
Keduanya sampai di kampus sekitar pukul 4 pagi, mereka lantas mulai memasuki kampus dan beralasan kepada satpam bahwa sedang mengerjakan tugas, karena memang di kampus tersebut sering ada beberapa mahasiswa menginap atau bahkan lembur mengerjakan tugas di di kelas sehingga baik Doni dan juga Tazkia tidak perlu kesusahan meminta ijin untuk masuk.
" Ya meski belum ada kelas, setidaknya kita bisa menunggu di lorong atau di kantin bukan?" ucap Doni sambil menatap sekeliling yang memang dengan suasana yang masih gelap dan beberapa kelas yang tutup tanpa penerangan.
Tazkia memutar bola matanya dengan jengah semenjak kejujuran yang Doni utarakan tentang acara tersebut membuat Tazkia menjadi kesal dan malas terhadapnya, Tazkia tidak menanggapi ucapan Doni dan hanya berjalan lurus ke depan sambil mencari tempat untuk sekedar duduk dan menunggu sampai kelas di mulai.
Tazkia menatap sekeliling dan pandangannya jatuh pada seorang gadis yang duduk dengan menunduk sedangkan rambutnya tergerai panjang hingga menutupi wajahnya, tidak ada yang aneh dari penampilan gadis itu karena ia memakai pakaian layaknya manusia pada umumnya hanya saja ketika Tazkia melihat ke arah gadis itu kakinya sama sekali tidak menyentuh tanah.
" Waduh kenapa harus sekarang sih?" ucap Tazkia sambil memalingkan wajahnya.
" Ada apa ki?" tanya Doni yang melihat perubahan ekspresi dari Tazkia barusan.
" Tidak ada apa apa terus jalan." ucap Tazkia, "Bukankah Doni juga mempunyai kelebihan, kenapa dia masih bertanya?" ucap Tazkia dalam hati.
Ketika Tazkia sedang berpikir tentang Doni tiba tiba di telinganya ia mendengar sebuah bisikan yang langsung membuat bulu kuduknya berdiri.
" Kau bisa melihatku."
Tazkia yang mendengar hal itu hanya bisa menelan salivanya kasar dan tidak menanggapi suara bisikan itu yang sudah bisa dipastikan bahwa itu bukanlah manusia.
__ADS_1
" Haha Don apa lo tidak kedinginan?" ucap Tazkia dengan tiba tiba yang membuat Doni berkerut bingung karena pertanyaan Tazkia benar benar tidak nyambung sama sekali dengan ucapannya.
" Kau bisa melihat ku, aku yakin itu."
" Ah suara ini benar benar menyebalkan!" ucap Tazkia dalam hati karena melihat kegigihan sosok tersebut.
Melihat Tazkia terus berpaling darinya membuat sosok tersebut semakin bahagia karena ada yang bisa melihatnya. Dengan perasaan yang bahagia sosok tersebut lantas berhenti tepat di depan Tazkia membuat Tazkia yang tadinya berpaling mendadak kaget ketika memalingkan wajahnya kembali ke depan.
" Astaga!" ucap Tazkia setengah berteriak sambil berhenti mendadak membuat Doni langsung memandang ke arahnya dan menatap dengan bingung.
Awalnya sosok tersebut merasa senang karena tebakannya benar tentang Tazkia, namun mendadak raut wajah sosok itu menjadi kaku dan tampak menyeramkan sedetik kemudian langsung menghilang membentuk kepulan asap lalu lenyap, kejadian tersebut tentu saja membuat Tazkia menjadi bingung karena sosok tersebut tiba tiba menghilang bahkan tanpa Tazkia usir sekalipun.
" Hello Don, harusnya gue yang bertanya bukankah elo dan Aldo memiliki kekuatan supranatural masak iya sosok barusan lo gak lihat sama sekali." ucap Tazkia gak kalah kesalnya.
Mendengar hal itu Doni hanya terdiam kemudian terdengar helaan nafas di sana.
" Gue gak punya kemampuan seperti itu ki, gue hanyalah manusia biasa tanpa kelebihan yang nekat bergabung dengan sekte sesat itu karena takut Aldo jatuh semakin dalam." ucap Doni dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh Tazkia.
" Lalu hasilnya? gue perhatikan malah lo yang ikut jatuh ke dalam lubang yang sama dengan Aldo." ucap Tazkia kemudian dengan spontan.
__ADS_1
" Yap lo benar, gue selalu saja gagal untuk membawanya ke jalan yang benar, dan hasil akhirnya seperti yang selalu lo lihat gue kalah lagi dan lagi bukan?" ucap Doni sambil tertawa garing.
Keduanya kemudian mengambil duduk di sebuah bangku yang terletak di lorong menuju ke ruangan Reno.
" Memangnya Aldo sangat penting ya bagi lo? maaf gue gak bermaksud hanya saja gue penasaran karena lo seperti memperjuangkan Aldo sebegitunya."
" Ya penting sekali, perasaan bersalah dalam diri gue begitu menumpuk terhadap Aldo Ki, dulu gue dan Aldo adalah sepasang saudara kembar yang tidak identik, wajah kami berdua tidak ada kemiripan sama sekali, tidak hanya itu bahkan tingkah dan watak kami juga berbeda, waktu kelahiran kami hanya selisih beberapa menit saja. Kami tumbuh layaknya anak anak pada umumnya bahagia, penuh kasih sayang, dan juga harta berlimpah, sayangnya semua harus hancur ketika papa membawa seorang wanita yang entah datang dari mana di tengah tengah keluarga kecil kami yang bahagia, perasaan kami benar benar hancur di tambah lagi di usia kami yang harusnya tumbuh dan berkembang dengan wajar harus dituntut menerima segala hal yang berhubungan dengan pertengkaran dan juga perselingkuhan orang dewasa, perlahan lahan harta papa mulai habis sepertinya itu mungkin salah satu rencana dari wanita itu, tidak beberapa lama perusahaan papa mulai bangkrut rumah, mobil, dan juga properti harus terpaksa kami jual untuk menutupi hutang hutang yang ditimbulkan karena perusahaan yang gulung tikar itu. Karena papa yang jatuh miskin wanita itu pergi membawa semua harta yang tersisa untuk kami bertahan hidup dan alhasil kami benar benar jatuh miskin, papa sering menyiksa mama dan selalu menyuruhnya untuk mencari uang agar bisa membeli alkohol untuk papa, mama yang sudah tidak tahan dengan siksaan yang terus menerus diterimanya pada akhirnya dihadapkan dengan sebuah keputusan untuk menitipkan salah seorang dari kami berdua agar tidak ikut susah dalam beratnya cobaan hidup ini, dan pilihan mama jatuh kepada Aldo mama tahu Aldo adalah seorang anak yang tidak bisa hidup dengan susah dan juga kesulitan, itulah mengapa mama sengaja meninggalkannya di taman hiburan karena mama yakin akan ada orang baik yang merawat Aldo dan membesarkannya." ucap Doni kemudian menjeda ucapannya. " Apakah cerita gue terlalu membosankan ya, maaf." imbuh Doni.
" Tak apa Don, setiap orang punya kisah hidup masing masing, lo bisa meneruskannya dengan santai, setidaknya itu akan membuat hati lo sedikit lebih lega bukan?" ucap Tazkia sambil tersenyum.
Mendengar jawaban Tazkia membuat hati Doni menjadi lega kemudian melanjutkan ceritanya kembali.
" Mama tidak langsung meninggalkan Aldo begitu saja, mama terus memantaunya dan membuntuti setiap Aldo dibawa oleh seseorang, bahkan mama juga tau kalau Aldo dititipkan di panti asuhan, mama sedikit lega karena mama yakin panti asuhan adalah tempat yang lebih baik daripada di rumah, karena saat itu gue masih kecil gue tidak mengerti sama sekali tentang maksud dan alasan mama melakukan itu, namun ketika gue tumbuh dewasa gue mengerti satu hal kenapa hanya Aldo yang di lepaskan dan gue tidak, dan jawabannya adalah karena gue sejak kecil sudah belajar hidup yang mandiri dan tidak ketergantungan terhadap barang barang atau makanan enak apapun, itulah sebabnya mama membiarkan gue untuk tetap tinggal karena mama pikir setidaknya gue tidak akan menyusahkan nya dengan meminta hal hal yang sudah tidak bisa ia berikan dan kabulkan pada saat itu, bukankah alasan mama terllau naif ki?" ucap Doni pada Tazkia.
" Ya lo benar, apapun alasannya seharusnya seorang orang tua tidak akan memilih salah satu dari anaknya karena itu malah akan menyakiti hati kedua anaknya." ucap Tazkia.
" Ya, dan hal itu jugalah yang membuat gue merasa bersalah pada Aldo, awalnya gue kira dengan membohongi Aldo dan mengatakan bahwa waktu itu mama tak sengaja kehilangannya dan tidak membuangnya akan merubah keadaan, nyatanya gue salah karena Aldo bisa kembali ke masa lalu itu artinya semua hal yang gue karang selama ini dapat terbuka begitu saja dengan mudahnya." ucap Doni dengan nada yang sendu.
Tazkia yang tahu keadaannya lantas perlahan meletakkan tangannya di pundak Doni kemudian menepuknya pelan beberapa kali seakan memberikan semangat dan juga ketenangan kepada Doni.
__ADS_1
Bersambung