Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Membutuhkan bantuan ~ Desa tanjung tari #17


__ADS_3

Sementara itu Prasetia, Sinta dan juga Aditya langsung bergegas menuju ke arah rumah mbah Harjo dengan berlari secepat mungkin. Ketiganya lantas berlari dan terus berlarian, disaat ketiganya tengah berjuang keras untuk sampai ke rumah mbah Harjo, samar samar mulai terdengar alunan musik gamelan menyapa telinga ketiganya yang lantas membuat langkah mereka mendadak berhenti di tempat.


Hawa merinding dan tidak enak mulai menerpa ketiganya, mereka lantas saling pandang satu sama lain secara bergantian ketika bunyi gamelan tersebut terdengar semakin jelas.


" Kalian mendengarnya?" ucap Aditya "Lebih baik kita kembali ke rumah aja deh." ucap Aditya lagi dengan gerakan hendak mengambil langkah seribu.


" Lo mau kemana dit?" ucap Sinta sambil menarik baju Aditya.


" Mau balik lah." ucapnya lagi.


" Dit! Kia lagi nunggu kita dan lo mau balik gitu aja, come on dit lo keterlaluan banget kali ini." ucap Prasetia dengan kesal.


" Ta ... tapi ... suara itu kalian juga denger kan?" ucap Aditya lagi.


" Persetan dengan suara itu dit, kalau lo mau pergi pergi aja sendiri!" ucap Prasetia lagi sambil meninggalkan Aditya dan melanjutkan perjalanannya kembali.


" Kebangetan lo dit!" ucap Sinta sambil menunjuk tangannya ke arah Aditya kemudian berlalu pergi.


" Kok jadi gue yang disalahin, benar benar sial! geis tunggu." ucap Aditya kemudian ikut menyusul di belakang Prasetia dan juga Sinta.


Ketiganya lantas melanjutkan perjalanan mereka hingga sampai ke rumah mbah Harjo, diketuknya pintu rumah itu perlahan namun tidak ada jawaban, tak putus asa Prasetia mengetuknya kembali namun tetap saja tidak ada jawaban, karena tidak kunjung mendapat jawaban Aditya yang gemas lantas mengetuknya dengan cukup keras membuat Sinta yang berada di sebelahnya lantas menarik tangan Aditya agar menghentikannya.


" Lo gila ya dit? bertamu itu yang sopan!" ucap Sinta dengan kesal.


" Habis dari tadi orangnya gak keluar keluar juga." ucap Aditya dengan santainya.


Sedangkan Prasetia memilih melipir untuk mengecek rumah mbah Harjo dari samping berharap mbah Harjo akan mendengarnya dari sana, namun sayangnya ketika Prasetia hendak mengetuk, jendela kamar mbah Harjo perlahan terbuka, Prasetia yang melihat hal itu tentu saja tidak menyia-nyiakannya dan langsung mengecek keadaan.


" Mbah Harjo tidak ada di rumah geis." ucap Prasetia dari arah samping rumah membuat Aditya dan juga Sinta langsung menoleh kearahnya.


" Lalu?" tanya Aditya dan juga Sinta bersamaan.


" Kita cari bantuan lain sekarang."

__ADS_1


" Iya tahu, tapi caranya gimana?" tanya Aditya dengan gemas.


" Kita berpencar dan coba minta bantuan warga." ucap Prasetia yang dibalas anggukan oleh keduanya.


Setelah sepakat akan rencana Prasetia baik Sinta maupun Aditya lantas berpencar dan mencoba mengetuk pintu rumah warga siapa tahu ada yang mau membantu mereka menolong Tazkia.


Tok tok tok


" Pak permisi, pak tolong kami pak ..." ucap Prasetia sambil mengetuk pintu salah seorang warga.


Tok tok tok


" Pak tolong kami pak ..." ucap Sinta di salah satu rumah lain sambil terus mengetuk pintu rumah warga lainnya.


Tok tok tok


" Pak help me please .... yuhu ... sepada ...." teriak Aditya sambil ikut menggedor salah satu rumah warga yang lainnya.


Tok tok tok


Ketika rasa putus asa mulai menerpa pintu rumah perlahan terbuka namun hanya sedikit, Aditya yang melihat hal itu lantas tidak mau menyianyiakan waktu kemudian menahan pintu agar tidak kembali tertutup.


" Pak tolong kami pak." ucap Aditya sambil menahan pintu rumah, sedangkan Prasetia dan juga Sinta yang mendengar hal itu lantas langsung berlarian dan mendekat ke arah Aditya.


" Pak tolong kami, teman kami di culik pak! kami butuh bantuan." ucap Prasetia dengan nada yang memohon.


Bapak tersebut melihat ke arah Prasetia, Sinta dan juga Aditya secara bergantian dan memastikan bahwa yang di depannya benar benar manusia.


" Sebaiknya kalian kembali ke rumah saja, besok pagi baru kita cari teman mu." ucap bapak bapak tersebut sambil hendak menutup pintu namun di tahan oleh Aditya.


" Kita tidak bisa menunggu pak, teman kita dalam bahaya." ucap Prasetia lagi.


" Menunggu lebih baik dari pada nanti terjadi musibah, apa kalian tidak mendengar bunyi gamelan itu? sudah cukup beberapa warga yang hilang kemarin, jika kita terus memaksa maka akan semakin banyak korban! sebaiknya kalian pulang." ucap bapak itu kemudian menutup pintunya secara paksa.

__ADS_1


" Tapi pak ... pak ... buka pintunya pak ..." ucap Prasetia dan juga Aditya dengan terus menggedor pintu rumah bapak itu.


" Ini tidak bisa geis, kita harus mencari jalan lain." ucap Sinta kemudian.


" Benar benar sialan!" teriak Aditya dengan kesal.


.....................


Kembali kepada Tazkia.


" Rembulan purnomo bangkitno kesaktian, kesucian lan keabadian. Lintang dadio seksi ilmu lan keajaiban, dadio dadio dadio." ucap Roman dengan nada suara sedikit berteriak di barengi alunan gamelan yang bersahutan dengan ucapan orang orang yang terus menyerukan kata "Dadio".


Setelah mantra terucap setetes demi setetes air mulai turun membasahi Tazkia di barengi bau bunga yang menyeruak menusuk hidungnya secara berkali kali, seperti sengaja dicipratkan ke seluruh tubuh Tazkia.


" Air apa ini?" ucap Tazkia dalam hati.


Hawa tak enak mulai menyelimuti area sekitar Tazkia, firasat tak enak mulai mengelilingi Tazkia karena ia tak kunjung mendapat pertanda dari Doni sedari tadi. Mungkinkah Doni menipunya? apakah Tazkia benar benar berakhir menjadi tumbal mereka?


Ketika Tazkia di landa rasa penyesalan karena percaya kepada Doni, tiba tiba Tazkia seperti mendengar suara mirip Doni menyapa telinganya yang sepertinya hanya bisa di dengar oleh Tazkia seorang (atau yang biasa kita sebut telepati).


" Ki sekarang saatnya, ketika hitungan ketiga lo langsung bangkit dan bersiap lari." ucap Doni yang bertelepati dengan Tazkia.


Satu ... Dua ... Tiga ...


Klik


" Sekarang ki!" ucap Doni.


Sesuai arahan Doni perlahan Tazkia membuka matanya, ketika matanya terbuka ia baru menyadari keadaan di sekitar begitu gelap sepertinya ini adalah ulah Doni yang mematikan semua obor. Tazkia kemudian lantas bangkit dan bersiap melarikan diri, terdengar suara riuh orang yang kebingungan karena obor yang tiba tiba mati, sedangkan Roman nampak terdengar berteriak dengan kesal memerintahkan seseorang untuk segera menyalakan obor di sana. Karena malam itu sedang terjadi purnama maka keadaan tidak terlalu begitu gelap karena sinar rembulan yang terpancar ke arah bumi, memang tidak ada bedanya antara obor yang menyala atau tidak namun dengan kericuhan yang Doni timbulkan di tengah obor yang mati setidaknya bisa mengalihkan perhatian Roman dan kelompoknya terhadap Tazkia yang hendak kabur.


" Aku harus segera pergi dari sini!" ucap Tazkia dalam hati yang berjalan dengan mengendap endap dan berusaha untuk tidak menabrak seseorang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2