
"Ki are you ok?" tanya Prasetia ketika melihat peluh keringat membasahi dahi Tazkia hingga membuat rambut bagian depan Tazkia basah terkena keringat.
Tazkia yang mendapat pertanyaan tersebut bukannya langsung menjawab malah hanya menatap ke arah Prasetia, membuat Prasetia lantas kebingungan akan arti dari tatapan Tazkia barusan.
"Sepertinya kita harus menemui Faris sekarang Pras!" ucap Tazkia tiba tiba tanpa menjelaskan terlebih dahulu apa permasalahannya.
"Untuk apa kita ke sana?" tanya Prasetia dengan tatapan bingung penuh tanda tanya.
"Sudahlah ayo ikut saja nanti akan gue jelaskan di sana sekalian." ucap Tazkia sambil menarik tangan Prasetia agar segera bangkit dan mengikuti langkah kakinya menuju ke ruangan Faris, sedangkan Prasetia yang di tarik hanya bisa pasrah mengikuti kemanapun Tazkia membawanya tanpa banyak bertanya.
Sementara itu tanpa keduanya sadari disaat Tazkia dan juga Prasetia melangkah pergi meninggalkan parkiran, dari dalam mobil ambulan sosok hantu dengan pakaian perawat tengah menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang tidak bisa di baca, kemudian menghilang dari sana dengan senyuman yang menyeramkan menghiasi bibinya.
***
Ruangan Faris.
Tok tok tok
Tazkia dan Prasetia nampak mengetuk pintu ruangan Faris perlahan kemudian lantas masuk ke dalam. Jujur saja Prasetia sama sekali tidak tahu sama sekali apa tujuan Tazkia menariknya datang kemari, sedari tadi yang Prasetia lakukan hanya mengikuti langkah kaki Tazkia pergi tanpa berani bertanya lebih dalam lagi.
"Tumben kalian berdua kemari, ada apa?" tanya Faris yang sedang membaca data statistik perkembangan pasien dan langsung meletakkannya di meja begitu melihat kedatangan keduanya.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, apa kamu punya data data pegawai rumah sakit ini?" ucap Tazkia tiba tiba yang langsung membuat Prasetia dan juga Faris menatap bingung ke arahnya.
"Untuk apa kau tanyakan itu Ki?" tanya Prasetia setengah berbisik kepada Tazkia.
"Diam lah dulu karena data ini sangat penting." jawab Tazkia dengan nada yang datar sambil menatap tajam ke arah Prasetia.
"Ada sih Ki hanya saja belum di perbarui untuk bulan ini, apa kamu masih mau melihatnya?" ucap Faris sambil mengeluarkan sebuah album yang berisi data data perawat dan juga beberapa petugas lainnya di rumah sakit ini kemudian menunjukkannya kepada Tazkia.
"Tak apa, aku malah bersyukur kamu masih punya yang lama." ucap Tazkia dengan bahagia sambil menerima album tersebut dari Faris dan mulai membukanya satu persatu.
Baik Prasetia maupun Faris yang melihat tingkah aneh dari Tazkia hanya saling pandang satu sama lain dengan tatapan yang bingung menunggu penjelasan dari gadis di hadapan Prasetia dan juga Faris.
Faris terus menatap ke arah Tazkia dengan berbagai tanda tanya sambil memperhatikan gerak gerik Tazkia yang sibuk memandangi foto foto para petugas rumah sakit ini.
Tazkia mencermati setiap foto petugas satu persatu dengan teliti tanpa terlewat satupun, butuh waktu cukup lama bagi Tazkia untuk menemukan foto seorang pengemudi ambulans di dalam penglihatannya tadi. Hingga kemudian pada bagian paling akhir album tersebut, pandangan Tazkia lantas terhenti pada satu foto dan Tazkia sangat yakin pria di foto ini adalah pria yang ada di penglihatannya tadi.
"Dia siapa?" ucap Tazkia sambil menunjuk ke salah satu petugas kesehatan pada album tersebut, membuat Prasetia dan juga Faris langsung mengikuti arah tunjuk Tazkia.
"Dia adalah pak Eko, supir ambulans rumah sakit ini?" ucap Faris yang langsung menjawab pertanyaan Tazkia begitu melihat foto yang di tunjuk oleh Tazkia barusan. "Memangnya ada apa?" imbuhnya lagi kemudian.
Mendapat pertanyaan dari Faris, Tazkia kemudian lantas menjelaskan secara langsung detailnya tentang apa yang ia lihat tadi setelah menyentuh mobil ambulans yang terparkir di depan rumah sakit. Tazkia menceritakan semuanya dari awal hingga akhir dan juga beberapa dugaan yang menjadi unek uneknya selama ini. Entah mengapa Tazkia yakin Eko belum bisa pergi sepenuhnya meninggalkan dunia ini, mengingat ia selalu memperlihatkan sosoknya di sekitar area rumah sakit seakan akan ia masih hidup dan menghantui beberapa orang di sini.
__ADS_1
Baik Faris dan juga Prasetia mendengarkan dengan seksama perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut Tazkia. Tanpa di jelaskan secara rinci lagi keduanya kini mulai mengerti tentang beberapa kejadian kejadian aneh yang menimpa beberapa perawat maupun pasien di rumah sakit ini. Terlebih pada pagi harinya selalu saja ada pasien di dalam ambulans yang terparkir di lobi rumah sakit tanpa tahu siapa yang menjemput pasien tersebut dan membawanya ke rumah sakit.
"Lalu apa pendapat mu tentang hal ini?" tanya Faris kemudian dengan penasaran.
"Aku akan mencari tahu apa yang membuatnya tidak bisa pergi meninggalkan dunia ini." ucap Tazkia yang lantas membuat Faris dan juga Prasetia menatap tajam ke arahnya. "Ada apa dengan tatapan kalian berdua?" tanya Tazkia yang merasa aneh karena baik Prasetia maupun Faris malah menatapnya dengan tajam setelah mendengar jawaban dari Tazkia barusan.
"Lo masih tanya kenapa Ki? matahari saja belum naik dan lo mau berkeliaran menyelesaikan masalah orang. Sebaiknya lo istirahat saja sekarang besok baru kita akan mencarinya." ucap Prasetia dengan tegas yang menatap tak percaya ke arah Prasetia.
"Apa yang di katakan Pras ada benarnya, sebaiknya kamu istirahat saja malam ini jangan berpikir yang macam macam." ucap Faris ikut ikutan memperingati.
Bukan mereka acuh dan tidak peduli dengan sekitar, hanya saja mengingat sifat Tazkia yang tidak bisa diam sebelum menyelesaikan suatu masalah, membuat Prasetia dan juga Faris lantas sepakat dalam hal ini.
"Setidaknya berikan aku alamatnya sekarang, baru aku akan kembali dan pergi istirahat." ucap Tazkia dengan nada yang memelas.
"Tidak!" ucap Faris dan juga Prasetia secara bersamaan membuat keduanya lantas saling pandang karena baru kali ini keduanya berpikir hal yang sama.
"Sebaiknya kamu bawa dia ke ruang rawat Sinta sekarang Pras sebelum dia berubah pikiran." ucap Faris kemudian memberikan saran kepada Prasetia.
"Tentu saja" ucap Prasetia sambil menatap ke arah Tazkia.
"Kalian tidak bisa memperlakukan ku seperti ini, lagi pula sejak kapan kalian berdua menjadi satu tim?" ucap Tazkia dengan kekeh masih menginginkan alamat supir ambulans itu, namun Prasetia malah menggiringnya keluar dari ruangan Faris. "Ayolah sayang .. setidaknya berikan aku alamatnya." ucap Tazkia setengah berteriak mencoba merayu Faris namun gagal dan berakhir dengan di dorong oleh Prasetia agar terus melangkah pergi dari ruangan Faris.
__ADS_1
"Dasar perempuan kalau ada maunya saja panggilnya sayang sayang." ucap Faris sambil mendudukkan dirinya pada kursi kebesarannya.
Bersambung