
Tazkia yang melihat keadaan Doni tidak baik baik saja, lantas masuk ke dalam mobil untuk mengecek kondisi Doni tanpa menutup pintu mobil.
" Lo baik baik saja Don? apa lo terluka?" ucap Tazkia sambil mengusap keringat yang membanjiri Doni dan mengecek apakah Doni terluka.
Pandangan Tazkia lantas terkunci ketika melihat ada darah segar membasahi baju bagian bawah Doni, belum habis keterkejutannya tiba tiba saja tubuh Tazkia lantas tertarik ke arak jok sebelah kiri pengemudi, karena sebuah selendang yang tiba tiba terlilit di lehernya hingga tubuhnya mundur beberapa centimeter dan membentur kursi penumpang.
" Lo kira lo bakal lolos begitu saja? Kia dari masa depan!" ucap Aldo dengan tawa menggema memenuhi mobil sambil berkata tepat di telinga sebelah kanan Tazkia.
" Lepaskan gue Al ... apa yang lo lakukan!"
" Lo harus mati agar Doni selamat! jika lo hidup maka Doni yang akan mati!" ucap Aldo dengan kesetanan.
Doni yang memang terluka tidak bisa melakukan apa apa, namun ia sekuat tenaga meraih tubuh Aldo agar melepaskan Tazkia.
" Hen ... tikan Don, biarkan gue saja ..." ucap Doni mencoba menahan Aldo.
" Gak akan gue biarkan itu terjadi Don! dia harus mati!" ucap Aldo kekeh.
Tazkia benar benar tersudut di situasi seperti ini, Tazkia jelas tidak ingin mati tapi ia juga tidak menginginkan Doni mati, bisakah dia untuk bersikap egois kali ini?
Tazkia menggeleng menjauhkan segala pikiran kotornya, sebisa mungkin Tazkia menahan jeratan selendang itu agar tidak terlalu melilit lehernya, nafasnya mulai terasa berat sedangkan pandangannya mulai mengabur, Doni yang melihat itu benar benar tidak bisa melakukan apapun hingga kemudian.
Tin ....
Mendengar hal itu Aldo langsung menatap Doni dengan tajam karena Doni telah menekan klakson mobil tanpa seizinnya, karena suara klakson barusan tentu saja akan mengundang banyak orang untuk mendatangi mobil ini di tambah dengan posisi pintu mobil sebelah Tazkia yang terbuka.
" Lajukan mobilnya sekarang! tinggal dikit lagi aku berhasil membunuhnya." ucap Aldo memerintah Doni, sedangkan Doni yang mendengar perintah itu lantas menggeleng dengan lemah menandakan ia tidak setuju.
__ADS_1
" Le ... paskan gue ... uhuk uhuk." ucap Tazkia mencoba untuk melawan walau mungkin akan sulit.
Doni mencoba menulikan pendengarannya dan tidak menuruti ucapan Aldo sama sekali, hingga kemudian langkah kaki terdengar melangkah semakin dekat ke arah mobil.
" Apa apaan ini? Kia!" ucap seseorang yang ternyata adalah Faris.
Melihat Tazkia yang di cekik dengan selendang, Faris tentu saja tidak tinggal diam dan langsung berusaha melepas ikatan selendang tersebut, namun tentu saja tidak semudah itu karena Aldo tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.
Posisi Faris yang sulit di depan membuatnya kesusahan untuk menolong Tazkia, hingga ia memilih melipir ke arah samping dan membuka pintu mobil sebelah Aldo yang ternyata tidak di kunci, sehingga memudahkannya untuk masuk dan mendorong Aldo hingga ia tersungkur ke jok penumpang dan membentur pintu sebelah kanan cukup keras (tentunya dengan campur tangan Doni yang dengan cepat tanggap membuka kunci mobil di bagian penumpang).
Uhuk uhuk uhuk
Tazkia benar benar merasa lega ketika terbebas dari selendang yang melilit lehernya, sementara Aldo dan juga Faris terlibat adu tonjok di kursi penumpang lebih tepatnya Faris yang mendominasi permainan, secara dari postur tubuh Aldo sudah kalah jauh dengan Faris yang memiliki tubuh tinggi tegap karena seringnya berlatih dan olahraga.
Setelah memastikan bahwa Aldo dapat di lumpuhkan Faris kemudian mengikat kedua tangan Aldo dengan selendang yang di gunakan Aldo untuk mencekik Tazkia tadi.
" Ada apa ini?" tanya pak Supri satpam di sana ketika sampai di sebelah pintu mobil yang terbuka.
Mendengar hal itu Faris lantas keluar dari mobil dengan menyeret Aldo agar ikut keluar, kemudian mendorongnya sedikit sehingga langsung di tangkap oleh Supri, kondisi Aldo benar benar parah dengan lebam dan beberapa bagian wajah yang luka karena aksi Faris yang membabi buta, tentu saja hal ini membuat Supri semakin bingung di tambah lagi ketika ia menengok ke dalam mobil terlihat Doni yang tengah terkapar di bangku pengemudi sedangkan Tazkia terdapat luka jeratan di lehernya.
" Bawa dia ke kantor polisi pak, dia melakukan percobaan pembunuhan terhadap dua orang di dalam." ucap Faris dengan nada yang kesal.
"Baiklah saya akan membawanya ke pos satpam, sebaiknya sekarang anda menolong mereka dulu, dia biar saya yang urus." ucap Supri kemudian membawa Aldo pergi dari sana menuju ke pos satpam.
"Ki lo gak papa ha? coba aku lihat?" ucap Faris yang khawatir terhadap Tazkia setelah kepergian Supri dan juga Aldo dari sana.
" Jangan kha ... watirkan aku, kamu cek saja Doni." ucap Tazkia lirih karena lehernya terasa sedikit perih jika harus mengeluarkan suara yang cukup keras.
__ADS_1
Mendengar hal itu Faris lantas menoleh ke arah Doni dan ia melihat ada noda darah di bagian perut Doni, Faris yang mengerti luka itu lantas langsung memutari mobil dan membuka pintu mobil di sebelah Doni. Faris kemudian menurunkan jok pengemudi agar posisi Doni sedikit terlentang, setelah itu Faris membuka kaus Doni sedikit untuk mengecek seberapa parah luka Doni.
"Ini sudah terlalu lama Ki, aku khawatir dia akan kehabisan darah, kita harus secepatnya membawa dia ke rumah sakit dan memberikannya penanganan." ucap Faris.
Wajah Doni benar benar sudah berubah pucat dengan bibir yang sudah mulai membiru, di tambah lagi dengan darah yang sudah keluar dari tadi membuat kondisi Doni semakin buruk, nafasnya mulai tidak teratur dan Faris tahu ini sudah tidak baik baik saja, melihat kondisi Doni yang seperti ini Faris khawatir Doni tidak bisa bertahan, hanya saja ia tidak setega itu mengatakannya langsung kepada Tazkia yang tengah khawatir sekarang.
" Kita ke rumah sakit sekarang! lo harus bertahan Don, kita akan pulang sama sama, harus!" ucap Tazkia menyemangati Doni di sela sela rasa sakit yang menjalar memenuhi area lehernya.
Mendapat semangat dari Tazkia, Doni lantas sedikit tersenyum, namun Doni tahu kata kata Tazkia mungkinlah hanya sebuah angan mengingat kondisinya yang seperti ini sekarang.
" Ti ... dak perlu ki ... mungkin ini memang akhir ku uhuk uhuk." ucap Doni terbata.
" Jangan terlalu banyak bicara." ucap Faris.
" Enggak enggak kita pulang sama sama oke hiks hiks."
" Untuk apa lo ... menangisi gue ... gue ti ... dak bisa pul ... ang Ki! lihatlah ... bahkan tubuh ...ku kini sudah tampak me ... mudar." ucap Doni lagi.
Mendengar ucapan Doni Tazkia lantas memperhatikan tubuh Doni dan memang Tazkia melihat perlahan tubuh Doni mulai memudar, air mata Tazkia semakin turun dengan derasnya, Tazkia kemudian mendongak dan menatap ke arah Faris berharap Faris masih bisa menolong Doni saat ini, tapi yang ia dapati hanyalah gelengan kepala dari Faris saja membuat Tazkia tak kuasa menahan tangisnya hingga tanpa sadar Tazkia mencengkram bajunya dengan erat.
" Sudah gue ka... takan... tak perlu menangisi orang se ... perti gue, gue be... nar be...nar bersyukur me... miliki te... man seperti lo uhuk uhuk." ucap Doni. "Terima... kasih untuk per...jalanan kali ini ki..."
Setelah mengatakan hal tersebut genggaman tangan Doni perlahan lepas seiring dengan menutupnya mata Doni secara perlahan.
" Innalilahi wainnailaihi rojiun."
Bersambung
__ADS_1