
Setelah perdebatan kecil yang terjadi hanya perkara ban serep yang hilang, ketiganya lantas memutuskan untuk meneruskan perjalanan dengan jalan kaki mencari bantuan daripada harus berdiam diri tanpa kepastian menunggu di mobil.
"Apa kita cari tempat untuk istirahat dulu? hari kian gelap dan kita gak tahu apa yang akan kita jumpai kala hari semakin gelap." ucap Prasetia memberikan solusi.
"Kalau bicara yang positif thinking napa Pras, gitu amat ucapan lo sih." ucap Aditya sambil melengos kesal mendengar perkataan Prasetia barusan.
"Udahlah, lagipula apa yang dikatakan Prasetia ada benarnya Dit, hari sudah mulai gelap sepertinya kita harus mencari tempat untuk berteduh dan bermalam." ucap Sinta menengahi.
"Terserah kalian" ucap Aditya pada akhirnya.
Setelah sepakat mencari tempat untuk bermalam, ketiganya memutuskan berjalan sebentar lagi siapa tahu menemukan sebuah gubuk atau semacamnya untuk tempat berteduh.
Satu jam perjalanan sudah mereka tempuh namun ketiganya tak kunjung menemui apa yang mereka cari. Mereka ingin sekali berhenti dan mencari tanah yang lapang untuk mendirikan tenda namun sayangnya mereka tidak membawa tenda sama sekali, jangankan untuk tenda bahkan alat perlengkapan lainnya pun tidak ada, hanya tas punggung berisi perlengkapan mereka seperti baju dan beberapa keperluan pribadi lainnya saja yang ketiganya bawa.
"Istirahat sebentar 5 menit." ucap Aditya yang langsung selonjoran di tanah, sedangkan Sinta dan juga Prasetia yang juga merasakan lelah lantas ikutan duduk di bawah.
"Bagaimana ini? apakah ponselmu sama sekali tidak bisa mendeteksi area sekitaran sini?" tanya Sinta.
"Gak bisa, terlalu susah sinyalnya." ucap Prasetia singkat.
Aditya membuka tas punggungnya perlahan dan mengeluarkan roti selai dari sana kemudian membaginya ke Prasetia dan juga Sinta.
"Setidaknya kita butuh asupan bukan? makanlah dulu nanti kita pikirkan lagi caranya." ucap Aditya.
"Ternyata sifat doyan makan lo berguna juga di saat situasi genting seperti ini." ucap Prasetia.
"Kenapa rasanya terdengar seperti hinaan ya? but thank you atas pujiannya yang beda tipis itu." ucap Aditya.
Tawa lantas menguar dari ketiganya ketika mendengar ucapan Aditya barusan, baik Aditya, Sinta dan juga Prasetia nampak mengulum senyum di wajah mereka seakan memperlihatkan kebahagian untuk menutupi rasa ke khawatiran dalam diri mereka yang kini terjebak di tengah tengah hutan yang asing bagi ketiganya.
__ADS_1
**********
Sementara itu sesuai instruksi dari Rita yang tidak boleh melepas daun di tangannya sebelum petang, Tazkia hanya bisa pasrah dan menurut sambil menunggu waktu yang tepat untuk membuktikan apakah ucapan Rita itu adalah sebuah kebenaran atau hanya akal akalan Rita saja.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, baik Tazkia dan juga Faris bergegas pergi ke ruang tengah untuk membuka daun yang sedari siang menutupi luka Tazkia.
Dipotongnya perlahan benang merah yang mengikat daun itu satu persatu kemudian melepasnya, ketika daun tersebut sudah terbuka dengan sempurna alangkah terkejutnya Faris dan Tazkia kala melihat luka itu benar benar sembuh dan tanpa berbekas sama sekali, membuat keduanya hanya melongo saling tatap tak percaya akan apa yang baru saja mereka lihat.
Prang
Bunyi nyaring benda jatuh terdengar dari arah dapur membuat ketiganya lantas bertanya tanya benda apa yang baru saja terjatuh.
Faris dan Tazkia langsung bangkit dan bergegas melangkah ke arah dapur, ketika sampai di sana mereka melihat lelaki paruh baya sedang membersihkan pecahan piring yang sudah berserakan hampir memenuhi lantai dapur.
"Bapak siapa?" tanya Tazkia yang sepertinya asing dan belum pernah melihat orang itu sejak kedatangannya bersama Faris di villa.
"Saya Tejo non, yang biasa bantu bersih bersih villa ini, saya minta maaf jika membuat keributan, saya benar benar tidak sengaja menjatuhkan piring makan saya." ucap Tejo sambil sedikit membungkuk karena merasa bersalah.
"Apakah tangan nona sudah baik baik saja?" tanya Tejo tiba tiba yang lantas menghentikan langkah kaki Tazkia yang hendak pergi.
"Pak Tejo mengetahuinya?" tanya Tazkia dengan bingung karena Tejo mengetahui tentang luka itu.
"Saya melihat Rita melakukan pembersihan tadi siang di halaman belakang." ucap Tejo yang di balas anggukan oleh Tazkia seakan mengerti kenapa Tejo bisa mengetahui luka itu. "Pasti melelahkan bukan nona? harus melakukan pembersihan berulangkali? saya paham karena Wowo sudah menjadi momok menakutkan sejak saya masih kecil hingga sekarang." ucap Tejo tiba tiba.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Tazkia dan juga Faris saling pandang satu sama lain, mereka berdua sungguh tidak mengerti dengan arah pembicaraan Tejo barusan.
"Saya hanya melakukannya sekali tadi siang? maksud bapak berulangkali apa ya? bisa tolong di jelaskan?" tanya Tazkia.
Mendengar hal itu raut wajah Tejo perlahan memucat, rasanya seperti ia tengah tertangkap basah menyebutkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh di ucapkan.
__ADS_1
"Anu non anu..." ucap Tejo gelagapan kebingungan harus menjawab apa pertanyaan Tazkia barusan.
"Katakan saja yang sebenarnya pak." ucap Faris mendesak Tejo karena melihat gelagat aneh dari Tejo.
Disaat suasana yang semakin menegang dan membuat Tejo semakin tersudut akan ucapan yang tanpa sengaja ia lontarkan, suara yang tak asing terdengar menyapa telinga ketiganya.
"Sebaiknya kamu ke halaman belakang karena nampaknya bak sampah halaman belakang sudah penuh, setelah itu kamu boleh pulang." ucap Rita yang memecah keheningan di antara ketiganya.
"Kenapa Rita harus muncul sekarang sih?" ucap Tazkia dalam hati kesal karena tidak bisa mendengar penjelasan dari Tejo barusan.
"Sepertinya tangan anda sudah sembuh nona?" ucap Rita sambil melangkah mendekat untuk memeriksa tangan Tazkia.
Tazkia dan Faris nampak hanya terdiam mendengar ucapan Rita tanpa ingin menyanggah ataupun menanggapinya, sedangkan Rita tetap melanjutkan langkahnya dan berhenti tepat di sebelah Tazkia berdiri.
"Saya senang luka itu tidak meninggalkan bekas apapun, simpanlah ini nona taruh di bawah bantal anda ketika sedang tidur." ucapnya sambil menyalamkan sebuah kantong kecil yang entah apa isinya ke tangan Tazkia.
"Bukankah ini terlalu berlebihan?" ucap Tazkia yang sudah mulai kesal karena Rita tidak pernah menjelaskan namun terus memperingatinya akan sesuatu.
"Kenapa nona marah? itu hanya sebuah jimat tidur agar anda bisa bermimpi indah, sepertinya anda yang terlalu berlebihan." ucapnya dengan nada datar kemudian melenggang pergi meninggalkan keduanya yang masih memiliki segudang tanda tanya di benak mereka.
"Sebaiknya aku antar kamu kembali ke kamar untuk beristirahat." ucap Faris sambil menuntun Tazkia namun Tazkia lantas berusaha menghentikan langkah Faris.
"Apa kamu juga mempercayainya sekarang?" tanya Tazkia dengan manik mata menelisik.
"Tidak ada alasan untuk mempercayainya ataupun tidak tentang segala hal yang di ucapkan Rita, nyatanya hampir 99 persen benar bukan? aku hanya tidak ingin kamu menyesal nantinya." ucap Faris sambil mencoba menenangkan Tazkia yang sepertinya sedang kesal. "Kita ke kamar ya?" ajak Faris lagi kemudian.
"Sudahlah kamu tidak perlu mengantarku, biar aku pergi sendiri." ucap Tazkia kemudian menyingkirkan tangan Faris dari pundaknya dan berlalu pergi.
"Tapi Ki...."
__ADS_1
Bersambung