Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Semua sudah berakhir


__ADS_3

Mansion Prasetia


Di halaman mansion milik Prasetia terlihat mobil ambulans terparkir di sana, dari arah dalam mansion perlahan dua orang petugas atau perawat membawa kantung jenazah masuk ke dalam mobil ambulans di ikuti dengan Sindi yang masuk ke dalam mobil dengan wajah sendu duduk tepat di sebelah kantung jenazah ayahnya.


Setelah memastikan Sindi masuk dan duduk di dalam seorang petugas lantas menutup pintu mobil bagian belakang kemudian melangkah mendekat ke arah di mana Faris berada.


"Apakah dokter akan ikut?" tanya seorang petugas yang menghampiri Faris.


"Tidak pergilah lebih dulu, aku akan menyusul nanti." ucap Faris yang di balas anggukan oleh petugas tersebut.


Setelah pembicaraan singkat bersama dengan Faris, mobil ambulans yang membawa jenazah Agung lantas melaju pergi meninggalkan kediaman Prasetia.


"Semoga saja masalahnya tidak menjadi rumit, aku harus segera mengurus segalanya dengan Sindi sebelum menjadi semakin lebar." ucap Faris pada diri sendiri, bukan tanpa sebab Faris mengatakan hal itu hanya saja sudah berapa nyawa melayang dan selalu berkaitan dengan empat sekawan itu. Jika sampai polisi mengetahui hal ini, pasti akan sangat sulit menjelaskan rentetan kejadiannya mengingat Tazkia yang pernah menyerahkan diri waktu itu ketika mbok Ratmi meninggal dunia.


Setelah mobil ambulans tersebut pergi Faris mulai melangkahkan kakinya kembali masuk untuk mengecek keadaan Tazkia, Prasetia dan juga Aditya di dalam.


**


Di sofa ruang tengah terlihat Tazkia, Prasetia dan Aditya tengah terduduk dengan raut wajah yang lelah tanpa mengatakan sepatah kata apapun dan hanya menatap ke arah depan sambil bersandar di sofa. Faris melangkahkan kakinya mendekat ke arah ketiganya.


"Kalian hanya bertiga? tumben Sinta gak ikut?" tanya Faris ketika tidak melihat Sinta di manapun.


Baik Tazkia, Prasetia dan Aditya lantas saling pandang satu sama lain ketika mendengar ucapan Faris barusan berusaha mencari keberadaan Sinta di sana.


"Di mana Sinta?" tanya Tazkia kemudian yang di balas gelengan kepala oleh Aditya, sedangkan Prasetia nampak berpikir dan mengingat ingat kapan terakhir kali ia melihat Sinta.


"Astaga! apa mungkin Sinta masih pingsan di atas?" pekik Prasetia yang lantas membuat ketiganya langsung menatap ke arah Prasetia.


"Kok bisa sih Pras?" tanya Aditya

__ADS_1


"Ceritanya panjang, gue susul Sinta dulu sekalian lihat keadaan Melisa di kamar." ucap Prasetia kemudian bangkit.


"Aku ikut" ucap Aditya kemudian yang juga ikut bangkit dan mengikuti langkah kaki Prasetia naik ke atas.


Setelah keduanya pergi, di sana kini hanya tersisa Faris dan juga Tazkia. Faris kemudian lantas mendekat ke arah Tazkia dan mengambil duduk di sebelahnya.


"Pergilah ke kamar mandi dan bersihkan badan mu dulu hem." ucap Faris dengan lembut yang lantas membuat Tazkia langsung menoleh ke arahnya.


Terdengar helaan nafas dari Tazkia membuat Faris lantas menatapnya dengan tanda tanya.


"Apa ada yang kamu lihat tadi?" tanya Faris menebak.


"Aku melihat bapak itu, mungkin lebih tepatnya ketika dia masih muda bersama dengan seorang gadis pergi ke sebuah taman namun tempatnya sangatlah sepi, aku bahkan tidak melihat siapa pun di sana selain mereka berdua, mereka seperti pasangan muda mudi yang tengah di landa kasmaran. Hanya saja, tak berapa lama seorang perempuan nampak datang mendekat ke arah keduanya, adu mulut mulai terjadi setelah perempuan itu datang dan mengacaukan kencan keduanya. Sampai kemudian..." ucap Tazkia tercekat seakan bingung harus menjelaskannya bagaimana.


"Apa yang terjadi Ki?" tanya Faris kemudian.


"Lalu apa kamu juga melihat alasan di balik pembunuhan itu?" tanya Faris kemudian.


"Aku tidak tahu pastinya apa, hanya saja aku mendengar keduanya mengatakan tentang harta." ucap Tazkia mengingat ingat kembali apa yang ada di penglihatannya tadi.


"Lagi lagi hanya karena keserakahan manusia, aku kadang heran bagaimana bisa mereka saling membunuh hanya karena harta yang bukan milik mereka. Bukankah itu terdengar sangat lucu?" ucap Faris kemudian.


"Ya kamu benar, manusia seringkali tersesat dan tidak berpikir dengan panjang akan apa akibat yang akan mereka tanggung dari perbuatan mereka. Keserakahan selalu bisa membuat manusia buta dan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya." ucap Tazkia kemudian.


***


Sementara itu Aditya dan juga Prasetia melangkahkan kaki mereka naik ke atas untuk mengecek kondisi Sinta dan juga Melisa. Prasetia membuka pintu kamar Melisa dan melihat Melisa masih tertidur dengan damainya di sana tanpa terganggu sedikit pun.


"Dasar kebo, bisa bisanya di luar hura hura sedangkan ia malah tidur dengan damainya di kamar." ucap Prasetia sambil menutup kembali pintu kamar Melisa lalu melangkah ke arah Aditya dan juga Sinta.

__ADS_1


"Bagaimana Melisa?" tanya Aditya ketika melihat Prasetia melangkah ke arahnya.


"Masih tidur dengan damai dan khidmat." ucap Prasetia dengan nada yang datar.


"Gila tuh anak kebo amat dia, di luar bahkan sudah seperti kapal pecah lah dia di dalam malah santui banget." ucap Aditya sambil geleng geleng.


"Sudah biarkan saja Dit, mungkin itu lebih baik daripada ia bangun dan memperumit keadaan." ucap Prasetia menanggapi perkataan Aditya barusan.


"Iya juga sih" ucap Aditya.


"Kalau lo gak papa Sin?" tanya Prasetia kemudian ketika melihat Sinta mulai bangun dan membenarkan posisinya.


"Aku gak papa hanya sedikit pusing, bagaimana dengan boneka itu?" tanya Sinta kemudian.


"Semua sudah berakhir, teror boneka itu sudah selesai."jawab Prasetia.


"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya." ucap Sinta sambil menghela nafasnya dengan lega, meski Sinta pingsan di separuh jalan perjuangan mengakhiri teror boneka tersebut, tapi ia tetaplah bersyukur bahwa teror boneka itu benar benar sudah berakhir.


"Ya kau benar Sin, pokoknya jangan ada lagi yang bermain boneka apapun. Ngeri gue kalau kejadian kayak gini terulang kembali." timpal Aditya sambil bergidik ngeri membayangkan kejadian yang baru saja mereka alami.


"Tidak semua boneka seperti itu Dit, lo mah kebiasaan yang salah satu tapi semuanya kena." ucap Sinta sambil geleng geleng kepala.


"Gue kan hanya berpendapat, lagi pula lebih baik mencegah daripada kejadian ya kan?" ucap Aditya tidak mau kalah.


"Sudahlah ayo kita ke bawah dokter Faris dan Tazkia pasti sudah menunggu kita di bawah." ucap Prasetia yang dibalas anggukan oleh Sinta dan juga Aditya.


Ketiganya kemudian lantas berjalan menuju ke bawah untuk menghampiri Tazkia dan juga Faris yang menunggu di bawah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2