
Di sebuah rumah dengan nuansa jadul namun cukup asri dan tenang terlihat Waluyo sedang membuka sebuah pintu menuju ruang lukis pribadinya, terdapat banyak sekali lukisan dan juga beberapa kerajinan tangan yang terdapat di sana, Waluyo berdiri menatap satu persatu lukisan yang tersusun rapi di ruangan itu sampai tiba tiba pandangannya langsung menyapu ke seluruh ruangan mencari sebuah lukisan kesayangan yang tidak terlihat di mana pun.
Waluyo kemudian lantas melangkah ke arah samping meja tempat beberapa lukisan dijajar di sana namun tetap saja ia tidak menemukan lukisan yang ia cari di manapun.
" Di mana lukisan itu? bukankah aku selalu menaruhnya di tempat yang terjangkau oleh pandangan ku?" ucap Waluyo setengah panik melihat lukisan kesayangannya menghilang secara tiba tiba.
Waluyo lantas menghentikan gerakan tangannya kala ia mengingat sesuatu hal yang mungkin itu adalah asal muasal lukisan kesukaannya tidak ada pada tempatnya.
Waluyo lantas merogoh ponsel di sakunya dan mendial nomer Ardi di sana.
" Halo selamat sore pak ada yang bisa saya bantu?" ucap Ardi salah satu asisten dosen di fakultas seni, begitu sambungan telponnya terhubung.
" Ar apa kau melihat lukisan bapak?" ucap Waluyo berharap Ardi melihat lukisan tersebut.
" Lukisan yang mana ya pak yang anda maksud?" tanya Ardi dengan bingung.
" Lukisan seorang gadis yang membawa bunga tulip merah dengan latar sebuah rumah dan beberapa bunga yang berjajar di sebelahnya." ucap Waluyo menjelaskan detail lukisan tersebut.
Nampak Ardi terdiam sejenak tak langsung menyahuti ucapan Waluyo sambil berpikir kapan terakhir kali Ardi melihat lukisan tersebut.
" Oh lukisan itu bukankah bapak menyuruh membungkusnya untuk di berikan sebagai hadiah kuis saat kelas beberapa hari yang lalu." ucap Ardi sambil mengingat ingat.
" Kapan saya menyuruhmu melakukan itu?" ucap Waluyo tanpa sadar karena kesal akan hal yang baru saja didengarnya, sedangkan Ardi hanya terdiam mendengar ucapan Waluyo yang tiba tiba naik beberapa oktaf.
" Saya minta maaf pak jika telah membuat kesalahan, apakah ada masalah pak?" tanya Ardi dengan sesopan mungkin karena ia tahu Waluyo tengah marah kepadanya.
" Beri aku kontak mahasiswa yang menerima hadiah tersebut secepatnya Ar." ucap Waluyo dengan nada tegas.
" Baik pak saya akan segera memberikannya kepada anda, sekali lagi saya minta maaf pak." ucap Ardi kemudian terdengar suara sambungan telpon di putus oleh Waluyo.
" Aku harus segera menemukan lukisan tersebut sebelum semuanya terlambat." ucap Waluyo sambil menatap lurus ke arah depan.
**********
Kembali ke apartment milik Aditya
__ADS_1
" aaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
Mendengar teriakan itu Sinta dan Aditya lantas menghentikan langkahnya dan saling pandang satu sama lain, setelah keduanya saling pandang Sinta dan juga Aditya lantas perlahan memandang sekitar mencoba mencari sumber suara teriakan barusan namun tak menemukan siapapun di sana.
" Dit lari." ucap Sinta setengah berbisik yang di balas anggukan oleh Aditya.
" Satu dua tiga lari." ucap Sinta.
Aditya yang mendengar hal itu lantas langsung berlari sedangkan Sinta yang juga hendak berlari tiba tiba saja kakinya seperti di seret oleh sesuatu sehingga ia langsung jatuh dan terseret cukup jauh dengan posisi tengkurap.
" Aaaaaa tolonggggg." teriak Sinta namun sayangnya Aditya tetap saja lari dan sama sekali tidak mendengar teriakan Sinta waktu itu.
Sinta lantas terseret semakin jauh, Sinta yang tidak ingin terus di seret lantas berusaha untuk meraih sebuah pegangan apapun itu, hingga kedua tangannya berhasil berpegangan pada kaki meja hingga membuat tarikannya terhenti.
" Tolong aku geis." teriak Sinta.
Sedangkan Aditya yang tidak mendengar teriakan Sinta lantas terus berlari menuju ke arah dapur untuk bergabung bersama Prasetia dan Kia dengan langkah tergesa-gesa.
Prasetia dan Tazkia yang melihat Aditya berlari dengan terburu buru menuju ke arah mereka lantas saling pandang akan kedatangan Aditya.
" Tadi tadi kita." ucap Aditya sambil ngos-ngosan mengatur pernafasannya.
" Cobalah untuk tenang dulu dit." ucap Tazkia.
" Lalu sekarang jelaskan, Sinta mana dit?" tanya Prasetia.
" Dia ada di belakang gue kok dari tadi lari." ucap Aditya sambil menunjuk ke arah belakangnya.
" Mana?" ucap Tazkia lagi.
" Itu, loh mana dia?" ucap Aditya sambil menunjuk kembali ke arah belakangnya namun yang ia lihat di sana hanyalah kekosongan yang lantas membuat Prasetia dan juga Tazkia saling pandang satu sama lainnya.
Ketika ketiganya tengah di landa kebingungan akan ucapan Aditya, tiba tiba saja mereka mendengar teriakan Sinta yang lantas membuat mereka terkejut.
" Tolong aku geis." teriak Sinta yang lantas membuat Prasetia, Tazkia, dan juga Aditya menatap bingung akan teriakan Sinta barusan.
__ADS_1
" Bukankah itu suara Sinta barusan?" ucap Tazkia sambil menatap Aditya dan Prasetia secara bergantian.
" Iya lo benar, ayo kita cek keadaan Sinta di ruang tengah." ucap Prasetia ingin melangkah pergi namun di cegah oleh Aditya.
" Jangan kesitu, ruang tengah apartment gue tiba tiba jadi horor!" ucap Aditya sambil bergidik ngeri.
" Gak bisa gitu dong lo dit kasihan Sinta kalau lo gak mau ke sana biar gue dan Kia saja yang ke sana." ucap Prasetia sambil menatap kesal ke arah Aditya karena bisa bisanya ia bersikap egois dan malah meninggalkan Sinta di sana.
" Iya gue setuju, ayo kita lihat keadaan Sinta Prass." ucap Tazkia kemudian menarik Prasetia agar segera pergi melihat keadaan Sinta.
" Ya kok jadi gue yang di tinggal sendirian sih." ucap Aditya dengan lirih sambil melihat Tazkia dan Prasetia yang berjalan ke ruang tamu.
" Isss sial tunggu gue ikut." ucap Aditya sambil menyusul langkah kaki Tazkia dan juga Prasetia ke arah ruang tengah.
Ketika ketiganya sudah sampai di ruang tengah betapa terkejutnya mereka bertiga kala melihat Sinta yang sudah terbaring di di lantai dengan tangan yeng berpegang erat pada kaki meja sedangkan kakinya sudah terlilit gorden dengan cukup erat.
" Sinta apa yang terjadi?" teriak Tazkia yang lantas langsung berlari ke arah Sinta yang diikuti oleh Aditya dan juga Prasetia di belakangnya.
Ketiganya kemudian lantas mencoba melepaskan ikatan di kaki Sinta kemudian membantunya berdiri.
" Ini tidak bisa di biarkan geis, kita harus segera mencari tahu apa yang salah di sini, jujur saja gue udah lelah banget." ucap Tazkia sambil menatap ketiganya secara bergantian.
" Ya aku setuju, kita harus bereskan ini semua hingga ke akarnya." ucap Prasetia menimpali yang juga di tanggapi Sinta dengan anggukan kepala tanda setuju.
" Aku juga setuju, hanya saja." ucap Aditya namun terhenti yang lantas membuat Prasetia, Sinta dan juga Tazkia langsung menatap ke arahnya, detik berikutnya yang terdengar memberikan jawaban bukannya Aditya malah.
Kerucuk kerucuk.
Suara perut Aditya terdengar begitu nyaring membuat ketiganya langsung menatap tajam ke arah Aditya.
" Adit!" ucap Tazkia, Sinta, dan Prasetia secara bersamaan.
" Sorry tapi ini juga penting gue lapar banget." ucap Aditya dengan senyum cengengesan menatap ke arah sahabatnya.
Bersambung
__ADS_1