
Melihat Tazkia dan juga Faris yang melangkah pergi dari sana, membuat Sinta langsung berlarian dan hendak mengejar keduanya.
"JANGAN LARI KALIAN, AKU HARUS MEMBUNUHNYA!" teriak Sinta.
Prasetia dan Aditya yang mengetahui Sinta akan mengejar Tazkia dan juga Faris lantas langsung menarik tangan Sinta, Aditya mencoba merebut pisau dari tangan Sinta kemudian menendangnya jauh ketika pisau itu lepas dari tangan Sinta. Sementara Prasetia memegang tubuh Sinta dengan erat agar tidak bisa melarikan diri dan mengejar Tazkia dan juga Faris.
"MINGGIR KALIAN SEMUA! DIA HARUS MATI!" teriak Sinta meronta ronta.
"Lo harus sering sering nyebut deh Sin, sepertinya dedemit demen banget nempel di elo!" ucap Aditya sambil ikut memegangi tangan Sinta.
"Bisa diem gak sih Dit? minimal bantu doa kek biar Sinta sadar" ucap Prasetia kesal karena Aditya terus saja mengomel.
"Ini juga kan gue udah bantu sebisa gue Pras, lo lama lama kayak emak emak ya? gak bisa diem nyerocos mulu." ucap Aditya tak mau kalah.
Ketika keduanya sedang sibuk beradu mulut, disitulah Sinta mempunyai celah dan mendorong keduanya hingga Aditya dan juga Prasetia terpental cukup jauh.
Sinta yang sudah terlepas dari pegangan keduanya, lantas langsung berlari dengan cukup kencang menuju ke arah kafe menyusul Tazkia dan juga Faris ke sana.
"Pras kenapa lo biarin Sinta lolos sih?" ucap Aditya setengah berteriak.
"He kampret mulut lo tuh yang gak bisa diem!" ucap Prasetia tak mau kalah sambil bangkit.
****
Kembali ke kafe
Mendengar Tazkia baik baik saja Faris nampak lega sedikit, ia kemudian mendudukkan bokongnya di sebelah Tazkia, sedangkan Tazkia yang mengetahui hal itu lantas sedikit mencondongkan kepalanya pada bahu Faris dan memejamkan matanya perlahan. Faris mengelus pelan rambut Tazkia kemudian mencium puncak kepalanya dengan sayang, keduanya lantas terdiam dan menikmati waktu masing masing, seakan saling merekam setiap momen yang mereka habiskan berdua seperti sekarang ini.
"Jika aku tidak selamat dalam permainan ini, kamu harus melanjutkan hidup mu Ris!" ucap Tazkia tiba tiba sambil masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Faris yang mendengar hal itu tentu saja sedikit terkejut, karena baru kali ini Tazkia mengucapkan kata kata dengan putus asa.
"Tidak akan Ki! aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." ucap Faris dengan tegas dan tak ingin di bantah.
Baru saja keduanya menikmati momen berdua, entah datang dari mana dan kapan itu bermula, rambut Tazkia tiba tiba terasa seperti di jambak dari area atas meja mini bar hingga membuat Tazkia kesakitan. Faris yang sadar ada yang aneh lantas bangkit untuk melihat tangan siapa yang menarik Tazkia.
Ketika Faris bangkit, di atas meja mini bar Sinta sudah berjongkok di sana dengan tatapan wajah yang mengerikan dan mulut yang berdesis hingga air liurnya jatuh jatuh dan menjulur panjang.
"Lepaskan tangan mu!" ucap Faris sambil membantu melepaskan cengkraman tangan Sinta dari rambut Tazkia.
Tazkia yang posisi tengah kesakitan hanya bisa mengikuti arah tarikan tangan Sinta, ia bisa saja melawan hanya saja kemungkinan terbesarnya seluruh rambutnya akan lepas atau bagian terburuknya mungkin kepalanya yang akan lepas, kala mengingat kini Sinta tengah kerasukan yang tentu saja tenaganya bertambah berkali kali lipat.
"Sinta sadar! jangan seperti ini Sin..." ucap Tazkia mencoba menyadarkan Sinta.
"HAHAHAHA KAU HARUS MATI AGAR PERMAINANNYA BISA BERLANJUT!" ucap Sinta.
Faris masih mencoba melepaskan cengkraman tangan Sinta dari rambut Tazkia, hingga kemudian Sinta yang memang tengah kesal karena semua orang menghalanginya untuk membunuh Tazkia, lantas langsung mendorong Faris dengan kuat hingga Faris terjatuh dan menabrak ke lemari bagian bawah.
***
Sedangkan di dekat rak buku, Prasetia yang hendak menyusul Sinta yang melangkah mengejar ke arah kafe, lantas menghentikan langkah kakinya kala melintasi papan kayu yang berisi permainan ular tangga itu.
"Dit berhenti!" ucap Prasetia setengah berteriak.
Aditya lantas menghentikan langkahnya kala mendengar panggilan Prasetia barusan, lalu berjalan mendekat ke arah di mana Prasetia berada.
"Ada apa Pras?" tanya Aditya.
"Ada yang kita lewatkan dari clue yang muncul di papan permainan ini Dit, lihatlah!" ucap Prasetia sambil menunjuk ke arah tulisan yang ada di papan kayu itu.
__ADS_1
Selamat kamu mendapatkan anak tangga dan bisa meLewati dua kotak sekaligus, sayangnyA dua pion tak bisa meNjadi satu. Kalian harus menyingkirkan salah satunya! agar bisa melanJUTkan permainannya.
Aditya menatap ke arah clue itu dengan seksama, namun ia masih juga tidak mengerti apa yang di maksud oleh Prasetia.
"Apa sih Pras? bukannya itu sama saja?" ucap Aditya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lihatlah dengan seksama! bukankah harusnya huruf kapital di gunakan untuk awal kalimat dan setelah tanda titik? sedangkan tulisan yang terdapat dalam clue ini, terdapat huruf kapital secara acak dan pada kalimat yang berbeda." ucap Prasetia sambil berpikir apa maksud dari huruf kapital yang acak itu.
"Iya lalu apa masalahnya?" tanya Aditya lagi masih tidak mengerti.
"Astaga! cobalah lihat baik baik dan satukan huruf kapital dengan posisi yang acak dan tak seharusnya itu!" perintah Prasetia dengan kesal.
"L A N J U T, lanjut bukan sih?" tanya Aditya sambil menatap ke arah Prasetia.
"Yap, jika clue tersebut menyuruh kita untuk menyingkirkan salah satunya agar bisa melanjutkan permainan, namun di sisi lain huruf kapital dalam clue tersebut menyuruh kita lanjut. Bukankah itu artinya terdapat dua pilihan dalam clue itu Dit?" ucap Prasetia kemudian, sedangkan Aditya yang memang IQ nya tidak terlalu tinggi, mendengar penjelasan dari Prasetia seakan hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. "Itu artinya kita bisa memilih salah satunya Dit! kita tidak harus saling membunuh, namun tetap bisa melanjutkan permainannya." ucap Prasetia lagi kala melihat Aditya masih menatapnya dengan bingung.
Prasetia kemudian lantas duduk dan bersiap untuk bermain, karena setelah Sinta adalah gilirannya untuk bermain dan melempar dadu.
"Lo yakin Pras?" tanya Aditya.
"Semoga tebakan gue benar." ucap Prasetia sambil melempar dadunya.
Dadu yang di lempar Prasetia berhenti di angka 4, dengan perlahan pion milik Prasetia mulai muncul dan berjalan sesuai angka yang tertera di dadu tersebut.
Anda berhenti di kotak nomer 4, selama 4 jam ke depan adalah waktu tenang bagi para pemain, selamat menikmati waktu istirahat.
Melihat tulisan itu muncul di papan membuat Aditya dan juga Prasetia bernafas lega karena tebakan Prasetia adalah benar, keduanya kemudian lantas saling berpelukan dan bersyukur akan apa yang di peroleh oleh Prasetia barusan.
"Kita berhasil."
__ADS_1
Bersambung