena selalu memikirkannya.
"Aku seorang pembunuh! aku bahkan membunuh darah daging ku sendiri." ucapnya dengan bibir yang bergetar.
Oek oek oek
Suara tangis bayi mendadak memenuhi ruang kamarnya, membuat Rafi lantas bangkit dan menatap sekeliling mencari sumber suara namun tak kunjung ia temui.
"Hentikan! hentikan! aku tidak berniat membunuh mu! aku tidak melakukannya!" ucap Rafi sambil berteriak seperti orang gila dengan posisi kedua telinganya ia tutup agar tidak bisa mendengar suara tangisan bayi itu, namun sayangnya semakin ia menutup telinganya semakin kencang pula suara tangisan itu terdengar, membuat Rafi frustasi hingga melempar semua barang di dekatnya ke sembarang arah berharap dengan begitu suara tangisan itu menghilang dan berhenti mengganggunya.
********
Sementara itu di sebuah ruang kerja yang terletak di sebuah mansion milik Herman, Robi nampak masuk dan melangkah mendekat menuju meja kerja Herman.
"Sudah pak, semua sudah beres dan kasus di tutup dengan percobaan bunuh diri." ucap Robi dengan nada yakin.
"Bagus, lalu bagaimana dengan anak itu?"
"Semenjak wanita itu meninggal Rafi sama sekali tidak terlihat keluar dari apartemennya pak." lapornya lagi.
"Buat anak itu keluar, akan sangat mencurigakan jika seseorang mengetahui Rafi mengurung dirinya setelah kematian wanita itu." ucapnya sambil melepas kaca mata yang ia gunakan dan menaruhnya di meja.
"Baik pak, saya permisi." ucap Robi kemudian melenggang pergi dari ruangan Herman.
"Hanya masalah sepele saja harus aku yang turun tangan, dasar anak tak bisa di andalkan!" ucap Herman dengan nada yang kesal setelah kepergian Robi dari ruangannya.
**********
Kembali ke kampus
__ADS_1
Tazkia melangkahkan kakinya menuju ke arah wastafel setelah menyelesaikan panggilan alamnya, Tazkia menatap sekeliling dengan heran karena ia dengan yakin tadi dari dalam bilik kamar mandi Tazkia mendengar suara yang ramai sekali, tapi ketika dirinya keluar dari bilik keadaan sekitar kosong dan hanya tersisa dirinya seorang di sana.
"Bukankah tadi sepertinya ramai?" batin Tazkia. "Ah mungkin mereka sudah keluar tadi." ucapnya lagi sambil mencuci tangannya.
Crash
Air keran dari wastafel di sebelahnya mendadak menyala padahal tidak ada siapapun di sana, Tazkia yang mulai terbiasa dengan hal hal seperti ini lantas hanya bersikap biasa saja kemudian mematikan kran tersebut.
Dengan acuh tak acuh Tazkia kembali melanjutkan mencuci tangannya sambil sesekali membasuh mukanya. Tepat ketika air itu mengenai wajahnya lampu di toilet tersebut mendadak mati dan hidup berulang kali membuat Tazkia langsung berdecak kesal karena saat ini ia sedang tidak mood meladeni "mereka".
"Bisa gak biarin gue sehari aja... capek tahu!" gerutunya dengan kesal karena jika sudah begini pasti akan ada sosok hantu yang mungkin akan mengikutinya terus hingga Tazkia mau membantunya.
Setelah mengatakan hal tersebut ajaibnya lampu kembali menyala dengan normal dan suasana mendadak menjadi hening, membuat Tazkia lantas mengerutkan keningnya dengan bingung karena tumben hanya dengan mengatakan keluhannya gangguan yang ia dapat berhenti.
"Tumben?" ucapnya kemudian melenggang dari sana.
Niat hati ingin pergi dengan tenang malah sebaliknya, tepat ketika tubuh Tazkia berbalik sesosok gadis berambut panjang lantas berdiri tepat di depannya namun dengan posisi terbalik seperti tengah bergelantungan di atas, Tazkia yang melihat hal itu bukannya kaget malah memutar bola matanya jengah.
"Kamu tidak kaget?"
"Enggak" jawab Tazkia dengan datar kemudian berjalan lurus menembus sosok itu seakan akan seperti tidak ada apapun di depan Tazkia.
"Apa kamu mengingat ku?"
"..."
Tazkia tidak menanggapi dan terus berjalan keluar dari toilet hendak pergi ke kantin sebelum kembali ke perpustakaan. Merasa diacuhkan sosok itu tidak tinggal diam begitu saja dan terus mengikuti kemana langkah Tazkia.
"Kita pernah bertemu ketika kamu bersama seorang pria di lorong dengan langkah terburu buru."
(sekedar info sosok yang mengikuti Tazkia adalah sosok sama yang menghentikan Tazkia dan Doni kala itu, jika kalian lupa sosok ini pernah muncul ketika Tazkia kembali ke masa lalu bersama Doni di saat keduanya sedang melakukan tugas Di desa tanjung tari.)
"Aku tahu kamu mencari sosok hantu bisu bukan?"
Bersambung
__ADS_1