Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Haruskah aku terlibat? ~ Teror hantu bisu #6


__ADS_3

Keesokan paginya.


Suasana kampus terlihat cukup ramai dengan beberapa mahasiswa yang berlalu lalang, baik di lorong kampus maupun tempat tempat sekitaran kampus.


Rafi terlihat turun dari mobilnya dengan wajah yang datar, manik matanya tersembunyi di balik kaca mata hitam yang bertengger diwajahnya membuat ketampanan pria itu terpancar walau memasang wajah cuek sekalipun.


Rafi terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang kelas, ketika melewati lapangan basket mendadak perasaannya menjadi tidak enak, keringat dingin mulai menetes membasahi dahinya kala bayangan demi bayangan tentang Dona kembali terlintas di benaknya.


Akhhh


Akhhh


Rafi yang mendengar suara itu lantas langsung menghentikan langkahnya dan menoleh mencoba mencari suara apa barusan, semenjak kejadian waktu itu Rafi merasa seperti selalu mendengar suara orang tengah mengorok di manapun ia berada. Rafi bahkan sudah hampir gila di buatnya, tidak hanya suara itu saja bahkan di telinganya terus saja berputar suara tangisan bayi membuat Rafi terus jatuh ke dalam rasa penyesalan yang mendalam.


"Raf!" panggil Feby sambil menepuk pundak Rafi yang membuatnya langsung tersadar dari lamunannya.


"Oh iya" ucap Rafi gelagapan sambil masih celingukan mencari sumber suara barusan.


"Ada apa?" tanya Feby karena melihat gelagat aneh dari Rafi, namun Rafi yang mendapat pertanyaan itu hanya menggelengkan kepalanya seperti enggan untuk bercerita.

__ADS_1


"Kita langsung ke kelas saja." ajak Rafi kemudian mengalihkan pembicaraan karena malas memperpanjang masalah ini di depan Feby.


"Kamu yakin?" tanya Feby lagi memastikannya sekali lagi karena ia merasa ada yang tidak beres, namun Rafi membalasnya dengan anggukan membuat Feby mau tidak mau percaya bahwa semua baik baik saja.


Keduanya kemudian melanjutkan langkah mereka menuju ke arah kelas, tanpa Rafi sadari setelah kepergian keduanya, sosok Dona nampak menatap ke arah kepergian Rafi dengan tatapan yang sedih, seolah tak rela jika Rafi pergi bersama dengan Feby, namun sosok itu tidak bisa melakukan apapun karena dunianya kini sudah berbeda, hingga detik berikutnya sosok Dona menghilang dan lenyap begitu saja.


***********


Sementara itu akibat dari pecahnya beberapa kaca dan juga lampu di ruangan kelas kemarin baik Tazkia, Prasetia, Sinta, dan juga Aditya harus di panggil ke ruang dekan untuk membahas masalah kemarin.


Keempatnya masuk dengan perasaan yang sudah pasrah menerima konsekuensinya karena memang mereka ada di lokasi kejadian ketika hal tersebut berlangsung, lagi pula tidak mungkin Tazkia mengatakan ini adalah ulah sosok yang sedang bergentayangan di kampus, akan jadi apa jika Tazkia benar benar mengatakannya di depan dekan, mungkin Tazkia akan di bilang halusinasi dan semacamnya, sehingga Tazkia enggan untuk bercerita dan hanya berniat menerima segala sangsi yang akan di berikan oleh pihak kampus, toh yang mengajak sosok itu berinteraksi adalah inisiatifnya jadi mau tidak mau Tazkia harus menanggung konsekuensinya.


Hanya saja sebuah hal tak terduga tiba tiba saja terjadi, membuat keempatnya bingung akan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bagaimana tidak? awalnya Tazkia dan yang lainnya mengira mereka akan menerima sangsi atau skors yang tentu saja termasuk ganti rugi akan kerusakan fasilitas kampus yang mungkin jika itu secara logika, namun ketika keempatnya sampai di sana tidak ada pembicaraan serius atau bahkan amarah yang di keluarkan oleh dekan karena telah merusak fasilitas kampus, malah sebaliknya dekan bersikap sangat ramah dan hanya menasehati saja membuat keempatnya bingung, bahkan sambutan dekan kepadanya lebih mirip sambutan setelah keempatnya membawa pulang piala kemenangan, jika mereka memenangkan sebuah lomba itu mungkin saja namun sayangnya mereka merusak fasilitas kampus, bukankah sepertinya ada kesalahan dalam ramah tamah ini?


"Iya dan yang lebih anehnya lagi tuh orang minta kita untuk merahasiakannya, bukankah hal itu saja sudah mencurigakan? padahal jelas jelas kita sudah merusak fasilitas kampus meski bukan kita juga sih yang ngerusak namun itu sungguh di luar dugaan gue." ucap Sinta yang juga bingung akan apa yang tengah terjadi.


"Mungkin mereka hanya tidak ingin rumor buruk menyebar di kampus, apalagi dengan di temukannya pak Ridwan hari itu pastinya sudah membuat geger seluruh mahasiswa." ucap Prasetia menerka nerka dan tetap berpikir positif.


"Yap, Prasetia ada benarnya juga sih." ucap Tazkia, setuju sedangkan Sinta dan juga Aditya nampak hanya mengangguk saja tanda mereka juga setuju akan pendapat Tazkia.

__ADS_1


Ketika keempatnya sedang dalam kebingungan akan apa yang sedang terjadi, dari arah lorong mereka melihat Rafi dan juga Feby berjalan menuju ke arah kantin melewati meja keempatnya.


"Hei hei kalian tau apalagi yang mind blowing?" ucap Aditya dengan nada setengah berbisik tepat setelah Rafi dan Feby melewati mereka.


"Apa?" tanya ketiganya secara bersamaan namun dengan bahasa isyarat seakan mengikuti ritme nada Aditya yang setengah berbisik.


"Kasus Dona kemarin di tutup dengan percobaan bunuh diri, padahal ada yang bilang di leher Dona terdapat bekas cekikan, ya walau tidak terlalu terlihat jelas karena kondisi kepalanya yang hancur tapi masih bisa diketahui jika di lakukan otopsi. Sayangnya karena Dona sebatang kara jadilah kasus ini di pasrahkan kepada bibi Dona, dan yang membuat aneh awalnya bibi Dona sangat kekeh melakukan otopsi pada jasad Dona, namun keesokan harinya semua seakan berubah bibi Dona meminta untuk langsung di adakan pemakaman saja, bukankah itu sangat aneh?" ucap Aditya lagi.


"Wah gila sih, bahkan dari kaca mata gue aja terlihat ada yang tidak beres, secara kan tidak mungkin bibi Dona berubah pikiran secepat itu." ucap Sinta.


"Exactly" jawab Aditya secara cepat.


"Btw Dit lo dapat berita dari mana? jangan sampek lo nyebar hoax dan kita semua kena imbasnya." ucap Prasetia kemudian.


"Ih ini bukan hoax lah, ini the real information jadi kalian gak perlu takut, dan kabar baiknya gue hanya memberitahu kalian tidak yang lain, jadi kita aman." ucap Aditya sambil cengengesan.


"Kampret lo, justru malah sebaliknya oon karena hanya kita yang tahu berita itu jadi kalau ada apa apa kita yang dicurigai pertama kalinya." ucap Sinta kesal.


"Eh emang iya ya?" ucap Aditya kemudian berpikir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Sementara Tazkia nampak terdiam menyimak tanpa menanggapi ucapan teman temannya, jika memang benar apa yang di katakan oleh Aditya itu artinya masalah hantu bisu ini sungguhlah sangat rumit terlalu banyak pihak yang terlibat, tidak hanya itu bahkan Rafi mempunyai backingan yang cukup kuat membuat Tazkia jadi berpikir dua kali, apakah ia benar benar ingin terlibat dalam masalah ini? atau hanya membiarkannya berlalu begitu saja?


Bersambung


__ADS_2