Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Manik mata berwarna merah ~ Cermin bertuah #6


__ADS_3

Di ruang tengah mansion milik Tazkia.


Terlihat Prasetia, Tazkia dan juga Aditya tengah duduk dan berpikir serius tentang keanehan yang di bicarakan Tazkia di telpon tadi. Setelah mengetahui tentang keadaan Sinta yang aneh Tazkia memang langsung mengabari Aditya dan juga Prasetia agar segera pulang.


"Jadi well kita coba untuk berpikir positif aja, mungkin Sinta habis nonton film atau drakor jadi ia ke bawa peran yang ia tonton, mungkin kan?" ucap Aditya memecah keheningan.


"Gak mungkin deh Dit, lo juga tahu kan Sinta mudah baperan kalo nonton sesuatu tapi hanya sebatas itu dia tidak akan mungkin sampai mengikuti semua gestur dan juga gaya bahasanya kan? impossible." jelas Tazkia.


"Yang di katakan Kia ada benarnya, emang lo pikir segabut apa Sinta sampai menirukan pemeran di suatu film." imbuh Prasetia.


"Terus kalau itu gak mungkin, apa dong?" tanya Aditya.


"Pasti ada sesuatu."


"Ya gue juga tahu, tapi apa Pras?" ucap Aditya dengan kesal.


"Apa mungkin karena cermin?" ucap Tazkia tiba tiba.


"Apa hubungannya?"


"Soalnya tadi ketika gue joging, gue seperti melihat sosok yang ada dalam mimpi gue, sosok dalam cermin itu, sosoknya begitu cantik dan suara senandungnya sangat lembut membuat gue seperti terhipnotis dan berjalan mendekat ke arahnya, tapi untung Faris datang tepat waktu, mungkin kalau gak ada Faris yang menyadarkan gue entah jadi gimana lagi gue, mungkin udah di bawa." ucap Tazkia.


Mendengar penuturan Tazkia yang lagi lagi membahas Faris raut wajah Prasetia langsung berubah seketika, Aditya yang menyadari itu lantas langsung mengkode Tazkia agar tidak melanjutkannya.


"Jika memang bener kejadian yang di alami Sinta sama seperti yang Kia alami berarti kita harus cari cara untuk menyadarkannya, bukankah begitu?" ucap Prasetia yang di balas anggukan oleh keduanya.


Ketika ketiganya sedang terlibat pembicaraan serius dari arah tangga terdengar langkah kaki seseorang yang sedang menuruni anak tangga, ketiganya lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dan mereka melihat Sinta tengah berjalan ke arah dapur, di sela sela ketiganya menatap Aditya bahkan sampai melongo karena Sinta benar benar berbeda, mulai dari gestur tubuh dan pembawaannya lebih kalem dari sebelumnya.


"Ini mah bener bener beda." ucap Aditya keceplosan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Prasetia dan juga Tazkia takut Sinta mendengarnya.


*******

__ADS_1


Malam harinya ketika semua sudah tidur dan berlayar ke pulau impian masing masing, Sinta yang memang berubah semenjak ia pingsan tadi pagi, lantas mengerjapkan matanya kemudian perlahan bangkit dan melangkah menuju meja rias di kamar Tazkia.


Di tatapnya kaca itu cukup lama hingga muncullah sebuah sinar yang menyelimuti cermin rias itu, samar samar terdapat bayangan Sinta yang tengah berusaha kabur dari dalam cermin membuat sosok Sinta yang duduk di meja rias lantas tertawa melihatnya.


"Kembalikan tubuh gue setan kampret!" teriak Sinta sambil menggedor gedor kaca siapa tahu bisa pecah atau rusak, namun percuma karena kaca itu sama sekali tidak retak maupun tergores, tidak hanya itu tidak ada orang yang akan bisa mendengar teriakannya selain sosok yang mendiami tubuh Sinta.


Lingsir wengi


Sepi durung bisa nendra


Kagodha mring wewayang


Ngerindhu ati


Kawitane


Mung sembrana njur kulina


...


Senandung itu kembali terdengar dan anehnya langsung membuat jiwa Sinta yang di dalam cermin lantas diam mematung tidak seberutal tadi. Sosok yang mendiami tubuh Sinta lantas tersenyum tipis melihat jiwa Sinta seperti itu.


***


Sementara itu yang sebenarnya terjadi di pagi hari setelah Sinta pingsan, Sinta mengerjapkan matanya perlahan, kepalanya begitu berat hingga telinganya berdengung membuatnya dengan spontan langsung menutup kedua telinganya, setelah merasa lebih enakan Sinta mengedarkan pandangannya menyapu sekeliling dan baru sadar bahwa ia berada di tempat yang asing. Sinta seperti berada di sebuah ruangan kecil dan gelap sedangkan di seluruh ruangannya penuh dengan kaca tanpa jalan keluar ataupun pintu yang bisa ia buka.


Melihat hal tersebut tadinya Sinta berpikir bahwa ia sedang di culik namun sayang ketika melihat tepat di kaca bagian depannya ia melihat Tazkia tengah berjalan melewatinya di ruang tengah mansion milik Tazkia. Melihat hal itu tentu saja Sinta langsung bangkit dan berusaha sebisa mungkin membuat suara gaduh agar Tazkia tahu bahwa ia terkurung di sini, sayangnya niat hati ingin memberitahu Tazkia keberadaannya Tazkia malah terlihat membawanya kemudian mengurungnya di sebuah peti yang tidak tahu di mana itu, dari situ barulah Sinta tahu dia bukanlah di culik melainkan di sembunyikan oleh sosok dalam cermin, kalian pasti bertanya bagaimana Sinta tahu bukan? jawabannya adalah Sinta mengingat dengan jelas posisi cermin diletakkan, apalagi meski telah di pindah dan di kembalikan berulang kali, cermin itu selalu saja kembali ke ruang tengah mansion milik Tazkia, itulah mengapa Sinta berasumsi bahwa dirinya di kurung di dalam cermin antik itu.


"Bagaimana gue bisa keluar dari sini?"


Hihihi

__ADS_1


Hahaha


Kau tidak akan bisa keluar! karena kau akan menjadi seperti kami!


Terlalu banyak suara yang mengelilingi Sinta membuatnya hampir gila karena ketakutan, sepertinya Tazkia memang menempatkan cermin itu bersama beberapa benda mistis lainnya, itulah sebabnya begitu banyak suara serta gangguan yang di dapatkan Sinta sehingga membuatnya hampir gila berada di sini.


"Ki... tolong gue... tolong gue... hiks hiks hiks." rintih Sinta sambil menutup kedua telinganya dengan tangannya karena gangguan serta suara suara di sampingnya semakin menjadi jadi. "Gue takut! gue... takut... tolong..." ucapnya lagi sambil berlinang air mata karena tidak tahu lagi harus bagaimana Sinta keluar dari ruangan yang mengurungnya.


****


Hhhhhhhhhhhh


Tazkia terbangun dengan keringat yang sudah membasahi bajunya, mimpi itu terlalu jelas jika hanya sebuah bunga tidur, Tazkia benar benar melihat Sinta terkurung dan menangis meminta tolong.


Tazkia mengedarkan pandangannya menyapu sekitar mencari keberadaan Sinta, dan pandangannya terhenti pada meja rias miliknya, Tazkia melihat Sinta tengah sisiran di dalam situasi kamar yang gelap tanpa pencahayaan, Tazkia lantas menatap jam dinding miliknya dan ia kemudian mengerutkan kening bingung karena jam masih menunjukkan pukul 12 dini hari, bukankah aneh sisiran tengah malam depan cermin, namun dalam keadaaan tanpa penerangan atau gelap.


Tazkia yang merasa ada yang tidak beres lantas bangkit dan melangkah mendekat ke arah di mana Sinta berada, ditepuknya perlahan bahu Sinta untuk menyadarkannya namun yang terjadi malah Sinta hanya diam sampai kemudian terdengar suara yang membuat bulu kuduk Tazkia merinding.


Jangan ganggu kesenanganku!


Tepat setelah itu tubuh Tazkia mendadak terpental beberapa meter hingga ia tersungkur di lantai karena tidak siap dengan serangan yang mendadak.


"Aw" jerit Tazkia spontan karena merasakan sakit di bagian tangan dan punggungnya.


Sinta kemudian lantas berjongkok dan melihat keadaan Tazkia di bawah.


"Kamu gak papa kan?" tanya Sinta.


Mendengar suara Sinta, Tazkia langsung mendongak dan menatap ke arah Sinta, namun tepat ketika manik mata mereka bertemu Tazkia seperti melihat sekelebat sinar dari manik mata Sinta yang berubah menjadi berwarna merah namun detik berikutnya kembali berwarna normal.


"Siapa lo?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2