Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Gunakan mata yang lain untuk melihat ~Cermin bertuah #10


__ADS_3

Tak beberapa lama setelah Tazkia berhasil melihat sosok jiwa Sinta di dalam cermin, suara pintu di ketuk dengan cukup keras terdengar dari arah luar kamar membuat ketiganya lantas saling pandang satu sama lainnya.


Dok dok dok


Suara itu makin keras dan makin keras membuat ketiganya semakin bingung dibuatnya.


"Buka pintunya!" teriak Sinta dari arah luar kamar.


"Tahan pintunya geis! jangan sampai dia masuk!" ucap Tazkia kemudian.


Prasetia yang mendengar hal itu lantas langsung berlari menuju pintu mencoba menahannya agar Sinta tidak bisa masuk ke dalam.


"Sin lo masih ingat toko itu kan?" ucap Tazkia kemudian yang di balas anggukan oleh jiwa Sinta.


"Ki lo gak lagi halu kan?" ucap Aditya karena yang ia lihat di dalam cermin hanyalah bayangan Tazkia sendiri.


"Dit gue mohon kali ini saja jangan ngelawak! sitkonnya sama sekali gak mendukung untuk bercanda." ucap Tazkia dengan nada datar.


"Bukaaaaaa pintunya!" teriak Sinta lagi dengan kesetanan dari luar kamar.


"Pras lo bisa menahannya kan?" tanya Tazkia kemudian.


"Bisa lo pergilah cari toko itu sampai ketemu." ucap Prasetia.


"Gue gimana?" tanya Aditya.


"Ya sana pergi temani Kia." ucap Prasetia dengan kesal.


Setelah itu Tazkia langsung membuka jendela kamar orang tuanya untuk keluar dari sana, untungnya kamar itu berada di lantai satu jadi Tazkia tidak perlu melompat ataupun turun dari balkon untuk keluar dari sana.


Keduanya lantas menuju ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil dengan bergegas.


"Kunci? kuncinya mana?" tanya Aditya karena ia benar benar parno jika harus kembali ke dalam lagi untuk mengambil kunci seperti kejadian waktu di Villa Edelweis kala itu.


Tazkia yang mendengar hal itu hanya tersenyum, ia kemudian membuka dashboard dan menunjuk kunci cadangan dari sana.


"Tenang aku selalu menaruhnya di sini." ucap Tazkia.


Aditya langsung bernafas lega kala mengetahui ia tidak perlu kembali lagi ke dalam hanya untuk mengambil kunci mobil, Tazkia kemudian melajukan mobilnya menuju ke area pertokoan di pinggiran kota.


"Lo tahu jalannya Ki?" tanya Aditya.

__ADS_1


"Sinta akan menuntun kita." ucap Tazkia.


Aditya yang mendengar hal itu hanya melirik sekilas ke arah cermin itu.


"Oke" ucapnya. "Lebih baik gue diam karena Tazkia tidak mungkin hanya halu semata." ucapnya kemudian menatap ke arah depan.


Mobil yang Tazkia kemudikan sampai di area pertokoan, ditatapnya sekeliling dengan cermat siapa tahu toko itu ada di sekitar sini.


"Jembatan Ki, jangan lupakan jembatan." ucap Sinta tiba tiba membuat Tazkia lantas membanting stir dan mengarah ke jembatan.


Tazkia menghentikan laju mobilnya kemudian keluar dari sana. Aditya yang memang tidak tahu menahu tentang toko itu lantas juga ikut keluar menghampiri Tazkia.


"Ki lo yakin ini tempatnya? di sini tidak ada toko, hanya ada pohon beringin besar." ucap Aditya bingung.


"Pasti ada sesuatu, jika Sinta terus menuntun kita ke sini pasti ada sesuatu." ucap Tazkia sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Iya tapi gimana caranya?"


"Pasti ada Dit kita harus cari!" ucap Tazkia sambil fokus menatap ke arah depan.


"Pejamkan matamu cu, gunakan mata yang lain untuk bisa menemukan apa yang kau cari."


Suara itu tiba tiba saja terdengar samar di pendengaran Tazkia membuat ia lantas menoleh dan mencari sumber suara barusan.


"Apaan?"


"Barusan" ucapnya lagi namun Aditya hanya menatap ke arahnya dengan bingung tidak mengerti ucapan Tazkia. "Sudahlah lupakan." imbuhnya.


Tazkia pada akhirnya mencoba untuk mempercayai suara itu, dihembuskannya perlahan nafasnya sambil memejamkan mata mencoba untuk fokus, setelah dirasa cukup Tazkia kemudian membuka mata perlahan dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Adit ketemu!" teriaknya dengan gembira.


"Apanya?"


"Tokonya lihat itu di depan, ayo cepat masuk ke sana." ucapnya sambil berlarian menuju ke arah depan.


Aditya yang mendengar hal itu tentu dibuat semakin bingung, pasalnya Aditya sama sekali tidak nampak toko ataupun sejenisnya dari arah depan, yang ia lihat hanyalah sebuah pohon beringin besar tidak lebih.


"Ki lo jangan mengadi ngadi deh, ini udah gak lucu." ucapnya.


"Ayo cepat Dit!" ucapnya tidak memperdulikan teriakan Aditya yang memasang wajah ngeri.

__ADS_1


Aditya benar benar parno melihat Tazkia seperti itu, ia kemudian menyusul dan ikut berlari mengejar Tazkia namun anehnya setelah Tazkia mengatakan kata cepat dan mengarah ke arah pohon beringin itu Tazkia tiba tiba menghilang, Aditya yang melihat hal itu tentu saja panik bukan kepalang ia bahkan sampai mendekat ke arah pohon beringin sesuai dengan langkah yang di ambil Tazkia, tapi kenyataannya tetap hanya sebuah pohon beringin tidak ada jalan ataupun sejenisnya di sana, bahkan Aditya sudah berputar dan mengelilingi pohon itu tetap saja Tazkia tidak ketemu.


"Argh benar benar Sial! kenapa di saat seperti ini Kia malah hilang." ucapnya dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah pohon beringin tersebut.


******


Sementara itu di kediaman Tazkia.


Setelah memastikan Aditya dan juga Tazkia sudah pergi perlahan Prasetia membuka pintu kamar tersebut, aura Sinta benar benar berbeda, terasa sangat gelap dan membuat bulu kuduk merinding.


"Dimana cermin itu!" ucap Sinta dengan nada setengah mengerang.


"Cermin apaan sih Sin? jangan aneh aneh deh!" ucap Prasetia berdalih.


Mendengar hal itu tentu saja membuat sosok yang mendiami jiwa Sinta marah, sosok itu kemudian lantas menatap tajam ke arah Prasetia kemudian tanpa aba aba langsung mencekik Prasetia hingga ia naik beberapa centimeter dari tanah, bukankah itu mustahil untuk ukuran seorang perempuan kecil dan manja seperti Sinta?


"Ap..apaa apaan lo Sin..." ucap Prasetia sambil terbata.


"Jangan memaksaku untuk membunuh mu! Kau kira aku tidak bisa menemukan teman sialan mu itu?" ucap Sinta dengan nada yang kasar.


"Siapa kau... sebenarnya?" tanya Prasetia sambil berusaha melepas cengkraman tangan Sinta.


"Kau tidak perlu tahu anak muda....!" ucapnya namun kemudian...


Bruk


Tubuh Sinta langsung ambruk dan jatuh menimpa Prasetia karena sebuah pukulan yang mendarat di punggung bagian belakang Sinta membuatnya langsung pingsan seketika.


Uhuk uhuk


"Lo gak papa Pras?" tanya Faris sambil membantu Prasetia bangkit.


"Gue baik, tapi lo mukul Sinta gak terlalu keras kan? gak akan membuatnya cidera?" tanya Prasetia.


"Tenang aja saya ini dokter, dan aku tahu bagian mana yang rawan cidera jadi kamu gak perlu khawatir." ucap Faris sambil tersenyum.


"Baguslah, kalau begitu bantu saya ikat Sinta sebelum ia bangun." ucap Prasetia yang di balas anggukan oleh Faris.


Keduanya kemudian lantas bergegas membawa tubuh Sinta naik ke atas ranjang milik orang tua Tazkia. Di ikatnya tangan dan kaki Sinta pada ujung ujung sisi ranjang agar ia tidak bisa kabur lagi.


"Bisa kamu jelaskan ada apa ini sebenarnya?" tanya Faris kemudian setelah membantu Prasetia mengikat Sinta.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2