
Sementara itu yang terjadi di Kafe sebelum Prasetia menyadari tentang clue tersebut.
Sinta lantas langsung melompat dari atas mini bar kemudian langsung menyeret Tazkia dari sana. Tazkia berusaha untuk terus memberontak dan melepaskan cengkraman tangan Sinta dari rambutnya, namun nyatanya tenaga Sinta lebih besar dari yang biasanya, membuat Tazkia tidak bisa berkutik dan berbuat apapun.
"Sin gue mohon sadar! lo pasti bisa Sin." ucap Tazkia lagi.
Mendengar ucapan Tazkia barusan Sinta lantas tertawa, kemudian melempar tubuh Tazkia cukup jauh hingga membentur dinding.
Aw..
Tubuh Tazkia benar benar terasa sakit semuanya tapi ia tidak bisa melakukan apa apa, Tazkia sungguh nampak sangat menyesal kala kelebihan yang ia punya tidak bisa membantu teman temannya si saat seperti ini.
Merasa belum puas dengan Tazkia, Sinta terlihat mulai menatap sekeliling mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membunuh Tazkia, sampai kemudian pandangannya terhenti pada sebuah kursi kayu di sudut ruangan, Sinta berlarian ke sana kemudian membanting kursi tersebut hingga patah menjadi beberapa bagian. Sinta lantas mengambil bagian yang paling lancip dan membawanya ke arah Tazkia.
Tazkia yang melihat hal itu tentu saja panik dan mulai mencoba bangkit walau rasanya seakan tubuhnya lemas dan tak bertulang.
Sekeras apapun Tazkia mencoba, usahanya terus gagal karena keduluan oleh Sinta yang sudah melompat dan duduk di atas tubuhnya sambil mengayunkan kayu itu ke arah dada Tazkia.
Tazkia yang mengetahui hal itu lantas langsung menahannya sekuat mungkin, terjadilah aksi saling tahan antara Tazkia dan juga Sinta di sana. Tazkia akui tenaga Sinta benar benar kuat kali ini, kayu itu berkali kali hampir hendak menusuknya jika Tazkia tidak awas dan meleng sedikit saja, tapi untungnya Tazkia berhasil menahannya dan mengarahkan kembali ke atas sekuat tenaga.
"Sin sadar! gue gak mau lo... menye... sal nantinya.." ucap Tazkia dengan terbata sementara Sinta malah tersenyum sinis ke arah Tazkia tanpa menghiraukan ucapan Tazkia sama sekali.
Hingga kemudian...
Sret
Suara goresan itu terdengar lirih dan menyeret sesuatu, bersamaan dengan itu tubuh Sinta lantas limbung dan menimpa Tazkia.
Faris terlihat berlarian dari arah dalam kafe hendak mengejar Sinta dan juga Tazkia, namun ketika sampai di depan kafe Faris malah melihat Sinta dan Tazkia diam tak bergerak, dengan posisi tubuh Sinta berada di atas Tazkia sedangkan di lantai sudah terlihat noda darah di sana, membuat pikiran Faris langsung melayang mengingat kembali ucapan Tazkia tadi di dapur kafe.
"Tidak mungkin!" ucap Faris terkejut menatap pemandangan di hadapannya.
__ADS_1
Sedangkan dari arah ruang baca Aditya dan juga Prasetia melangkah ke arah kafe hendak melihat keadaan yang lainnya. Keduanya nampak juga ikut terkejut kala sampai di sana melihat hal yang sama seperti yang Faris lihat.
Faris berlarian ke arah Sinta dan juga Tazkia, berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada keduanya terutama Tazkia.
"Sin Ki kalian baik baik saja?" tanya Faris kala sampai di sana namun tidak ada jawaban dari keduanya.
Faris kemudian mengalihkan tubuh Sinta yang terlihat sedang pingsan dan memindahkannya ke sebelah. Setelah tubuh Sinta di pindah, wajah Tazkia nampak meringis seperti menahan sakit membuat Faris semakin khawatir.
Faris mengecek bagian tubuh Tazkia yang terluka, dan Faris bersyukur bagian atas pundak Tazkia hanya tergores sedikit oleh kayu itu dan tidak sampai ke dalam.
"Kamu masih bisa menahannya? kita akan mengobatinya di tengah ya." ucap Faris yang hanya di balas Tazkia dengan anggukan kepalanya.
"Bagaimana kondisi mereka?" tanya Prasetia yang baru saja datang di susul Aditya di belakangnya.
"Tidak ada luka serius kalian tenanglah, bantu aku memindahkan Sinta ke ruang baca." ucap Faris sambil mulai mengangkat tubuh Tazkia dan menggendongnya ala bridal style.
*********
Mereka berlima nampak mengistirahatkan sejenak lelah mereka, luka Tazkia kini sudah di balut perban dan di obati oleh Faris. Beruntungnya lagi meski tempat ini belum sepenuhnya selesai, namun Faris sudah melengkapi hampir sepenuhnya keperluan yang di butuhkan ketika keadaan darurat seperti saat ini.
Sinta yang sudah bangun sedari tadi, lantas mulai mendekat ke arah Faris dan Tazkia.
"Faris apa..." ucap Sinta namun terpotong kala melihat isyarat dari Faris untuk tidak berisik.
"Biarkan Tazkia istirahat sebentar." ucap Faris kemudian.
Setelah luka Tazkia di obati dan meminum obat pereda nyeri, Tazkia memang menyandarkan kepalanya pada pangkuan Faris dan mulai memejamkan matanya sebentar.
"Apa lukanya parah?" tanya Sinta kemudian.
"Tak perlu khawatir hanya menggores bagian luarnya saja, tidak terlalu dalam." ucap Faris mencoba menenangkan Sinta yang sepertinya tengah merasa bersalah sekarang.
__ADS_1
"Aku ingin minta maaf." ucap Sinta dengan nada yang lirih.
"Sudahlah, lagi pula itu bukan keinginan mu. Sebaiknya kita fokus saja pada permainannya agar semua bisa kembali seperti semula." ucap Faris kemudian.
"Tapi rasanya aku tetap merasa bersalah meski itu bukan kemauan ku." ucap Sinta lagi.
"Aku yakin Kia pasti akan mengerti." ucap Faris sambil mengelus rambut Tazkia perlahan.
Sedangkan Prasetia yang melihat perlakuan Faris pada Tazkia hanya bisa tersenyum. Kini Prasetia tahu bahwa Faris adalah sosok yang tepat untuk berada di sisi Tazkia, namun untuk perasaannya tentu saja rasanya tetap sakit, tapi Prasetia berusaha sebisa mungkin untuk mulai menerimanya secara perlahan.
***
4 jam kemudian.
Mereka berlima kembali duduk memutari papan permainan ular tangga itu, bersiap untuk melanjutkan permainan kembali. Kini giliran yang bermain permainan kembali kepada Aditya.
Aditya nampak gugup mengambil dadu tersebut, terdengar helaan nafas berulang kali dari Aditya.
"Tenanglah Dit, angka berapapun nanti yang ke luar dan apapun rintangan yang menanti kita, kita lakukan secara bersama sama." ucap Tazkia kemudian kala melihat wajah tegang Aditya.
Mendengar ucapan Tazkia barusan Aditya hanya mengangguk pelan kemudian mulai mengocok dadunya. Setelah dadu di kocok Aditya mulai melempar dadunya perlahan dan berhenti di angka 6. Pion milik Aditya yang semula di kotak nomer 3 perlahan mulai bergerak dan berhenti di kotak nomer 9.
Kamu mendapatkan angka kembar! selamat kamu mendapat satu kali kesempatan untuk mengocok dadu kembali.
Sesuai instruksi yang muncul di papan tersebut, Aditya mengambil kembali dadunya dan memulai mengocok kembali dadu tersebut. Dadu menggelinding perlahan dan berhenti tepat di angka nomer 5.
Melihat hal tersebut semua mata fokus menatap mengikuti arah pion milik Aditya, hingga berhenti tepat di kotak nomor 14. Wajah ke limanya lantas mendadak berubah menjadi tegang, kala mengetahui di kotak nomor 14 terdapat kepala ular. Jika dalam permainan yang sesungguhnya, kepala ular mempunyai arti bahwa pion yang berada di kotak dengan gambar kepala ular, harus turun ke bawah mengikuti arah tubuh ular dan berakhir pada ekor ular.
"Kepala ular!" ucap Aditya dengan nada yang terkejut.
Bersambung
__ADS_1