
Pagi ini Aditya melajukan mobilnya menuju ke arah mansion Tazkia, kali ini Aditya tidak sendiri, seperti biasa dimana ada Aditya di situ pasti akan ada Sinta dan juga Prasetia di sana.
Mobil yang di tumpangi ketiganya membelah jalanan ibu kota, sebenarnya hari ini adalah hari libur karena tidak ada kerjaan ketiganya kemudian memutuskan untuk pergi ke mansion Tazkia, yang dapat dipastikan Tazkia mungkin saat ini sedang kencan atau asyik bermanja manjaan, bukan Aditya kalau tidak mempunyai hal iseng, hingga pada akhirnya Aditya sengaja membohongi Prasetia dan Sinta untuk ikut ke mansion Tazkia dengan alasan ingin kumpul kumpul bersama dan keduanya mengiyakan ajakan Aditya, padahal jika mereka tahu Tazkia tengah berkencan mereka pasti tidak akan mau mengacaukannya.
Mobil yang di kendarai Aditya berhenti tepat di halaman utama, dan seperti dugaan Aditya di sana sudah terlihat mobil Faris terparkir rapi di halaman.
"Maaf Ki." batin Aditya dalam hati.
"Dit lo yakin Kia nyuruh kita kumpul di mansionnya? bukankah itu mobil Faris?" tanya Sinta kemudian kala melihat mobil Faris terparkir di sana.
Mendengar hal itu Aditya hanya cengengesan seakan ia sudah tertangkap basah karena telah berbohong.
"Lo ya Dit kebiasaan deh, mending putar balik aja daripada harus merusak acara kencan orang." ucap Prasetia kemudian.
"Yah kitakan udah sampai sini." ucap Aditya kecewa.
"Ya gak bisa dong Dit, jangan aneh aneh deh." imbuh Sinta.
Ketika ketiganya sedang meributkan sifat usil Aditya kaca mobil terdengar di ketuk dari luar, mendengar hal itu tentu saja langsung menghentikan percakapan mereka dan spontan menoleh ke arah sumber suara.
Perlahan Aditya menurunkan kaca mobilnya dan di sana terlihat Faris dan juga Tazkia tengah menatap ke arahnya.
"Kalian di sini?" tanya Tazkia kepada ketiganya.
"Iya nih gara gara si Adit!" ucap Sinta dengan kesal.
"Yah sayang sekali padahal kita berdua mau pergi." ucap Tazkia dengan nada tidak enak.
Mendengar hal itu ketiganya lantas terdiam, sedangkan beberapa detik kemudian Sinta dan juga Prasetia menatap kesal ke arah Aditya karena ini semua adalah ide usilnya.
"Em bagaimana kalau kalian ikut sekalian, aku dan Tazkia hendak mengecek rumah baca milikku yang baru 90 persen jadi sebelum pembukaan." ucap Faris memberikan ide.
__ADS_1
Mendengar hal itu Tazkia langsung menoleh menatap ke arah Faris seakan bertanya lewat bahasa isyarat, apakah Faris yakin akan ajakannya? karena Tazkia tahu ketiga temannya yang tidak bisa diam ini pasti akan mengganggu acara kencan mereka berdua. Dan tanpa di duga Faris malah tersenyum menatap ke arah Tazkia kemudian mengacak acak gemas rambut Tazkia.
"Bagaimana? apa kalian jadi ikut?" tanya Faris lagi.
Ketiganya kemudian saling tatap satu sama lain bingung antara mengiyakan ajakan Faris atau menolak, sampai pada akhirnya mereka memilih ikut.
"Baiklah"
Mendengar jawaban itu Faris tersenyum kemudian menggandeng tangan Tazkia untuk masuk ke mobil, setelah itu mobil yang di kendarai Faris mulai melaju diikuti mobil Aditya menuju rumah baca yang dibicarakan Faris tadi.
**
Di dalam mobil yang di kendarai Faris.
"Maaf aku mengacaukan kencan kita." ucap Tazkia kemudian karena merasa tak enak dengan Faris.
Mendengar hal itu tangan kiri Faris langsung naik dan mengelus lembut rambut Tazkia.
"Kenapa harus minta maaf? aku senang mereka juga ikut, lagipula jika aku dekat dengan sahabat pacar ku sendiri, bukankah itu bagus?" ucapnya sambil tersenyum sekilas kemudian kembali fokus menatap jalanan.
"Santai saja." jawab Faris kemudian seakan menenangkan hati Tazkia yang tengah gelisah.
***
Dua puluh menit kemudian mobil keduanya sampai di sebuh halaman rumah kaca, tempatnya tidak terlalu jauh dari pusat kota dan cukup strategis bila di jangkau dari beberapa sekolahan yang terletak di ibu kota karena memang Faris memilih tepat di tengah tengah, agar apabila ada anak anak sekolah ataupun orang orang sekitar yang sedang mencari buku atau referensi, bisa langsung mampir ke rumah baca tanpa harus berpergian ke tempat yang jauh.
Satu persatu nampak turun dari mobil dan menatap sekeliling, suasananya sungguh enak, tempatnya juga luas dan nyaman membuat orang betah untuk berlama lama di sini.
Faris kemudian mengajak Tazkia dan teman temannya masuk ke dalam untuk melihat lihat.
"Maaf sedikit berantakan karena memang belum sepenuhnya selesai." ucap Faris kala sudah masuk ke dalam.
__ADS_1
"Santai saja" ucap Prasetia.
Di beberapa bagian memang masih berantakan dan belum tersusun sepenuhnya, namun untuk rak buku sudah di tata rapi di buat bersap sap, tidak hanya itu ada beberapa permainan yang di tujukan untuk anak anak di sudut paling ujung tempat ini, Aditya bahkan sampai berdecak kagum melihat bagian dalam rumah baca milik Faris, begitu lengkap dan indah membuat siapa saja yang mampir di sini pasti akan betah akan fasilitas yang di sediakan di sini, mulai dari mushola, play ground, cafe, dan tentunya ribuan buku yang tersusun rapi di rak, hanya saja untuk saat ini masih berantakan mungkin hanya tinggal beberes sekitaran dan finishing tempat ini sudah bisa di buka.
"Gila nih tempat lengkap bet kaya nasi uduk." ucap Aditya, sedangkan yang lainnya menatap aneh ke arah Aditya karena persamaannya yang nyeleneh.
"Lo laper Dit?" tanya Tazkia kemudian.
"Hehehe ketahuan ya?" ucap Aditya dengan cengengesan.
"Aku akan memesankan kalian makanan, sebelum itu datang, kalian santai saja anggap seperti tempat sendiri." ucap Faris kemudian melenggang pergi dari sana.
"Aditya lo kebiasaan ya malu maluin tahu." ucap Sinta dengan kesal.
"Namanya juga lagi laper, memang salah ya?" ucap Aditya dengan acuh.
"Ya gak salah sih Dit, cuman waktunya aja yang kagak tepat." ucap Tazkia dengan datar.
"Iya iya maaf" ucapnya kemudian.
Sambil menunggu pesanan datang, keempatnya kemudian berkeliling rumah baca sambil melihat lihat sekalian ikut membersihkan ruangan tersebut, hitung hitung sekalian membantu Faris mempersiapkan segalanya.
Tazkia dan Sinta membantu menyapu ruangan, sedangkan Prasetia dan juga Aditya membantu mengangkat barang barang yang tidak di perlukan di sana.
"Berang yang tidak di perlukan di taro di mana?" tanya Aditya.
"Taro saja di gudang, itu di sebelah sana." ucap Faris yang terlihat muncul dari sebuah ruangan sambil menunjuk ke arah gudang.
"Baiklah" ucap Aditya kemudian melangkah ke arah gudang yang tadi di tunjuk oleh Faris.
Aditya dan Prasetia terus melangkahkan kakinya ke arah gudang, setelah sampai di sana Prasetia kemudian mulai membuka pintu gudang dan masuk ke dalamnya bersama Aditya. Keduanya menyusun barang barang yang mereka bawa di sudut sebelah kiri ruangan.
__ADS_1
"Gila si dokter itu, bahkan gudangnya aja serapi ini, gimana keadaan rumahnya ya? pasti simetris sekali." celetuk Aditya sambil memandangi seluruh isi gudang satu persatu.
Bersambung