Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Sosok besar bermata merah menyala ~ Misteri villa nenek #3


__ADS_3

Tazkia menatap langit langit kamarnya dengan pandangan yang sudah melayang memikirkan kejadian tadi yang ia alami saat makan malam, entah mengapa semakin dipikirkan semakin tidak masuk akal baginya, bagaimana bisa bayangan neneknya tidak muncul? bukankah itu aneh?


Suara notifikasi ponselnya terdengar berdenting memecah keheningan malam. Tazkia meraba ponsel di atas nakas kemudian mengambilnya untuk melihat siapa si pengirim pesan.


"Apa kamu sudah tidur?" Faris.


Tazkia tersenyum mendapat pesan singkat dari Faris, ia mengetik papan keyboardnya perlahan namun Faris sudah kembali mengirim sebuah pesan singkat.


"Mau jalan jalan di luar sebentar?" Faris


"Oke" Tazkia


Setelah mengetik kata setuju Tazkia langsung bangkit dan bergegas keluar.


"Jam 11? tak apa lah ya." ucapnya sambil tersenyum ketika memandang arloji di tangannya menunjukkan waktu hampir tengah malam.


Tazkia membuka pintunya perlahan dan mendapati Faris sudah di depan pintu sambil tersenyum ke arahnya.


"Ayo" ajak Faris sambil mengulurkan tangannya yang di balas anggukan oleh Tazkia.


Keduanya lantas berjalan mengendap endap hendak keluar dari villa, senyuman nakal tercetak tepat di wajah keduanya kala harus diam diam bersembunyi hanya untuk keluar mencari udara segar.


***


"Bukankah kita tampak seperti maling Ki?" tanya Faris ketika sudah sampai di teras.


"Sttttttt jangan berisik kamu bisa membangunkan mereka." ucap Tazkia dengan nada yang berbisik.


Faris mengacak acak gemas rambut Tazkia kala melihat tingkah Tazkia yang menurutnya semakin menggemaskan.


"Faris!" ucap Tazkia setengah berteriak.


Tepat setelah Tazkia menyebut nama Faris terdengar langkah seseorang mendekat, keduanya yang sama sama mendengar langkah itu lantas langsung kabur dan melipir ke belakang villa sambil bergandengan tangan berlari menghindari langkah kaki itu.


Keduanya terus berlari semakin ke belakang melewati beberapa pohon pohon pinus dengan senyuman di wajah mereka, hingga ketika di rasa sudah cukup jauh mereka menghentikan langkah mereka dan beristirahat sebentar.


"Nenekmu pasti akan marah pada kita." ucap Faris dengan nada setengah menyindir namun tetap tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya? kalau begitu bukankah ada abang pacar yang siap membela ananda kapan pun juga?" ucap Tazkia sambil tersenyum meledek sedangkan Faris hanya tersenyum menanggapi ucapan Tazkia barusan.


Tazkia yang lelah lantas mencari tempat dudukan dan pilihannya jatuh kepada sebuah bangunan seperti sumur tua yang di tutup beberapa dahan kayu. Tazkia sedikit membersihkan beberapa kotoran dan ranting ranting kecil di sumur itu agar ia bisa duduk.


"Kia sebaiknya kamu jangan aneh aneh, duduk saja di bawah aku takut kamu jatuh." ucap Faris yang melihat Tazkia duduk di sumur tua itu.


"Tak apa aku hanya duduk di pinggir, lagi pula bagian tengah tertutup dahan kayu dan ini kua........" ucap Tazkia namun terpotong karena niat hati ingin memastikan bagian tengah aman yang terjadi malah sebaliknya.


Bagian tengah penutup itu keropos dan langsung jatuh ke bawah, Tazkia yang memang tidak bersiap dengan keadaan itu, langsung terhuyung terperosok ke dalam sumur membuat Faris lantas terkejut dan langsung berlari ke arahnya dengan khawatir.


"Kia..." teriak Faris dengan spontan sambil berlarian ke arah Tazkia.


Untung saja ketika Faris tepat di bibir sumur ia melihat Tazkia berhasil berpegangan pada akar pohon yang tertancap tepat di bibir sumur, sehingga Tazkia tidak sampai jatuh dan masuk ke dalam.


"Kamu membuatku takut." ucap Faris yang bisa bernafas sedikit lega karena melihat Tazkia bergelantungan di akar pohon.


"Bisa kamu bantu aku naik, tanganku sudah sakit nih." ucap Tazkia dari dalam.


Faris kemudian lantas menjulurkan tangannya dan membantu Tazkia agar naik ke permukaan.


"Kamu baik baik saja?" tanya Faris ketika Tazkia sudah berhasil naik.


"Apa kamu yakin? biar aku lihat sini." ucap Faris menarik tangan Tazkia untuk melihat lukanya.


Namun karena tidak membawa ponsel jadilah Faris tidak bisa melihatnya dengan jelas.


"Apa kita pulang saja untuk mengobati luka mu?" ucap Faris memberikan solusi.


"Sia sia dong kita kabur tadi?" ucap Tazkia dengan cemberut.


"Kita bisa lanjutkan besok saja bukan?" ucap Faris.


"Baiklah."


Pada akhirnya keduanya memilih menyudahi jalan jalan malam ini dan langsung kembali ke villa.


Tanpa mereka sadari setelah kepergian keduanya, terlihat asap hitam nampak berkumpul dan membumbung semakin tinggi dan besar, seperti membentuk sebuah sosok dengan mata yang merah menyala dengan taring yang menjuntai tengah menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang sangar dan mengerikan.

__ADS_1


********


Keesokan paginya Tazkia mengerjapkan matanya perlahan, entah mengapa tangannya terasa berdenyut nyeri padahal kemarin sama sekali tidak sakit.


Di angkatnya tangan Tazkia perlahan ia sedikit terkejut karena tangannya terdapat luka lebam dengan bekas cakaran seperti kuku dengan pola berjajar tiga memanjang.


"Perasaan kemarin gak gini deh? apa semalam tanpa sengaja aku menggaruk terlalu kencang?" ucap Tazkia berusaha mengingat ingat apa yang terjadi semalam, namun semakin dipikirkan isi kepalanya semakin blank dan tidak dapat mengingat apapun tentang semalam, kecuali dirinya yang hampir terjatuh ke sumur. "Apa kemarin aku terkena ranting kayu ya? tapi ya kali polanya seperti ini, au ah pusing." ucap Tazkia kesal kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi.


**


Tazkia melangkahkan kakinya perlahan menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Kali ini Tazkia melihat kursi yang biasa diisi neneknya kosong, Tazkia menatap ke arah Faris seakan bertanya ke mana neneknya, sedangkan Faris hanya mengangkat kedua bahunya pelan mengisyaratkan ketidaktahuan.


"Tumben kamu pakai lengan panjang? bukankah cuacanya sedang panas?" tanya Faris dengan heran.


"Tidak ada hanya ingin hehehe." ucap Tazkia berdalih padahal ia hanya tidak ingin luka cakaran itu terlihat oleh Faris, yang ada malah di suruh ini itu dan ujung ujungnya pasti akan di suruh pulang ke Jakarta untuk medical checkup.


Setelah makan keduanya memutuskan untuk bersantai di teras melihat pemandangan sekitar. Hamparan pohon pinus yang berjajar rapi terlihat di sekitaran teras, membawa suasana kesejukan bagi siapa saja yang berada di sana.


"Apakah ada spot yang bagus di sekitar sini Ki?" tanya Faris membuka topik pembicaraan karena sedari tadi Tazkia hanya diam tanpa berbicara atau sekedar basa basi seperti biasanya.


"..."


Faris lantas menoleh ke arah Tazkia karena tidak mendapat respon apapun dari sana, dipegangnya pelan tangan Tazkia bermaksud untuk menyadarkannya dari lamunan, tapi siapa sangka reaksi Tazkia yang meringis seperti kesakitan membuat Faris lantas bertanya tanya.


"Ada apa Ki?" tanya Faris.


Tazkia yang baru saja tersadar lantas menurunkan tangannya dari meja dan mencoba bersikap tenang.


"Tidak ada."


"Kemarikan tangan mu!" perintah Faris dengan tatapan yang tidak ingin di bantah.


"Tak apa"


"Ki... aku tidak akan mengulanginya lagi! coba sini aku lihat." ucap Faris lagi dengan nada penuh penekanan.


Pada akhirnya dengan ragu ragu Tazkia mengangkat tangannya, namun dengan wajah yang berpaling karena ia yakin sebentar lagi Faris pasti akan mengomelinya.

__ADS_1


"Astaga Ki!"


Bersambung


__ADS_2