
" Sudah sudah kenapa kalian jadi ribut!" ucap Tazkia berusaha menengahi mereka berdua.
Mendengar hal itu Aldo bukannya tenang ia malah makin kesetanan dan tanpa sengaja mendorong Tazkia hingga ia terjerembap jatuh ke belakang dengan cukup keras.
" Aw" teriak Tazkia.
Prasetia, Sinta dan juga Aditya yang sedang bercengkrama di dalam lantas langsung keluar kala mendengar ribut ribut di halaman belakang, ketika mereka sudah sampai di sana mereka sudah melihat Tazkia yang tersungkur di tanah sedangkan Aldo dan Doni tengah beradu mulut dengan suasana yang kian menegang. Prasetia yang melihat hal itu tentu saja marah ia kemudian langsung menghampiri keduanya dan menarik tangan Doni agar menjauh, sedangkan Aditya langsung dengan sigap memegangi Aldo yang nampak menyolot sejak dari tadi dan Sinta ia langsung berlari menghampiri Tazkia kemudian membantunya bangkit berdiri.
" Ada apa dengan kalian berdua sebenarnya? apa kalian tidak lihat Tazkia sampai jatuh seperti itu!" teriak Prasetia sambil memisah mereka berdua dengan posisi Aldo yang tubuhnya dipegangi oleh Aditya.
" Lepaskan aku!" bentak Aldo sambil meronta.
" Santai bro, asal lo udah tenang gue pasti lepasin lo." balas Aditya dengan santainya.
" Ku bilang lepas!" ucapnya lagi dan kali ini sedikit mendorong tubuh Aditya agar melepaskannya.
Mendapat dorongan tersebut Aditya kemudian langsung melepaskan pegangannya pada Aldo, setelah pegangan Aditya terlepas Aldo kemudian langsung melenggang pergi entah kemana meninggalkan semua orang yang menatap kepergiannya sedari tadi.
" Aku minta maaf telah membuat suasana menjadi tidak enak." ucap Doni kemudian setelah kepergian Aldo.
" Sebenarnya kalian berdua ada masalah apa sih?" tanya Tazkia.
__ADS_1
" Hanya masalah keluarga yang tak kunjung menemukan jalan keluar, aku masuk kedalam dulu." ucap Doni kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah. " Ingat pesan ku tadi ki!" ucap Doni dalam telepati nya kepada Tazkia kemudian melenggang pergi.
" Kita butuh penjelasan ki! tapi sebelum itu obati dulu luka ditangan mu, baru kita bicara." ucap Prasetia kemudian sambil menatap ke arah Tazkia.
*********
Sementara itu Aldo yang nampak kesal lantas langsung pergi masuk ke dalam hutan menuju suatu tempat yang sering ia datangi belakangan ini. Aldo mempercepat langkahnya terus menelusuri setiap jalan bebatuan serta rerumputan yang semakin masuk ke dalam. Setelah melewati beberapa tikungan serta rerumputan tinggi pada akhirnya Aldo sampai disebuah bangunan tua yang mirip dengan pondok di tengah tengah hutan.
Aldo melangkahkan kakinya memasuki pondok tersebut, suasananya begitu gelap tanpa penerangan lampu sama sekali di dalamnya. Aldo kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan korek api untuk menyalakan lilin dan lampu petromak sebagai penerangan.
" Ah sepertinya dia sedang menyelamatkan putrinya lagi kali ini, benar benar membosankan ketika dirimu harus mengulang ulang kejadian yang pernah terjadi." ucap Aldo kemudian mendudukkan bokongnya pada sebuah kursi yang terletak tepat menghadap ke arah jendela pondok tersebut.
Aldo kemudian menerawang jauh ke belakang mengingat masa masa kelamnya dahulu sebelum bertemu dengan Doni. Hidup Aldo dulu benar benar berantakan, masa kecil di panti asuhan, bekerja siang dan malam demi bisa bersekolah dengan layak sampai kemudian ia mendapat beasiswa di salah satu universitas ternama di ibu kota, sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa apalagi mengingat Aldo yang hanya sebatang kara. Hingga kemudian kehidupannya berubah setelah bertemu dengan Doni, Doni datang padanya dan merangkulnya di saat semua teman teman kampusnya lebih memilih menjauh darinya karena Aldo bukanlah dari kalangan atas.
Namun belakangan baru ia ketahui bahwa ternyata Doni adalah saudara kembarnya dulu yang terpisah selama belasan tahun. Awalnya Aldo percaya ketika Doni mengatakan bahwa mama tak sengaja kehilangannya ketika berada di taman bermain, namun ketika ia berhasil menjadi time traveler dan kembali ke masa lalu ketika ia hilang, betapa terkejutnya Aldo ternyata ibu mereka sengaja membuangnya waktu itu karena keadaan yang sulit di tambah dengan keuangan mereka yang sedang pas pasan, di saat itu membuat orang tua mereka memutuskan untuk membuang salah satu anak mereka, karena bagi mereka merawat dua anak akan membutuhkan biaya yang besar.
Aldo sungguh terpukul kala mengetahui hal itu, kenyataannya sungguh berbanding terbalik dengan apa yang di katakan Doni, Aldo tidak marah dengan Doni ia malah sangat senang karena Doni masih mengingatnya, hanya saja kenyataan pahit yang di terimanya atas ulah kedua orang tuanya membuat Aldo terkadang kesal dan marah ketika melihat wajah Doni, karena wajahnya mengingatkan Doni kepada masa lalu yang menyakitkan baginya.
Aldo menarik nafasnya berulang kali, memikirkan masa lalu dirinya selalu saja membuat dadanya sesak, ia benar benar membenci keadaan, sampai ketika ia bertemu dengan Roman yang menjanjikan perubahan yang luar biasa pada kehidupannya, kehidupan Aldo selanjutnya benar benar berubah, ia bahkan bisa merubah masa lalu semaunya, meski tanpa sadar bukan masa lalu yang berubah melainkan alur menuju ke masa depan yang berubah. Padahal tidak akan ada takdir yang berubah, mereka hanya tertunda karena alur yang terus di ubah olehnya.
Di saat Aldo tengah berwisata ke masa lalu tanpa ia sadari Roman baru saja sampai kembali dari masa lalu. Roman kemudian berjalan mendekat dan langsung duduk di sebelah Aldo.
__ADS_1
" Ada apa kau kesini?" tanya Roman yang tentu saja membuat Aldo terkejut karena tengah melamun sedari tadi.
" Kau sudah datang rupanya guru." ucap Aldo kemudian bangkit dan membenahi posisi duduknya.
" Katakan ada apa?" tanyanya lagi karena Aldo tak kunjung menjawabnya.
" Sepertinya kita harus mempercepat rencana kita, aku takut jika Doni akan mengacaukannya." ucap Aldo kemudian.
Mendengar hal itu Roman lantas hanya mengetuk ketukan jarinya pada pegangan kursi yang sedang ia duduki.
" Kita tidak bisa melakukannya sembarangan." ucapnya kemudian.
" Apa lagi yang kau tunggu? kita tinggal membawanya ke sini kemudian mengajaknya bergabung dan selesai, kenapa kau memperlambat waktu lagi?" ucap Aldo dengan kesal.
" Ku bilang tunggu ya tunggu! aku tidak yakin dia akan mau di ajak bergabung, maka dari itu aku punya rencana cadangan jika dia tidak mau bergabung dengan kita." ucap Roman setengah berteriak karena kesal akan sikap Aldo yang terlalu terburu buru.
" Lalu apa rencana guru kali ini?"
" Kita tunggu sampai bulan purnama, karena kekuatan seperti miliknya akan berkumpul tepat ketika bulan purnama, setelah itu barulah kita serap semua energinya, hal itu lebih menyenangkan ketimbang mengajaknya bergabung dan ia yang lebih mendominasi di sini!" ucap Roman kemudian dengan tersenyum sinis menatap ke arah Aldo di tengah cahaya temaram dari lilin.
Bersambung
__ADS_1