
Tazkia, Sinta, dan juga Faris memutuskan untuk berpencar mencari keberadaan papan itu. Tazkia menatap ke arah sekeliling menyusuri daerah kafe. Berkali kali Tazkia melihat arloji di tangannya, waktu terus berjalan semakin cepat sedangkan mereka tak kunjung menemukan di mana papan itu berada.
"Icha? Icha? nek? nenek?" teriak Tazkia kemudian kala mengingat teman hantunya dan juga sosok nenek yang selalu membantunya namun tidak ada jawaban sama sekali.
Tazkia yang tidak bisa berkomunikasi dengan keduanya lantas menjadi sedih, kepada siapa lagi Kinara mencoba meminta tolong jika bukan mereka.
Kia!
Ucap sebuah suara samar samar, namun masih bisa di dengar oleh Tazkia. Mendengar suara itu Tazkia lantas menyapu sekeliling dan mencari keberadaan sosok pemilik suara barusan.
"Nenek? nenek di mana?" tanya Tazkia sambil menatap ke arah sekeliling.
Nenek tidak bisa ke sana Ki, kamu dan teman teman mu telah masuk ke alam lain yang nenek sendiri tidak bisa masuki.
"Lalu bagaimana cara Kia agar bisa keluar dari sini nek? tolong Kia.." ucap Tazkia dengan nada yang memohon.
Hanya papan kayu itu kuncinya. Temukan dan suruh Aditya yang membakarnya segera!
"Tidak semudah itu nek, papan kayu tersebut mendadak menghilang dan kami tidak tahu di mana keberadaannya." ucap Tazkia lagi karena ia sudah putus asa mencari keberadaan papan tersebut sedari tadi.
Semua akan kembali ke awal dan awal akan menjadi akhir! semoga kamu bisa membebaskan teman teman mu dan mencari jalan keluar dari sana.
Tazkia mencerna dengan seksama ucapan dari nenek penjaganya. Tazkia mencoba mengulang kata demi kata lalu mengejanya perlahan sambil mencoba mencari artinya.
__ADS_1
"Semua akan kembali ke awal berarti mungkin maksudnya awal dari semuanya kali ya, kalau awal akan menjadi akhir berarti Aditya kunci untuk bisa keluar dari permainan gila ini. Jika seperti itu maka kemungkinan besar papan kayu tersebut ada di gudang... ya gudang karena Aditya menemukan papan itu pertama kalinya di gudang!" ucap Tazkia kemudian seperti mendapat jawaban dari teka teki yang di berikan oleh nenek tadi.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, Tazkia kemudian langsung bergegas menuju ke arah gudang. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Tazkia datang ke gudang karena memang jaraknya antara kafe ke gudang hanya beberapa meter saja. Namun sayang tepat setelah ia sampai di sana, Tazkia melihat sosok makhluk tinggi besar sedang berjaga di depan pintu gudang, seakan akan tidak memperbolehkan siapa pun masuk ke sana.
Tazkia mulai berfikir mencari cara agar bisa masuk ke dalam. Namun semakin lama dia berpikir semakin Tazkia bingung dan tak menemukan ide apapun di sana. Pada akhirnya Tazkia lantas memilih maju apapun yang akan terjadi, semakin cepat ia menyelesaikannya semakin cepat pula mereka keluar dari sana.
"He kau pergi dari sana! aku hendak masuk jangan ganggu jalan ku." teriak Tazkia tiba tiba saat berada tepat di depan pintu gudang.
Kau gadis kecil! berani beraninya menyuruh ku. Maju jika kau ingin aku pergi dari sini!
Mendengar suara berat itu tentu saja membuat nyali Tazkia menciut, dengan langkah ragu ragu Tazkia mulai maju ke depan mendekat ke arah sosok itu. Tawa berat mulai terdengar memenuhi ruangan yang membuat Tazkia menelan salivanya dengan kasar karena jujur saja ia juga sedikit agak takut dengan makhluk itu.
Baru saja Tazkia melangkah entah mengapa tubuhnya mendadak terasa seperti melayang. Sepertinya makhluk itu kini tengah bermain main dengannya. Tazkia perlahan mulai di bawa naik ke atas, semakin atas dan semakin atas hingga mentok ke atap karena memang bentuk bangunan rumah baca ini di desain dengan atap yang cukup tinggi, di mana tiga lantai di jadikan menjadi satu dengan bagian pinggir tembok tersusun buku buku dengan rapi, di lengkapi dengan tangga tangga dan juga lantai yang hanya sebesar satu meter untuk menjangkau buku buku tersebut, sedangkan bagian tengah di biarkan berlubang begitu saja. Jika kalian tanya bagaimana sosok itu membawa Tazkia, jawabannya yaitu tubuh Tazkia seakan perlahan naik ke atas namun dengan sekeliling tubuhnya di penuhi dengan asap hitam tebal, seakan seperti Tazkia berada di tengah tengah kepulan asap hitam yang menutupi dirinya.
"Kau makhluk sialan! turunkan aku!" ucap Tazkia dengan berteriak yang malah membuat sosok itu tertawa terpingkal pingkal.
Tazkia yang mendengar hal itu tentu saja langsung tersentak, pasalnya dia tengah di bawa ke atas bahkan hendak mencapai atap. Jika Tazkia turun sekarang, itu tandanya dia akan langsung jatuh ke bawah dan membentur ke lantai yang tentu saja akan membuat ia patah tulang atau kemungkinan terburuknya Tazkia akan berakhir seperti Dona waktu itu.
"Tunggu... bukan begitu maksud ku..." ucap Tazkia hendak meralat ucapannya, namun sudah keburu tubuhnya di lepaskan begitu saja oleh sosok makhluk tersebut dengan tawa berat yang terus terdengar menggema di ruangan tersebut.
Aaaaaaaaaaa
Bug
__ADS_1
Tazkia lantas benar benar jatuh secara cepat ke bawah namun berhasil langsung di tangkap oleh Faris yang melihat Tazkia terjun dari atas.
"Beruntung aku bisa menangkap mu Ki." ucap Faris dengan senyum mengembang di wajahnya, meski rasanya tangannya sedikit terpelintir karena tadi buru buru menangkap Tazkia tanpa persiapan sebelumnya.
"Terima kasih." ucap Tazkia lalu langsung turun dari gendongan Faris. "Tangan mu tidak apa Ris? sepertinya terkilir ya?" ucap Tazkia kemudian yang sadar karena memang rasanya tangan Faris sedikit bergetar ketika menggendongnya.
"Tidak apa santai saja, apa yang kamu lakukan hingga di atas seperti itu?" tanya Faris kemudian.
"Aku harus masuk ke dalam gudang Ris, tapi makhluk itu menghalangi jalannya." ucap Tazkia kemudian sambil menunjuk makhluk hitam besar yang menjaga pintu depan menuju ke gudang.
"Aku akan mencoba menghalaunya lalu kamu masuklah." ucap Faris kemudian.
"Jangan aneh aneh kamu bisa saja terluka." ucap Tazkia tak menyetujui usulan Faris barusan.
"Percayalah padaku Ki, kita harus segera mengakhiri ini semua waktu kita tidak banyak." ucap Faris.
Mendengar hal itu pada akhirnya mau tidak mau Tazkia harus mengikutinya, tidak ada pilihan lain selain menerima usulan tersebut karena waktu yang mereka punya semakin sedikit.
"Baiklah aku percaya padamu, jangan sampai terluka Ris." ucap Tazkia yang di balas anggukan oleh Faris.
Perlahan Faris mulai melangkah maju dan menuju ke arah makhluk besar itu. Tawa besar mulai terdengar menguar memenuhi ruangan kala melihat Faris datang mendekat ke arahnya.
Kau ingin menjajal ku rupanya wahai anak manusia!
__ADS_1
"Aku tidak akan sesumbar, walau kekuatan mu lebih di atas ku tapi derajat ku lebih tinggi dari mu!" ucap Faris dengan yakin.
Bersambung