Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Tidak hanya sekali ~Tugas terakhir (Ambulans) #3


__ADS_3

Aditya dan Prasetia yang memang sedang suntuk lantas mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Sinta untuk mencari angin, badan keduanya sedikit terasa pegal pegal karena memang semalaman tidur di sofa dengan posisi yang salah.


"Ada apaan tuh Pras rame rame?" tanya Aditya ketika melihat beberapa orang nampak berkumpul di area lobi rumah sakit tempat biasannya para perawat menunggu kedatangan ambulans yang membawa seorang pasien.


"Entah" jawab Prasetia singkat seakan acuh tak acuh.


Aditya yang memang di buat penasaran lantas langsung menarik tangan Prasetia mendekat ke arah kerumunan, sedangkan Prasetia yang memang tidak terlalu kepo hanya mengikuti arah tarikan Aditya saja tanpa banyak protes.


"Permisi ada apa ya pak?" tanya Aditya pada seorang bapak bapak yang sedang ikut berkerumun di sana.


"Itu ada pasien yang di tinggalkan begitu saja di dalam ambulans, tidak ada yang tahu siapa pengemudi ambulans maupun perawat yang waktu itu menjemput pasien." ucap bapak bapak itu menjelaskan.


Aditya yang mendengar cerita itu lantas langsung terdiam karena cerita bapak tersebut mirip yang di alaminya ketika kemarin Sinta kecelakaan.


"Tapi pasiennya tidak apa apa kan pak?" tanya prasetia kemudian.


"Untung saja bukan pasien darurat jadi masih bisa tertolong." ucap bapak itu lagi.


Aditya kemudian lantas menarik Prasetia dan membisikkan sesuatu. "Sepertinya ambulans di rumah sakit ini aneh Pras karena apa yang di alami pasien itu sama dengan apa yang terjadi padaku dan juga Sinta kemarin." bisik Aditya namun Prasetia hanya menatapinya dengan bingung karena Aditya tidak pernah membahas apapun soal ini padanya.


Setelah pembicaraan singkat itu baik Aditya dan juga Prasetia lantas melipir dan melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit.


**


Kantin


"Ini sudah benar benar gak wajar sih, soalnya kejadian pasien di dalam ambulans itu tidak hanya terjadi sekali namun berkali kali. Apa menurut mu pak Eko yang melakukannya?" ucap seorang perawat yang tengah makan sambil mengobrol membuat Aditya dan juga Prasetia yang berada tepat di belakang kedua perawat itu, lantas terdiam sambil sedikit menguping pembicaraan mereka.


"Hus jangan sembarangan kamu, pak Eko udah meninggal mana bisa menyetir ambulans? ada ada aja kamu." ucap perawat yang satunya.


Ketika kedua perawat tersebut asyik bergibah seorang perawat lainnya nampak datang mendekat ke arah keduanya membuat keduanya langsung terdiam ketika melihat kedatangannya.


"Kalian berdua di cariin dokter Arga tuh ada pasien darurat di UGD." ucap perawat yang baru saja datang memberikan pesan kepada keduanya.

__ADS_1


"Iya baik kami akan segera ke sana" ucapnya sambil bangkit dan melenggang pergi dari sana di ikuti yang lainnya.


Setelah kepergian dua perawat tadi Aditya lantas menatap ke arah Prasetia dengan tatapan bergidik ngeri.


"Jangan bilang... yang mengemudikan ambulans kemarin adalah sosok hantu pak Eko..." ucap Aditya kemudian.


"Jangan ngawur kamu Dit, mana bisa hantu menyentuh barang barang apalagi sampai menyetir? mungkin ini hanya karena petugasnya yang lalai saja." ucap Prasetia mencoba untuk berpikir positif.


"Bisa aja kali Pras, lagi pula kita juga sudah melihatnya beberapa kali bukan? jadi jika hanya untuk menyetir tentu saja mereka ahlinya." ucap Aditya seakan tidak setuju dengan pendapat Prasetia barusan.


"Terserah padamu" ucap Prasetia kemudian sambil terus memakan soto madura yang tadi di pesannya.


***


Sementara itu di ruang kamar inap di mana Sinta di rawat, terlihat Tazkia sedang menatap kosong ke arah dinding rumah sakit dengan berbagai pertanyaan yang berkeliaran di kepalanya. Ditolehnya perlahan ranjang pasien dimana terlihat Sinta tengah terlelap setelah meminum obatnya barusan.


"Aku yakin ada sesuatu yang salah, hanya saja aku bingung harus memulainya dari mana?" ucap Tazkia sambil kembali menatap ke arah dinding bercat warna putih itu.


"Ambulans! mungkin aku akan menemukan jawabannya di sana, ya nanti malam aku akan ke sana dan melihatnya." ucap Tazkia kemudian seperti mendapat solusi dari masalahnya.


Tak berapa lama Aditya dan juga Prasetia nampak kembali masuk ke dalam ruang rawat Sinta dengan membawa bungkusan berisi makanan untuk Tazkia.


"Apa yang sedang kau pikirkan Ki?" tanya Aditya dengan cukup keras yang langsung membuyarkan lamunan Tazkia.


"Stttt bisakah kau tidak berisik? Sinta baru saja tertidur." ucap Tazkia setengah melotot.


"Sorry" ucap Aditya singkat sambil mendudukkan dirinya di sofa begitu pula Prasetia.


"Memangnya tadi kau sedang apa Ki?" tanya Prasetia kemudian dengan nada yang lebih lirih daripada Aditya tadi.


"Tidak ada, hanya sedang menyambungkan benang merah dan mencoba menemukan ujung dari keduanya." ucap Tazkia singkat namun berhasil membuat Aditya dan juga Prasetia saling pandang satu sama lain karena tidak mengerti akan ucapan Tazkia barusan.


"Ki jangan aneh aneh, bukankah kamu sudah berjanji akan mendiskusikannya dulu dengan kami?" ucap Prasetia kemudian yang sedikit curiga dengan gerak gerik Tazkia.

__ADS_1


Sedangkan Tazkia yang mendapat peringatan itu dari Prasetia lantas tersenyum seakan akan telah tertangkap basah oleh Prasetia.


"Apa terlalu terlihat ya?" ucap Tazkia kemudian dengan tersenyum cengengesan.


"Lo sudah berteman lama dengan kami Ki, bau kentut lo aja kita hapal jadi jangan coba coba untuk kibulin kita..." ucap Aditya kemudian.


"Adittttt" teriak Tazkia dengan kesal karena mendengar perkataan Aditya barusan.


"Sttttt" ucap Prasetia dan Aditya secara bersamaan membuat Tazkia mengurungkan niatnya untuk mengomeli Aditya.


"Jadi Ki katakan ada apa?" tanya Prasetia kemudian.


Tazkia yang mendapat pertanyaan itu pada akhirnya mau tidak mau menceritakan segala hal yang menjadi unek uneknya dan dialami beberapa hari ini. Mulai dari kejadian suara sirine ambulans yang ia dengar, sosok hantu perawat, hingga bayangan putih yang selalu ia lihat secara sekelebat.


"Tuh kan Pras! gue gak halu Kia aja ngerasain." ucap Aditya senang seakan mendapat seseorang yang ada di pihaknya.


"Iya iya iya puas kan?" ucap Prasetia kemudian sambil memutar bola matanya jengah. "Jadi apa pendapat mu tentang ini Ki?" tanya Prasetia kemudian.


"Aku akan mencoba melihat ambulans itu malam ini, aku yakin ada cerita di balik ini semua." ucap Tazkia dengan yakin.


"Kalau begitu aku juga ikut" ucap Prasetia memutuskan di ikuti anggukan kepala oleh Aditya tanda setuju.


"Tunggu sebentar! jika kalian berdua ikut lalu siapa yang akan menjaga Sinta di sini? harus ada salah satu yang di sini." ucap Tazkia menatap ke arah Aditya dan juga Prasetia secara bergantian seakan meminta pendapat pada keduanya.


"Lo yang tinggal" ucap Prasetia dan juga Aditya secara bersamaan membuat keduanya lantas saling tatap satu sama lainnya.


"Enak aja gak bisa pokoknya lo yang di sini Pras!" ucap Aditya tidak ingin di ganggu gugat.


"Udah lo lebih baik di sini aja Dit biar gak bikin rusuh." timpal Prasetia tak mau kalah.


Dan pada akhirnya antara Prasetia dan juga Aditya malah terlibat saling adu malut dan tidak ada yang ingin mengalah diantara keduanya sama sekali, hingga membuat Tazkia yang juga berada di sana menjadi pusing, bingung harus memihak yang mana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2