
Mansion milik Faris.
Terlihat Tazkia nampak melamun dengan pandangan yang kosong ketika Faris mensterilkan luka dan mengobatinya, bahkan Tazkia tak mengadu kesakitan sama sekali ketika Faris melakukannya. Faris menghela nafasnya panjang ketika ia sudah menyelesaikan segalanya.
" Aku tahu kata kata ku mungkin tidak akan bisa menghibur mu, tapi aku harap kamu bisa merelakan kepergian Doni, apa kamu tidak melihat senyumnya ketika ajal menjemputnya? ia tampak bahagia bukan? sama sekali tidak ada penyesalan dalam raut wajahnya." ucap Faris sambil mengelus pelan dan membenarkan anak rambut Tazkia yang menjuntai menutupi wajahnya.
Tazkia hanya menatap ke arah Faris tanpa menjawab ataupun menanggapi ucapan Faris barusan.
"Sudah saatnya kamu pulang, teman teman mu dan juga aku di masa depan pasti sedang mencari mu sekarang." ucap Faris.
"Aku... aku merasa seperti terlalu egois, bukankah harusnya aku yang mati saja?" ucap Tazkia dengan nada sendu.
"Ssstttt jangan bicara seperti itu, jika kamu terus seperti ini maka Doni akan menganggap pengorbanannya sia sia, tersenyumlah karena Doni pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini." ucap Faris lagi menyemangati Tazkia.
Tazkia kemudian memeluk tubuh Faris lagi dan lagi meluapkan rasa kecewanya dengan menangis, Faris menerima pelukan Tazkia dengan tangan terbuka, ditepuknya pelan pundak Tazkia untuk memberikannya ketenangan.
"Sekarang pergilah, teman teman mu sudah menunggu." ucap Faris yang di balas Tazkia dengan anggukan kepala.
Tazkia kemudian lantas berdiri sambil mengeluarkan liontin miliknya, kemudian memutar waktu ke masa depan dan menekan benda kecil di atas liontin itu.
*****
Beberapa detik kemudian Tazkia menatap sekeliling mengamati apakah dia sudah kembali ke waktu seharusnya, di tatapnya kursi ruang tengah mansion milik Faris dan di situ sudah kosong, yang menandakan Tazkia telah kembali ke masanya. Tazkia menarik nafasnya perlahan kemudian ia hembuskan lagi dan lagi, pikirannya ia pusat kepada Desa tanjung tari secara berulang sambil memejamkan matanya.
Dan yang selanjutnya terjadi bisa kalian tebak, Tazkia sampai di Desa tanjung tari tepatnya di rumah yang menjadi persinggahannya bersama teman temannya selama hampir satu bulan lamanya.
"Sepi? apa karena udah malam ya?" ucap Tazkia sambil menatap sekeliling. "Tidak mungkin kalau mereka tidur karena sekarang pukul 3 dini hari itu artinya 3 jam setelah aku di bawa Aldo dan juga Doni ke dalam hutan untuk ritual itu." imbuh Tazkia.
Pada akhirnya Tazkia memutuskan untuk masuk ke dalam hutan menyusul teman temannya, baru beberapa langkah dari kejauhan Tazkia melihat sebuah cahaya yang timbul seperti dari sebuah obor, Tazkia menajamkan pandangannya dan menerka nerka cahaya apa itu.
__ADS_1
" Kia!" ucap seseorang yang ternyata adalah Sinta, sambil berlarian dengan raut wajah yang bahagia Sinta langsung memeluk Tazkia cukup lama di susul dengan Prasetia dan juga Aditya di belakangnya.
"Kalian dari mana saja?" tanya Tazkia sambil melepas pelukan Sinta dan bergantian menatap ketiganya.
"Harusnya yang tanya begitu itu kami ki." timpal Aditya.
Sedangkan Tazkia hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Aditya.
"Sudahlah yang penting Kia sudah selamat bukan? sebaiknya kalian pergi istirahat saja karena besok siang kita akan kembali ke Jakarta" ucap Prasetia.
"Tunggu sebentar, bagaimana keadaan Doni dan Aldo?" ucap Tazkia yang lantas mendapat tatapan bingung dari ketiganya. "Ada apa dengan wajah kalian? apakah gue salah bicara?" tanya Tazkia.
"Ki apa lo sudah lupa? kalau Doni meninggal sebelum hari keberangkatan kita sedangkan Aldo menjadi tersangka utamanya, dan luka itu..." ucap Sinta dengan lirih tak berani meneruskannya, membuat Tazkia semakin bingung akan sikap teman temannya.
"Tidak mungkin..." ucap Tazkia dalam hati.
"Sebaiknya lo istirahat ki." ucap Prasetia memotong pembicaraan keduanya.
Disaat ketiganya sedang dilanda kebingungan akan ucapan Tazkia. Dari arah belakang Faris muncul bersama Harjo datang mendekat ke arah Tazkia.
"Syukurlah kalau kamu baik baik saja nak, mbah mewakili Roman anak mbah meminta maaf, mbah tidak tahu jika Roman masuk ke dalam aliran sesat itu." ucap Harjo dengan nada yang menyesal akan perbuatan putranya.
"Tak apa mbah, lagi pula saya baik baik saja." balas Tazkia yang lantas di balas tatapan tajam dari Aditya yang tidak terima dengan ucapan Tazkia barusan.
"Gak bisa gitu dong ki ......" ucap Aditya namun tertahan karena mulutnya langsung di bekap oleh Prasetia yang mengetahui Aditya akan mengatakan hal apa.
"Mbah santai saja, alhamdulilah Kia baik baik saja jadi kita bisa sedikit lebih lega." ucap Prasetia.
"Baiklah kalau begitu kalian beristirahatlah terlebih dahulu, kita lanjutkan segalanya besok, kalian pasti lelah." ucap Harjo. "Untuk pak dokter, bapak bisa tidur di rumah saya, jika anda tidak keberatan." ucapnya kepada Faris.
__ADS_1
"Tidak perlu pak." ucap Faris.
"Baiklah kalau begitu saya permisi." ucapnya kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Harjo, Tazkia langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Faris dan berbisik.
"Bagaimana dengan urusan Doni dan juga Aldo?" ucap Tazkia dengan nada berbisik agar tidak terdengar teman temannya.
Mendengar hal itu Faris tersenyum karena ia tahu di depannya Prasetia tengah melihatnya dengan tatapan cemburu, alhasil Faris sengaja tersenyum genit untuk membuat Prasetia semakin cemburu, ya secara tidak langsung hampir mirip dengan seekor singa yang tengah menandai buruannya, memang bukan saat yang tepat untuk melakukan hal itu, hanya saja Faris terlalu gemas karena Tazkia seakan akan tidak tahu atau bahkan merasakan bahwa Prasetia menyukainya.
"Kamu tenanglah aku sudah mengurus segalanya." ucap Faris ikut berbisik membuat Aditya dan juga Sinta saling tatap ketika melihat adegan di depannya ini.
"Ehem lebih baik kita masuk dan istirahat, bukankah hawanya sungguh tidak enak di luar?" ucap Prasetia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ya Pras benar, apa sebaiknya kita langsung pindah ke mars aja ya, kayaknya kita hanya ngontrak di bumi deh." ucap Aditya dengan menatap ke langit kemudian melangkah masuk ke dalam rumah menyusul Prasetia.
"Tak perlu dipikirkan, kalian lanjutkan saja gue masuk ke dalam duluan." ucap Sinta yang tak enak dengan sikap Prasetia maupun Aditya yang berlebihan.
Setelah kepergian Sinta, Faris lantas tertawa karena berhasil membuat Prasetia jengkel.
"Apa yang kamu tertawa kan?" tanya Tazkia dengan bingung.
"Tidak ada?" ucap Faris dengan masih menyunggingkan senyuman di wajahnya setelah itu ikut melangkah masuk ke dalam.
"Faris tunggu! katakan dulu kenapa?" ucap Tazkia yang masih penasaran sambil setengah berlari mengikuti Faris masuk ke dalam.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan tepatnya di antara kegelapan malam seorang pria misterius tengah memantau interaksi mereka.
"Benar benar tidak berguna, membunuh seorang gadis saja tidak mampu!" ucap pria itu kemudian menghilang diantara kesunyian malam.
__ADS_1
Bersambung