Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Di bodohi ~Tugas terakhir (Ambulans) #9


__ADS_3

Baik Tazkia, Aditya dan juga Ratna terus di arak menuju ke arah kantor desa. Setelah sampai di sana ketiganya lantas di dorong sekuat tenaga hingga membuat ketiganya terhuyung dan tersungkur ke bawah.


"Tenangkan diri kalian dahulu, cobalah untuk berpikir jernih dan jangan gegabah!" ucap seseorang yang memakai seragam sepertinya dia adalah kades di sini.


"Gimana kita bisa tenang pak, kalau suasana kampung setiap harinya semakin suram dan horor. Kami lelah jika terus terusan mendapat teror seperti ini!" teriak salah seorang warga menyuarakan pendapatnya.


Betul itu betul...


Teriak warga desa seakan sependapat dengan ucapan pria barusan.


"Kita tidak bisa mengambil keputusan jika dilandasi dengan perasaan yang emosi seperti ini, kalian tenangkan dulu pikiran kalian dan kita cari solusinya sama sama." ucap kades tersebut kembali menenangkan warganya agar tidak bertindak dengan gegabah.


"Halah pak terlalu lama jika seperti itu, nyatanya teror ini sudah berlangsung selama 1 bulan lebih, apa bapak punya solusi selama ini? tidak kan?" teriak salah satu warga.


"Yang benar itu kita bakar mereka ramai ramai, bukankah itu lebih mudah dan langsung menyudahi teror ini?" ucap yang lainnya.


Mendengar hal itu baik Tazkia dan juga Aditya lantas saling pandang satu sama lain, mereka berdua tahu betul apa yang di bicarakan oleh para warga ini. Tazkia kemudian lantas bangkit dan mencoba untuk kembali bernegosiasi dengan warga karena tentu saja dia tidak ingin mati konyol dengan cara terpanggang di sini.


"Kalian para warga ku mohon tenanglah, saya dan teman saya datang ke sini untuk menyelesaikan masalah. Sosok hantu pak Eko tidaklah jahat seperti yang kalian tuduhkan, di rumah sakit tempatnya bekerja dulu pak Eko bahkan masih mengantarkan pasien dengan selamat walau dirinya kini sudah berbeda alam. Mana mungkin dia meneror kalian sementara di sana dia membantu orang?" teriak Tazkia yang lantas membuat beberapa warga kampung nampak berbisik bisik setelah mendengar ucapan Tazkia barusan.


Tazkia yang melihat hal itu lantas sedikit bernafas lega karena sepertinya para warga sudah mulai bisa berpikir dengan dingin sekarang. Namun baru saja Tazkia sedikit bernafas lega, sebuah batu entah dari mana malah mendarat tepat mengenai keningnya hingga membuatnya berdarah. Tazkia yang mendapat lemparan batu itu dengan tiba tiba lantas sedikit oleng namun berhasil mengendalikan tubuhnya agar tetap bisa berdiri dengan tegak.


"Ki lo gak papa?" tanya Aditya yang langsung bangkit dan mengecek dahi Tazkia yang berdarah.

__ADS_1


"Kau orang luar jangan coba coba menggurui kami! lagi pula kau hanyalah anak kemarin sore, tidak ada yang tahu bahwa ucapan mu adalah benar atau tidak." ucap salah seorang warga yang lantas kembali menyulut api emosi dalam kerumunan tersebut.


Warga yang gemas lantas juga ikut melempari mereka dengan beberapa batu krikil membuat suasana seketika menjadi ricuh dan tak terkendali.


"Bapak bapak tenanglah jangan bertindak sembarangan..." teriak kades.


Mendengar teriakan kades tersebut bukannya mereka bubar malah langsung mendekat dan menyerbu ke arah ketiganya, membuat kades yang semula mendekat langsung tergusur jauh kebelakang kerumunan.


Beberapa warga lelaki yang entah mendapat minyak tanah dari mana lantas mulai menuang ke arah ketiganya dengan kasar dan brutal, membuat Tazkia, Aditya, dan juga Ratna yang terus memberontak tetap saja terkena tumpahan minyak tanah tersebut.


"Mama... papa... Adit akan mati di sini kayaknya.." jerit Aditya di dalam hati ketika mendapati dirinya sudah basah dengan minyak tanah.


Aditya yang sudah gelisah sambil terus berusaha memberontak, lantas menatap ke arah Tazkia yang hanya diam saja sedari tadi tepat setelah terkena lemparan batu tadi.


"Apa otak Kia geser karena lemparan batu tadi? kenapa dia hanya diam saja padahal sudah hampir terbakar hidup hidup seperti ini." ucap Aditya dalam hati ketika melihat Tazkia hanya diam saja sedari tadi.


******


Sementara itu Faris yang sudah memiliki perasaan yang tidak enak kepada Tazkia, lantas dengan terburu buru melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menyusul Tazkia dan juga Aditya ke kampung halaman Eko.


Faris yang masih gelisah terus mencoba menghubungi nomer ponsel keduanya namun selalu saja gagal dan tak tersambung walau telah di coba berkali kali.


"Ah sial, kenapa harus macet di saat seperti ini sih?" gerutu Faris ketika mobilnya terhenti tepat di tengah tengah kemacetan panjang tanpa bisa mundur ataupun berbelok mencari jalur alternatif lainnya. "Ah benar benar sial!" gerutunya lagi sambil sesekali memukul stir mobilnya karena kesal.

__ADS_1


****


Kembali kepada Tazkia dan juga Aditya.


Setelah ketiganya basah kuyup karena minyak tanah, seorang pria nampak berjalan mendekat ke arah ketiganya sambil membawa korek berniat membakar mereka.


"HENTIKAN SEMUA INI!" ucap Tazkia dengan tiba tiba namun dengan suara yang berat dan besar seperti bukan Tazkia, membuat pria yang tadi hendak membakarnya terdiam seketika.


"Ki... jangan main main ah, kita sudah mau mati nih!" ucap Aditya dengan gelisah sambil menggoyang goyangkan tubuh Tazkia.


Tazkia yang semula menunduk perlahan mendongak dan menatap satu persatu warga dengan manik mata yang putih seluruhnya membuat beberapa warga lantas terkejut ketika mengetahui hal tersebut.


"KALIAN SELAMA INI TELAH DI BODOHI! AKU TIDAK PERNAH MENEROR KALIAN! YANG AKU LAKUKAN HANYA MINTA TOLONG KARENA ISTRI KU AKAN MELAHIRKAN!" ucap Tazkia lagi dengan tatapan penuh amarah kepada para warga.


Mendengar hal itu seorang pria nampak mendekat dan berhenti di depan Tazkia dengan senyum yang meledek.


"Lihatlah ia sedang berakting untuk bisa lolos dari amukan warga, kalian telah di tipu..." ucapnya dengan senyum yang sinis menatap ke arah Tazkia.


Tazkia yang kini sedang dirasuki, ketika mendengar ucapan pria tersebut tiba tiba lantas menatap ke arah pria itu dan berteriak, membuat laki laki itu seketika mental dan membentur tembok kantor desa dengan cukup keras. Beberapa warga yang menyaksikan hal itu hanya terdiam dengan tatapan terkejut ketika melihat pria itu tiba tiba melayang dan berakhir dengan menabrak tembok.


"KAU HERMAN BENAR BENAR MEMBUAT KU HILANG KE SABARAN! APA MEMPERKOSA ISTRI KU BELUM CUKUP HINGGA MEMBUAT MU MENYEBAR RUMOR TENTANG KU SETELAH KEMATIAN KU? KAU Benar BENAR MANUSIA BERHATI IBLIS YANG TAK PERNAH BISA PUAS!" ucap Tazkia lagi dengan geram dan penuh amarah.


"Kau sudah mati... tidak mungkin kau tahu bahwa aku dalang di balik semua ini..." ucap Herman dengan tersendat sendat karena menahan sakit di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Sedangkan warga desa dan juga Aditya yang mendengar hal itu sontak di buat terkejut, mereka sama sekali tidak tahu bahwa rumor itu selama ini hanyalah tipuan belakang karena mereka tidak pernah membuktikannya secara langsung sosok apa yang ada di balik pintu ketika ketukan misterius itu menghantui rumah rumah warga, yang mereka tahu hanya katanya katanya tanpa ada yang melihatnya secara langsung.


Bersambung


__ADS_2