Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Kau sudah melihatnya sendiri


__ADS_3

Suasana di cafe begitu ramai akan pengunjung, Tazkia dan teman temannya melihat tempat duduk di area roof top karena di sana tidak terlalu bising lagipula suasana dan hawanya begitu sejuk untuk berbincang.


"So geis apa ada yang tahu kronologi Roman bisa kabur?" tanya Aditya langsung pada intinya.


"Entah mungkin lewat gorong gorong." ucap Prasetia singkat.


"Ya kali Pras, sepertinya gak mungkin deh." balas Sinta.


"Sebenarnya mungkin gue tahu sesuatu." ucap Tazkia kemudian ragu ragu membuat ketiga temannya langsung menatap Tazkia dengan tatapan yang penasaran menanti Tazkia melanjutkan ucapannya.


"Jadi sebenarnya ketika malam ritual itu, disaat gue berhasil kabur gue dan Doni melakukan perjalanan ke masa lalu untuk mengubah segalanya, kami berdua pergi ke hari sebelum pak Reno memberi kita tugas itu, Doni dan gue melakukan segala cara agar tugas itu tidak pernah di laksanakan, namun sayangnya itu hanya sia sia usaha kami benar benar tidak membuahkan hasil sama sekali, karena gue dan Doni tidak ingin pulang dengan tangan kosong akhirnya kami membagi tugas, gue pergi ke Faris untuk minta tolong sedangkan Doni pergi untuk mencegah Aldo, kami sepakat untuk bertemu kembali di depan kampus setelah menyelesaikan misi masing masing." ucap Tazkia kemudian.


"Pantes tuh orang nongol tiba tiba." ucap Prasetia dalam hati ketika mendengar ucapan Tazkia.


"Jadi karena itu dokter Faris datang." ucap Aditya sambil manggut manggut.


"Sweet banget sih." ucap Sinta yang lantas membuat Prasetia dan juga Aditya menatap dengan tajam.


"Lalu?" ucap Prasetia singkat karena ia sudah mulai panas terus terusan mendengar nama Faris disebutkan.


Mendengar pertanyaan Prasetia senyum dibibir Tazkia perlahan memudar berganti dengan tatapan mata yang sendu seakan ada penyesalan di setiap tatapan Tazkia, membuat Prasetia merasa tak tega melihat raut wajah sendu itu.


"Sore harinya ketika kami bertemu kondisi Doni sudah pucat dengan luka di bagian perutnya, sedangkan Aldo terlihat sudah terbaring di bangku penumpang, gue yang bingung dengan apa yang terjadi lantas masuk ke dalam mobil dan bertanya penyebabnya, namun tiba tiba gue di jerat oleh seseorang yang ternyata adalah Aldo, dan ini hasilnya." ucap Tazkia sambil menunjuk bekas luka yang hampir pudar di lehernya.


"Terus apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Aditya.


"Aldo mencekik gue cukup lama dalam aksinya Aldo terus saja mengulang kata gue harus mati untuk menggantikan Doni, dan detik selanjutnya Faris datang dan menyelamatkan gue." ucap Tazkia.


"Cie pangeran berkuda." ucap Sinta yang merasa kagum akan Faris yang selalu ada di saat Tazkia membutuhkan.


"Sinta!" teriak Aditya dan juga Prasetia secara bersamaan.


"Maaf"

__ADS_1


"Bukan itu intinya Sin, sebelum kepergiannya Doni berpesan bahwa dalang dari segalanya bukanlah Roman, ia hanyalah sebuah boneka yang di gunakan sebagai kambing hitam, dan Doni menyuruh kita untuk berhati hati." ucap Tazkia kemudian.


"Berarti jika gue tarik kesimpulan dari ucapan Kia, ada kemungkinan Roman datang bersama orang itu kembali ke masa lalu menemui Aldo dan Doni, jika itu benar lalu yang jadi pertanyaannya sekarang, siapa orang itu?" ucap Prasetia.


Tazkia hanya mengangkat kedua bahunya menandakan ia tidak ada ide atau bahkan informasi apapun tentang orang itu.


"Apakah Doni tidak cerita sebelumnya?"


"Jika itu sempat, gue gak perlu repot repot menerka nerka." ucap Tazkia dengan nada yang kesal.


"Ya maaf"


Tepat setelah Aditya mengatakan hal itu pesanan mereka kemudian datang, sehingga mereka memutuskan untuk menghentikan obrolannya dan menyantap hidangan yang telah tersedia.


"Gue ke kamar kecil sebentar." ucap Prasetia sambil bangkit berdiri dan melenggang pergi.


Tazkia hanya menatap punggung Prasetia dengan perasaan yang tak karuan.


"Tumben" ucap Aditya.


"Ya mungkin mereka akan menyelesaikan masalahnya hari ini." ucap Sinta sambil menikmati kepiting asam manis dengan lahapnya.


"Pelan pelan napa Sin!" ucap Aditya yang tengah memperhatikan Sinta makan hingga belepotan.


"Bodo amat." ucapnya sambil terus menikmati kepitingnya.


"Dasar rakus lo." ucap Aditya sambil menoyor pelan kening Sinta.


*******


Sementara itu Tazkia menunggu Prasetia cukup lama di depan toilet pria ( gak mungkin bukan kalau Tazkia tiba tiba masuk dan berbicara dengan Prasetia di dalam).


Hingga beberapa menit kemudian terlihat Prasetia keluar dari sana sambil membereskan bajunya kembali melewati Tazkia, sepertinya Prasetia tidak menyadari kehadiran Tazkia di sana.

__ADS_1


"Pras" ucap Tazkia yang lantas menghentikan langkah kaki Prasetia.


"Ada apa?" tanya Prasetia kala berbalik badan ternyata suara itu milik Tazkia.


"Apa gue berbuat salah?"


"Tidak"


"Atau lo sedang punya masalah?"


"Tidak"


"Lalu kenapa lo seperti menghindar dari gue?"


"Tidak kenapa napa"


Tazkia yang kesal jawaban Prasetia hanya tidak tidak saja, lantas berjalan mendekat dan langsung memegang tangan Prasetia hendak meminta jawaban, namun bukannya mendapat jawaban malah Tazkia mendapat sebuah penglihatan yang tak pernah ia duga sebelumnya.


Dalam penglihatannya Tazkia di bawa ke sebuah kamar tepatnya di mansion milik Prasetia, suasananya begitu gelap tanpa penerangan apapun, Tazkia semakin masuk, dalam hatinya Tazkia terus bertanya kenapa harus sekarang ia mendapat penglihatan? ini baru pertama kalinya Tazkia masuk ke kamar Prasetia karena sebelumnya meski mereka sahabat tapi Prasetia selalu menjaga privasinya, Prasetia tidak pernah mengijinkan teman temannya masuk ke kamar entah apa yang disembunyikan Prasetia, namun baik Aditya, Sinta dan juga Tazkia tidak ingin mengorek lebih dalam lagi, karena takut itu akan membuat persahabatan mereka renggang nantinya.


Di sebuah ranjang dengan nuansa warna hitam Tazkia melihat Prasetia tengah duduk di bawah dekat ranjangnya seperti tengah memandangi sesuatu, suasananya benar benar hening dan sunyi hingga Tazkia bertanya tanya ada apa dengan Prasetia?


"Aku mencintaimu ki! apakah kamu tidak bisa melihatnya?" ucap Prasetia dengan nada yang frustasi sambil menatap sebuah foto dengan potret Tazkia di atasnya.


Tazkia terdiam seribu bahasa, ia benar benar terkejut mengetahui fakta kali ini, hingga kemudian ia seperti kembali tertarik dan di buat sadar detik itu juga. Tazkia kemudian lantas mendongak menatap ke arah Prasetia sedangkan Prasetia hanya diam dengan tatapan yang tidak bisa terbaca, hingga kemudian terdengar helaan nafas dari Prasetia yang malah membuat tanda tanya besar untuk Tazkia.


"Lo sudah lihat sendiri kan? jadi gue gak perlu menjelaskannya lagi! terserah lo mau bagaimana, tapi gue harap jangan terlalu menjaga jarak atau kabur karena itu bisa menghancurkan persahabatan kita, biarkan saja waktu yang mengobati semua lukanya, oh lebih tepatnya luka ku, gue harap lo bahagia dengan Faris tapi gue juga berharap lo tidak selamanya bahagia, agar lo bisa sedikit merasakan rasa sakit yang gue alami!" ucap Prasetia dengan nada datar membuat Tazkia lantas terbengong karena tidak bisa mencernanya sekaligus.


"Ha?"


"Gue hanya bercanda, jangan terlalu serius." ucap Prasetia sambil mengacak acak rambut Tazkia kemudian tersenyum lalu melangkah pergi kembali ke meja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2