Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Barter yang sama sama menguntungkan


__ADS_3

Sementara itu beberapa jam sebelum janji ketemuan antara Doni dan Tazkia terjadi.


Setelah Tazkia berteleportasi, Doni langsung melajukan mobilnya menuju ke tempat biasa ia nongkrong bersama Aldo, lebih tepatnya seperti markas untuk keduanya berkumpul.


Ada perasaan khawatir yang menyelimuti Doni sepanjang perjalanan, ia sebetulnya tidak terlalu yakin dengan usulan dari Tazkia, mengingat sifat Aldo yang arogan dan semaunya membuat Doni semakin tidak yakin. Helaan nafas terdengar beberapa kali dari Doni ketika pikirannya terbagi antara Aldo dan juga masalah yang kian menumpuk.


"Gue pasti bisa! semoga saja semuanya berjalan dengan lancar." ucap Doni sambil terus melajukan mobilnya menuju ke markas.


****


Doni melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah bangunan yang seperti kos kosan namun dengan dinding yang penuh dengan berbagai macam gambar mural terlukis di sana, menambah kesan anak muda jaman now ketika memasukinya. Doni menatap ke sekitar untuk mengecek situasi ia takut jika bertemu dirinya di masa ini, ketika sampai di dalam Doni sedikit terkejut karena keadaan di dalam begitu gelap.


"Tumben gelap benget?" ucapnya sambil mencari saklar lampu.


Lagi lagi Doni dibuat terkejut karena ternyata di dalam ruangan itu sudah ada Aldo yang di sekap, Roman dan juga seorang pria yang Doni tidak tahu siapa itu, namun yang membuat Doni merasa aneh penampilan Roman saat ini benar benar kacau di mana tubuhnya yang sudah babak belur dan memakai baju seperti layaknya seorang tahanan, Doni berada di posisi yang bingung harus berbuat apa? ia merutuki kebodohannya karena tidak mempersiapkan terlebih dahulu segalanya dengan matang sebelum datang kemari.


"Bagaimana? Apa kau terkejut?" ucap pria misterius itu membuat Doni mati kutu bingung harus menjawab apa. "Kau kira aku tidak tahu kau datang dari masa depan ha? karena ulah mu kau mengacaukan semua rencana ku!" ucap pria itu sambil menendang Aldo dari belakang namun dengan tatapan yang ditujukan kepada Doni.


Aw ...


"Hentikan! apa mau mu sebenarnya?" ucap Doni yang tidak tega melihat Aldo disakiti.


"Mau ku ya? apa kau yakin kau bisa mengabulkannya?" ucapnya dengan tertawa sinis sambil menjambak rambut Aldo hingga membuat Aldo meringis kesakitan.


"Aku ... akan aku lakukan!" ucap Doni dengan yakin.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Doni tawa menggema terdengar dari pria itu membuat suasana semakin mencekam di sana.


" Kau lihat bukan? dia hanyalah orang bodoh yang akan berkorban untuk orang bodoh lainnya." ucap pria tersebut sambil menampar pipi Aldo berulang kali.


" Hentikan!" ucap Doni yang sudah tidak bisa melihat Aldo diperlakukan seperti itu.


" Baiklah, asalkan kau mau membunuhnya!" ucap pria tersebut sambil menendang sebuah pisau belati hingga melesat tepat di sebelah kaki kiri Doni.


Doni terdiam menatapi pisau itu di kakinya, bodohnya dia yang mengira akan mendapatkan perintah yang mudah dari pria misterius tersebut, sedangkan Roman hanya tersenyum sinis menikmati pemandangan yang tersaji di hadapannya.


"Apa yang membuat mu terdiam? bukankah kau tahu aturannya? siapa yang berkhianat itu artinya kematian! jadi silahkan putuskan sendiri siapa yang akan mati kamu atau dia!"


Setelah mengatakan hal tersebut pria misterius itu lantas melempar Aldo hingga ia tersungkur, sedangkan Doni entah apa yang tengah dipikirkannya ia malah mengambil pisau tersebut kemudian mendekat ke arah Aldo terjatuh.


"Kau sudah berjanji akan melepaskan salah satu dari kami yang lolos bukan? pastikan kau menepati janji itu!" ucap Doni sambil menatap ke arah Aldo sementara pria itu hanya tersenyum licik menanggapi ucapan Doni barusan. "Maafkan aku Al." ucap Doni dengan nada sendu di setiap kalimatnya.


" Don bukankah kita selalu melewatinya bersama? ada apa ini Don? lo tidak akan membunuh gue bukan?" ucap Doni dengan keringat dingin yang sudah membasahi dahinya karena melihat Doni yang bergerak semakin mendekat padanya.


" Maafkan gue Al, satu hal yang perlu lo tahu bahwa nyokap benar benar terpaksa membuang lo, karena dia mengganggap lo gak akan kuat berada di dalam sebuah keluarga yang jatuh miskin dan penuh penyiksaan yang di lakukan bokap setiap hari, itulah mengapa mama membuang mu dan memilih mempertahan ku, alasannya hanya satu karena mama berpikir gue bisa menanggungnya sedangkan lo tidak!" ucap Doni dengan nada lirih namun bisa di dengar oleh Aldo.


" Gue ... gue ..."


Tubuh Doni semakin dekat dan semakin dekat, sedangkan tangan Doni sudang memegang pisau itu sedari tadi bersiap untuk melakukan aksinya.


" Maafkan gue Al ..." ucap Doni kemudian dengan gerakan cepat mengarahkan pisaunya.

__ADS_1


Tes tes tes


darah segar mulai mengalir dan jatuh ke lantai setetes demi setetes membuat pria tersebut dan juga Roman bahagia sejadi jadinya melihat tontonan gratis di depan mereka. Ya pisau itu menancap tepat di perutnya, membuat pakaian bawahnya merembes terkena noda darah, namun sayangnya bukan Aldo yang terkena luka dari pisau itu melainkan Doni yang membalikkan posisi pisaunya hingga Doni lah yang menerima tajamnya pisau belati menggantikan Aldo.


Bruk


Tubuh Doni perlahan ambruk tepat di sebelah Aldo membuat perasaan serta hati Aldo merasa bersalah karena ia tidak pernah menghargai Doni disisinya dan hanya memanfaatkannya selama ini. Suara tepukan tangan keras menggema di ruangan tersebut, pria misterius itu lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah Aldo dan Doni.


"Wah wah wah ternyata teman mu ini boleh juga ya." ucap pria tersebut.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Aldo naik pitam, ia lantas langsung menatap tajam ke arah pria itu karena merasa tidak terima dengan ucapannya.


"Ada apa dengan tatapan mu itu? apa kau meminta ku untuk menyelamatkannya? bisa, asalkan ..." ucap pria tersebut menggantung seakan sengaja memancing perasaan Aldo sekaligus memanfaatkannya.


Aldo terdiam mendengar ucapan itu, ia menatap ke arah Doni yang tengah sekarat di bawah, air mata Doni menetes, dengan perlahan Doni menggelengkan kepalanya lemah sambil menahan rasa sakit seakan akan mengisyaratkan Aldo untuk tidak mengiyakan ucapan pria tersebut.


" Bagaimana? caranya gampang kok." ucapnya lagi dengan nada santai.


Aldo menatap ke arah pria itu kemudian dengan hati yakin melangkah menuju ke arah pria itu, sementara Doni hanya bisa menyaksikan apa yang di lakukan Aldo karena ia sama sekali tidak berdaya sekarang, seperti waktunya tidak akan lama lagi.


" Apa syaratnya?"


Pria itu lantas tersenyum kemudian memberikan isyarat kepada Aldo untuk mendekat dan membisikkan sesuatu.


" Apa kau gila!" teriak Aldo kala mendengar hal tidak masuk akal yang di ucapkan pria itu.

__ADS_1


" Keputusan ada di tangan mu, aku bisa memberikan sebagian energi ku untuknya sehingga ia bisa bertahan beberapa jam dan mendapat pertolongan media secepatnya, bukankah itu sebuah barter yang sama sama menguntungkan?"


Bersambung


__ADS_2