
Sementara itu di mansion milik Tazkia.
Sinta celingukan ke sana ke mari mencari Tazkia namun tak juga menemukannya di manapun, agak kesal sih karena begitu bangun Tazkia sudah tidak ada di sisinya sedangkan Prasetia dan juga Aditya sudah pergi karena ada jadwal kuliah pagi.
"Jadi gue benar benar sendiri nih? menyebalkan!" ucap Sinta sambil melangkah menuruni anak tangga hendak pergi ke ruang keluarga.
Di saat Sinta melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga ia lantas berhenti mendadak kala melihat cermin itu lagi lagi terpasang di tempat semula. Sinta menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan seseorang.
"Mungkin mbok Ratmi kali ya? yang bawa kembali ke sini." ucapnya dalam hati.
Sinta menyentuh ukiran yang mengelilingi cermin itu seakan kagum terhadap setiap detail yang terukir di sana. Cahaya gemerlap tiba tiba saja menyilaukan matanya namun entah mengapa sama sekali tidak mempengaruhi Sinta untuk tetap menatap ke arah cermin itu.
Lingsir wengi
Sepi durung bisa nendra
Kagodha mring wewayang
Ngerindhu ati
Kawitane
Mung sembrana njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
Nanging duh tibane
Aku dhewe kang nemahi
Nandang branta
Kadung lara
Sambat sambat sapa
Rina wengi
Sing tak puji ojo lali
Janjine muga bisa tak ugemi
Senandung tersebut tiba tiba saja terdengar mengalun memenuhi ruangan mansion, namun anehnya sama sekali tidak membuat Sinta takut ataupun lari, Sinta malah terus menatap ke arah cermin itu seakan akan terhipnotis sehingga tak menghiraukan sekitarnya.
__ADS_1
Bayangan sosok di dalam cermin itu terlihat samar seperti timbul dan menghilang secara samar samar, Sinta mengangkat tangannya perlahan menyentuh ke kaca cermin itu dan detik selanjutnya yang terjadi tiba tiba saja angin berhembus dengan kencang menerpa ruang tengah sampai kemudian cahaya seperti layaknya konsleting listrik nampak muncul dari balik cermin ketika Sinta menyentuhnya.
Bruk
Tubuh Sinta langsung limbung seperti tak bertenaga dan jatuh di lantai tanpa ada orang yang mengetahuinya.
*****
Mobil yang di kemudikan Faris berhenti tepat di halaman mansion milik Tazkia.
"Apakah kamu mau mampir dulu?" tanya Tazkia.
"Sepertinya lain kali, kamu bisa menikmati waktu kamu kali ini bersama mereka, have fun." ucap Faris sambil tersenyum manis kepada Tazkia.
"Apa kamu yakin?" goda Tazkia.
"Jangan membuatku menyesal!" ancam Faris yang malah membuat Tazkia tertawa di buatnya.
Tazkia kemudian melepas sabuk pengamannya dan dengan usil mencium pipi Faris tiba tiba lalu langsung turun dari mobil sambil tertawa.
"Kamu benar benar ya Ki...." ucap Faris gemas sambil memegang pipi yang tadi di cium Tazkia.
"Untuk penyemangat, jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai di rumah." ucap Tazkia kemudian melangkah pergi dengan melambaikan tangan ke arah Faris.
***
"Tumben sepi?" ucapnya ketika masuk dan tidak mendengar suara apapun di dalam.
Tazkia menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan teman temannya namun tidak ada, ia kemudian melanjutkan langkahnya kembali ke arah dapur siapa tahu mereka ada di sana.
"Sinta dan yang lain ke mana mbok?" tanya Tazkia sambil mengambil buah apel di meja makan.
"Kalau Adit dan Pras tadi katanya ada kuliah pagi, tapi kalau Sinta mbok gak tahu soalnya mbok baru datang dari pasar dan belum lihat Sinta sama sekali non." ucap Ratmi menjelaskan.
"Apa mungkin di kamar ya mbok?" tanya Tazkia sambil mengunyah apel di mulutnya.
"Mungkin non."
Setelah berbincang bincang sebentar Tazkia kemudian melangkah kembali hendak pergi menyusul Sinta di atas, ketika melintas di area ruang tengah langkahnya lantas terhenti kala melihat cermin itu dan lagi lagi cermin tersebut kembali ke tempat semula.
"Ini sudah gak bener!" ucap Tazkia.
Dok dok
__ADS_1
Suara ketukan tiba tiba saja terdengar dan asalnya dari cermin itu, Tazkia yang menganggap ini sudah tidak wajar lantas langsung membawa kembali cermin itu ke kamar ibunya dengan langkah yang tergesa. Bukan tanpa tujuan Tazkia di sana karena sang ibu mempunyai sebuah kotak besar hampir mirip dengan sebuah peti berukuran cukup besar yang biasa di gunakan ibunya untuk menyimpan barang barang mistis atau yang memiliki aura negatif.
Tazkia menutup peti itu kemudian menguncinya, berharap cermin itu tidak akan kembali lagi.
"Mama gak akan marah kan jika aku menaruh cermin itu di sini?" ucap Tazkia pada diri sendiri kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.
Sementara itu di sebuah ruangan yang gelap tanpa penerangan Sinta nampak tersenyum bahagia seperti telah mengetahui cermin itu sudah di amankan oleh Tazkia, tapi kenapa Sinta malah tersenyum?
****
Tazkia membuka pintu kamarnya perlahan hendak masuk ke dalam, ia sedikit terkejut karena melihat keadaan kamar yang begitu gelap dengan tirai yang di tutup rapat sehingga menghalangi cahaya masuk ke dalam.
"Ada apa ini Sin? kenapa gelap sekali?" ucap Tazkia sambil melangkah masuk hendak membuka tirai kamar.
"Hentikan aku menyukainya!" ucap Sinta dengan nada yang datar dan singkat.
Tazkia yang mendengar hal itu lantas mengerutkan keningnya bingung.
"Tumben lo pakai aku kamu? lagian Sin cahaya matahari itu bagus jadi di buka aja ya." ucap Tazkia sambil membuka tirai itu.
Baru beberapa centimeter tirai itu di buka, tiba tiba sebuah tangan lantas mencegah Tazkia untuk melanjutkan aksinya sambil membisikkan sesuatu dan Tazkia yakin itu bukan Sinta.
Jangan ganggu kesenangan ku!
Tazkia yang mendengar hal itu langsung berbalik dan menatap ke arah Sinta namun ternyata Sinta masih tetap dalam posisinya terdiam duduk di sofa sambil menghadap ke depan dengan gaya duduk yang anggun khas putri putri kerajaan.
"Jika Sinta ada di situ lalu tangan siapa yang mencegah untuk membuka tirai tadi? lalu suara itu..." ucapnya dalam hati sambil menatap bingung ke arah Sinta. "Sin kita ke bawah yuk, Adit dan Pras pasti sebentar lagi datang." ajak Tazkia.
Mendapat ajakan itu Sinta hanya menggeleng kemudian, "Aku masih betah di sini, turunlah nanti aku akan menyusul mu." ucap Sinta dengan nada yang kalem seperti benar benar bukan Sinta.
"Lo yakin Sin?" tanya Tazkia lagi.
"Pergilah"
Tazkia kemudian lantas pergi meninggalkan Sinta sendirian turun ke bawah, ia harus segera memberi tahu yang lain karena Tazkia yakin ada yang tidak beres terhadap Sinta dan ia harus segera memecahkannya sebelum terlambat.
"Ini pasti ada yang gak bener gue yakin itu, sebaiknya gue telpon Pras dan menyuruh mereka agar segera balik." ucap Tazkia sambil menuruni anak tangga dengan langkah yang cepat.
****
Di dalam kamar Tazkia suara senandung lingsir wengi kembali terdengar, tapi kali ini bukan dari sosok di balik cermin melainkan dari Sinta.
Hahahaha
__ADS_1
Bersambung