Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Perbedaan antara indigo dan indra keenam


__ADS_3

Hari ini Tazkia sudah di perbolehkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan di rumah, pagi ini Faris datang untuk pemeriksaan terakhir, tidak ada pembicaraan apapun di antara keduanya selain hanyut dalam pikiran mereka masing masing.


Tazkia terdiam dengan sesekali melirik ke arah Faris, entah mengapa setelah kejadian di taman Faris menjadi lebih pendiam daripada sebelumnya, sebenarnya Tazkia ingin sekali bertanya namun lagi lagi ia urungkan karena tidak ada alasan juga yang membuat Tazkia bertanya tentang perubahan sikap Faris padanya.


" Sudahlah mungkin ini lebih baik, toh sebentar lagi aku akan jarang menemui dokter Faris." ucap Tazkia dalam hati.


Ketika Tazkia mencuri pandang dengan Faris lagi lagi tanpa diduga Tazkia kembali melihat sosok hantu perempuan tersebut dengan penampakan yang samar samar namun masih bisa Tazkia lihat dengan jelas.


Tatapan Tazkia lantas terhenti pada sosok tersebut seakan Tazkia seperti mengenali wajah sosok tersebut meski penampilannya yang sudah lusuh dengan darah yang mengalir dan membasahi baju lusuhnya.


" Tunggu dulu aku seperti tidak asing dengan wajah itu." ucap Tazkia dalam hati sambil terus mengingat ingat di mana tepatnya ia pernah melihat wajah yang mirip dengan sosok tersebut.


" Kamu sudah boleh pulang siang nanti, jangan terlalu memforsir tubuhmu, dan jangan lupa untuk datang check up lagi minggu depan." ucap Faris kepada Tazkia.


"...."


Faris yang melihat Tazkia tidak merespon dan hanya melihat ke arah belakangnya lantas kebingungan, Faris kemudian menyentuh pundak Tazkia agar menyadarkannya dari lamunan.


Tepat ketika tangan Faris menyentuh pundak Tazkia, Tazkia tiba tiba seperti tertarik dan mendapat penglihatan.


Dalam penglihatannya, Tazkia di bawah ke sebuah mansion nan megah di mana terlihat Faris tengah perlahan masuk ke dalam dengan wajah yang sumringah dan bahagia sambil membawa kertas di tangannya.


" Mama? mah? mama di mana?" teriak Faris sambil berlari menelusuri ruangan mencari keberadaan ibunya.


" Ada apa sih ris? kenapa kamu lari lari seperti itu?" tanya ibunya kepada Faris.


" Mama!" teriak Faris kemudian berlarian dan memeluk ibunya.


Ibunya hanya tersenyum mendapati tingkah putranya yang seperti ini.


" Aku lulus ma, aku seorang dokter! apa mama tidak akan memberiku sebuah reward?" ucap Faris dengan senyum manis yang terlukis di wajah tampannya.

__ADS_1


" Oh ya sungguh?" tanya wanita itu kemudian tersenyum dan mengelus dengan sayang rambut Faris.


Setelah melihat beberapa adegan tersebut Tazkia kini kembali di tarik ke sebuah kejadian namun kali ini lebih dark daripada sebelumnya, Tazkia di bawah ke dalam ruang tengah mansion, di mana semuanya dalam keadaan gelap sedangkan Faris tiba tiba saja langsung berlari dengan sekencang mungkin menghampiri seorang laki laki paruh baya lalu berusaha melepas ikatan yang mengikat bagian tangan dan juga kaki pria tersebut.


" Pa apa yang sedang terjadi? ha? mama mana?" tanya Faris dengan sedikit histeris.


Pria tersebut lantas memasang wajah sedih kemudian menunjuk ke arah bawah tangga, dimana di sana tergeletak seorang perempuan dengan darah yang sudah membanjiri di sekitar perempuan itu.


Melihat hal tersebut Faris lantas berlari kemudian merengkuh tubuh lemah itu yang sudah tidak bernyawa lagi.


" Hhhhhhhhhhh gila kenapa langsung berkebalikan seperti itu sih? wanita itu mamanya dokter Faris? berarti Tania?" ucap Tazkia dengan nafas yang terengah-engah setelah mendapat penglihatan barusan.


" Apa kamu terkejut? maaf aku sungguh tidak bermaksud." ucap Faris yang merasa bersalah karena melihat wajah terkejut Tazkia.


Tazkia yang mendengar hal itu lantas menggeleng dengan cepat.


" Dok, apa saya boleh bicara?" tanya Tazkia sambil menatap serius ke arah Faris.


Mendapat persetujuan dari Faris, Tazkia lantas menjadi gugup ia menggigit bibir bawahnya sambil berpikir, apakah pertanyaannya kali ini menyinggung Faris atau tidak? pasalnya Faris pasti tidak akan percaya akan apa yang di katakan oleh Tazkia nantinya.


" Ada apa? kenapa kamu tegang begitu ha? santai saja saya siap mendengarkan." ucap Faris sambil tersenyum manis ke arah Tazkia.


" Anu ..." ucap Tazkia ragu ragu.


" Anu apa?" tanya Faris dengan bingung.


" Apa dokter selama ini tidak merasa di ikuti seseorang? namun ketika dokter menoleh selalu saja kosong?" tanya Tazkia dengan menunduk karena takut Faris hanya akan menganggapnya halusinasi saja.


" Maksudmu seperti arwah atau hantu?" tanya Faris.


Tazkia yang mendengar hal itu lantas langsung mendongak memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

__ADS_1


" Iya" jawab Tazkia kemudian.


" Em sebenarnya aku juga merasakannya, aku bahkan pernah melihat penampakannya beberapa kali namun tidak terlalu jelas, sosok itu selalu saja menghilang ketika aku sudah menyadari keberadaannya." jelas Faris yang lantas membuat Tazkia terkejut mendengarnya.


" Jadi anda bisa melihat hantu juga?" tanya Tazkia kemudian.


" Ya, tapi aku hanya bisa melihatnya." ucap Faris.


" Bukankah itu sama saja?" tanya Tazkia.


" Tentu saja tidak terdapat dua kategori yang sering terdengar di lingkungan masyarakat, indra ke enam dan indigo, tentu saja keduanya sangat jauh berbeda meski memiliki kesamaan, indigo cenderung memiliki kemampuan yang lebih daripada indra keenam seperti contohnya melihat masa depan maupun masa lalu, bisa berinteraksi dengan makhluk halus dan juga masih banyak hal ajaib lainnya, beda halnya dengan indra keenam yang hanya mampu merasakan kehadiran makhluk halus atau melihatnya tidak lebih dari itu, mungkin ada beberapa hal yang juga bisa di lakukan oleh indra keenam namun itu membutuhkan latihan dan perlu di asah secara terus menerus dan tidak bisa langsung instan." jelas Faris kepada Tazkia.


" Jika begitu anda termasuk ke dalam kategori yang mana?" tanya Tazkia penasaran.


" Kalau itu saya lebih cenderung ke indra keenam dalam kata lain hanya bisa melihat dan berinteraksi dengan sosok mereka." ucap Faris lagi.


" Jika dia sudah mengerti, berarti aku sudah tidak perlu susah susah menjelaskannya bukan?" ucap Tazkia dalam hati dengan yakin tapi masih menyisakan keraguan.


" Kalau begitu jika saya mengatakan sebuah hal gila, saya harap anda jangan menganggap saya berhalusinasi." ucap Tazkia dengan formal yang membuat Faris mengerutkan keningnya dengan bingung.


" Santai saja lagi pula jangan terlalu formal padaku." ucap Faris dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Mendapat persetujuan dari Faris, Tazkia lantas mulai mengatur nafasnya bersiap untuk bercerita.


" Jadi sebenarnya dari awal aku siuman aku melihat sosok perempuan selalu mengikuti mu, awalnya aku mengira bahwa sosok tersebut hanyalah penunggu disini namun nyatanya tidak, ia terus saja mengikuti setiap langkah kaki mu, hanya saja aku melihatnya dalam bayangan yang samar samar." ucap Tazkia kepada Faris dengan hati hati. " Kemudian untuk waktu yang cukup lama aku tidak melihatnya lagi karena kamu sudah jarang berkunjung dan menemaniku terapi, sampai beberapa waktu tadi aku kembali melihatnya, dan kali ini wajahnya begitu jelas meski dengan penampilan yang menyeramkan." lanjut Tazkia.


" Memangnya seperti apa wajahnya? karena aku selalu bisa merasakan kehadirannya namun ia sama sekali tidak pernah menampakkan wajahnya dengan jelas padaku." tanya Faris penasaran.


" Wajahnya seperti ..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2