
Tazkia tak gentar walau melihat boneka itu nampak marah padanya. Sedangkan boneka tersebut yang melihat Tazkia tak takut sama sekali lantas tertawa sambil melayang memutari Tazkia dengan tetap membawa gunting di tangannya.
Tak berapa lama lampu kamar menjadi gelap, entah itu karena pemadaman atau memang karena ulah arwah yang mendiami boneka tersebut. Tazkia mulai merogoh saku celananya mencoba mencari keberadaan ponselnya untuk ia gunakan sebagai penerangan, namun sepertinya Tazkia lupa dan meninggalkannya di bawah.
"Sial, kenapa aku tidak membawa ponsel ku?" gerutu Tazkia dengan kesal, Tazkia menoleh ke arah kanan kala mendadak terasa hembusan angin di sebelah kanannya, namun ketika Tazkia menoleh tidak ada apapun di sana selain hanya kegelapan. "Dimana kamu!" ucap Tazkia kemudian dengan nada setengah berteriak.
Suasana mendadak menjadi hening membuat Tazkia lantas di buat curiga dengan keadaan disekitarnya, Tazkia mencoba mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari sosok boneka itu walau dengan penglihatan yang terbatas karena memang suasananya yang gelap.
Hhhhhhhhh
Saking gelap dan sunyinya suasana kamar Tazkia bahkan bisa mendengar helaan nafasnya sendiri, Tazkia kemudian mencoba melangkah perlahan di tengah gelapnya ruang kamar tersebut. Hingga kemudian entah apa yang tak sengaja ia injak atau memang ada sesuatu yang menjegal kakinya, membuat Tazkia lantas jatuh dalam posisi tengkurap. Tidak sampai di situ, tepat ketika Tazkia jatuh kaki sebelah kirinya terasa seperti di tarik oleh sesuatu kemudian di seret cukup jauh hingga membentur ke dinding.
Aw
Dalam posisi yang lemah, samar samar Tazkia seperti melihat bayangan sesuatu mendekat ke arahnya dengan cepat. Tazkia yang tidak tahu dengan persis apa itu lantas langsung berusaha menangkapnya sambil menahannya agar tidak jatuh dan menusuk dadanya.
Perebut calon suami orang seperti kalian harus di musnahkan! hahahaha
Ucap suara tersebut dengan tawa cekikikan sambil terus berusaha menusuk dada Tazkia dengan gunting yang di bawanya tadi.
"Kak... kak Kia...!" panggil sebuah suara tepat di telinga Tazkia, membuatnya dengan seketika langsung bangun dengan posisi terduduk.
"Melisa?" ucap Tazkia kemudian yang bingung karena mendadak melihat Melisa di depannya dengan mengenakan handuk kimono, seperti baru saja selesai mandi. "Loh lampunya sudah nyala?" batin Tazkia dalam hati ketika melihat kondisi kamar Melisa masih sama seperti pertama kali ia datang.
__ADS_1
"Kakak ngapain tidur di bawah? nanti sakit lo..." ucap Melisa kemudian ketika tidak sengaja menjumpai Tazkia tidur di lantai yanag hanya beralaskan karpet bulu di sana.
"Tidur di bawah? kakak gak tidur sungguh, tadi kakak..." ucap Tazkia namun terjeda karena ia sendiri juga bingung harus bagaimana menjelaskannya.
"Ada apa kak?" tanya Melisa yang menatap bingung ke arah Tazkia.
"Sepertinya kakak lelah, maaf kakak jadi tertidur di sini." ucap Tazkia pada akhirnya sambil bangkit dari lantai. "Kakak keluar dulu ya..." imbuhnya kemudian melenggang pergi dari sana.
"Aneh sekali kakak itu." ucap Melisa yang melihat kepergian Tazkia dari kamarnya.
Sedangkan Tazkia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Melisa dengan raut wajah yang bingung, namun saat Tazkia menatap ke arah telapak tangannya, ada bekas goresan di tangannya yang berarti bahwa tadi ia tidak bermimpi maupun tertidur seperti ucapan Melisa tadi.
"Aku yakin ini ulah boneka itu." ucap Tazkia kemudian sambil sesekali menoleh ke arah belakang.
****
Sementara itu di sebuah rumah sakit tempat Faris bekerja, terlihat Faris baru saja keluar dari salah satu bangsal ruang rawat inap pasien. Pagi tadi seorang pasien yang melakukan percobaan bunuh diri sampai di rumah sakit dengan kondisi kritis, beruntung nyawanya masih bisa tertolong, meski sampai detik ini pasien itu belum siuman.
"Telpon aku jika pasien itu sudah siuman, aku akan istirahat sebentar." ucap Faris kepada salah satu suster yang berjalan di belakangnya.
Suster itu mengangguk mengerti setelah mendengar perintah dari Faris barusan, sedangkan Faris langsung melipir ke arah ruangannya setelah memberikan pesan kepada perawat yang bertugas menangani pasien tersebut.
Faris memasuki ruangannya dengan langkah gontai kemudian langsung mendudukkan dirinya di sofa. Seharian ini benar benar terasa melelahkan, harusnya Faris sudah bisa pulang tadi pagi karena kemarin ia shift malam. Hanya saja, setelah pasien percobaan bunuh diri itu datang pada akhirnya Faris tidak jadi pulang dan menangani secara langsung pasien tersebut.
__ADS_1
"Bukankah usia pasien itu bukan anak muda lagi? mengapa ia malah memilih ingin mengakhiri hidupnya? apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Faris pada diri sendiri. "Ah sudahlah, toh bukan urusan ku juga." ucap Faris kemudian.
Faris memejamkan matanya sejenak di sofa yang tersedia di ruang kerjanya. Perlahan tapi pasti Faris mulai berlayar ke dalam pulau impiannya dengan damai.
Di sebuah tempat berlangsungnya acara pernikahan dengan tema outdoor, Faris nampak bahagia kala dirinya dengan gagah berjalan menuju ke tempat pelaksanaan akad. Dari kejauhan ia melihat Tazkia memakai gaun pengantin berwarna putih, begitu cantik dan menawan sedang menunggunya di sana.
Faris mempercepat langkah kakinya bergegas mendekat ke meja akad ketika melihat Tazkia nampak tersenyum bahagia ke arahnya, hanya saja hari yang seharusnya menjadi hari yang bahagia bagi Faris dan juga Tazkia, mendadak menjadi suram dan mengerikan kala seorang perempuan yang memakai gaun pengantin sama dengan milik Tazkia lantas datang dan langsung menikam Tazkia dengan brutal, membuat darah segar mulai mengalir dan muncrat tak beraturan.
Semua tamu undangan yang melihat kejadian tersebut, lantas bangkit dan berhamburan melarikan diri dari acara itu seakan ketakutan bahwa mereka akan jadi korban selanjutnya. Sedangkan Faris yang menyaksikan itu semua lantas terkejut dan langsung berlarian ingin menolong Tazkia yang sudah bersimbah darah tergeletak di tanah.
"Dokter Faris!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Faris terkejut dan langsung terbangun dari mimpi buruknya barusan.
Faris menatap ke arah perawat yang membangunkannya dengan tatapan bingung dan kepala berdenyut, sepertinya Faris belum tersadar sepenuhnya dari tidurnya.
"Maaf dok saya tidak bermaksud." ucap perawat itu merasa bersalah ketika melihat dokter Faris sepertinya baru saja tertidur.
Faris memijat pelipisnya sebentar karena kepalanya yang berdenyut akibat terkejut di bangunkan secara mendadak. "Ada apa sus?" tanya Faris kemudian dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pasien itu sudah siuman, namun ia terus berteriak histeris seakan tengah melihat sesuatu yang mengerikan." jelas suster tersebut.
"Baiklah kita ke sana." ucap Faris sambil bangkit dan melangkah pergi menuju bangsal ruang inap pasien tersebut.
Bersambung
__ADS_1