
Siang harinya.
Tazkia yang memang baru selesai kelas, lantas hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah kantin menyusul ketiga sahabatnya yang sudah dapat di pastikan lagi tengah mengadakan rapat meja bundar di sana, tapi bukan rapat yang sesungguhnya melainkan seperti kebiasaan saja keempatnya suka nongkrong di kantin ketika beres kelas.
Tazkia melangkahkan kakinya melewati lorong kelas dengan langkah yang ringan, seulas senyum nampak terlihat dari wajahnya kala ia membayangkan kejadian semalam, ketika Faris memberikan kejutan dengan datang ke rumahnya, sehingga menambah semangat baru bagi Tazkia untuk menghadapi pahitnya kehidupan (dasar bucin), namun langkahnya langsung terhenti kala ia seperti melihat Rafi tengah melangkah dengan terburu buru, membuat Tazkia menjadi penasaran kemana arah yang di tuju Rafi.
"Mau kemana dia?" batin Tazkia bertanya tanya.
Pada akhirnya Tazkia memutuskan untuk memilih mengikuti Rafi dibandingkan harus pergi ke kantin menemui ketiga temannya itu. Tazkia terus melangkahkan kakinya mengikuti arah yang di lalui oleh Rafi. Perlahan tapi pasti Tazkia mengikuti arah Rafi yang terus menaiki anak tangga satu persatu, sepertinya Tazkia tahu kemana arah yang di tuju oleh Rafi, tidak salah lagi karena tangga ini mengarah menuju rooftop membuat Tazkia semakin curiga akan apa yang dilakukan oleh Rafi hingga melangkah dengan terburu menuju ke atas.
Pikiran buruk mendadak mulai berterbangan di kepala Tazkia kala membayangkan yang tidak tidak tentang Rafi, apalagi mengingat Dona meninggal karena jatuh dari rooftop, membuat Tazkia beranggapan bahwa Rafi akan melakukan hal yang sama seperti Dona waktu itu.
"Tidak mungkin kan?" batin Tazkia nampak seperti terkejut sambil tetap fokus menatap ke arah punggung Rafi yang terus menaiki anak tangga satu persatu, sepertinya Rafi terlalu fokus hingga tidak menyadari kehadiran Tazkia di sana.
Setelah keduanya menaiki anak tangga demi anak tangga, Rafi terlihat memegang gagang pintu menuju rooftop dengan raut wajah yang gelisah sambil menghentikan langkah kakinya sejenak, dari posisinya Tazkia dapat melihat bahwa Rafi saat ini tengah terlihat ragu beberapa saat, namun detik selanjutnya ia seperti mulai meyakinkan dirinya dan membuka pintu rooftop itu.
Tazkia yang melihat Rafi sudah masuk, ia lantas menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu seperti tengah memberi jeda agar ia tak ketahuan oleh Rafi bahwa sedari tadi Tazkia tengah mengikutinya.
"Sepertinya waktunya sudah cukup." ucap Tazkia kemudian sambil membuka perlahan pintu menuju rooftop.
__ADS_1
Tazkia menutup perlahan pintu itu kemudian melangkahkan kakinya dengan pelan, lalu Tazkia lantas bersembunyi di belakang tangki air. Ditatapnya Rafi yang tengah melihat ke bawah seakan mengukur seberapa tinggi rooftop gedung ini. Pikiran Tazkia semakin melayang dan membayangkan yang tidak tidak tentang apa yang mungkin saja akan di lakukan oleh Rafi sebentar lagi.
"Tidak mungkin kan?" ucapnya spontan sambil bangkit berdiri hendak mencegah Rafi namun urung karena Rafi terlihat turun dari pagar rooftop kemudian duduk bersimpuh di sana.
Argggg
Teriak Rafi, suaranya begitu nyaring namun tidak terlalu terdengar karena terbawa oleh hembusan angin. Rafi menjambak rambutnya sendiri dengan putus asa. Bagi Tazkia, Rafi terlihat seperti seorang laki laki rapuh yang sangat merasa kehilangan kekasihnya, sungguh berbanding terbalik dengan rumor yang telah beredar dan mengatakan bahwa cinta Dona hanya bertepuk sebelah tangan saja. Bahkan dari kejauhan saja, Tazkia sudah dapat melihat bahwa Rafi sangat kehilangan akan sosok Dona, namun mungkin ada sebuah alasan yang membuat keduanya bertahan dengan rumor itu tanpa berniat untuk membersihkannya dan Tazkia tahu pasti itu sulit bagi Dona maupun juga Rafi.
Di saat Rafi tengah terpuruk akan kesedihan dan penyesalannya, samar samar tepat di sebelah Rafi sosok hantu Dona nampak berdiri menatap ke arah Rafi dengan raut wajah yang sedih, membuat Tazkia tidak kuat melihat hal itu, sungguh the real cinta beda dunia.
"Kenapa aku jadi terharu." ucap Tazkia sambil tersenyum namun dengan air mata yang menetes membuat kesan ambigu bagi siapa saja yang melihatnya.
"Apa kamu tidak sadar Raf? wanita ini dari tadi mengikuti mu!" ucap Feby kemudian setengah berteriak, seperti tengah menangkap basah seorang pencuri di sana.
Tazkia bingung harus mengatakan apa di situasi seperti ini, kali ini dirinya benar benar tertangkap basah dan tidak bisa berkelit lagi.
"Bukankah lo Kia? mahasiswa seni?" ucap Rafi kala melihat siapa yang di dorong oleh Feby barusan.
Mendengar Rafi menyebut namanya Tazkia lantas bangkit berdiri sambil membersihkan beberapa noda tanah yang melekat pada bajunya.
__ADS_1
" Em ya" ucap Tazkia ragu. "Maaf gue gak bermaksud mengikuti lo, hanya saja gue gak bisa tinggal diam melihat apa yang tengah terjadi selama ini." ucap Tazkia pada akhirnya namun malah membuat Feby dan juga Rafi menatap bingung tidak mengerti akan apa yang sedang dibicarakan oleh Tazkia.
"Apa maksud ucapan lo?" tanya Rafi kemudian karena penasaran akan apa maksud dari ucapan Tazkia.
Tazkia menghela nafasnya panjang, seperti tengah bersiap bahwa sebentar lagi ia pasti akan disebut orang gila karena menceritakan sebuah kisah yang gak masuk akal kepada keduanya.
"Dona tidak bisa pergi dengan tenang Raf, ada yang menahannya hingga ia tidak bisa naik ke atas, beberapa hari belakangan ini kampus kita mendapat teror dari sosok hantu merayap dan gue yakin lo juga mendengarnya..." ucap Tazkia menjelaskan namun terpotong oleh Feby, sepertinya Feby tidak suka jika Tazkia menceritakan kisah ini pada Rafi.
"Jangan percaya omongan dia Raf! mana mungkin orang yang sudah mati bisa gentayangin orang orang, mati ya mati aja." ucap Feby memotonh perkataan Tazkia.
Namun di luar dugaan Rafi yang Tazkia kira akan mempercayai Feby, ia malah memberikan isyarat Feby untuk diam dan tak menyela pembicaraan keduanya.
"Lanjutkan Ki!" perintah Rafi yang lantas membuat Feby kesal mendengarnya.
"Ada sesuatu yang membuatnya tertahan, entah itu perasaan bersalah, rasa cintanya padamu atau..." ucap Tazkia sengaja menjedanya karena ia tahu kalimat selanjutnya mungkin akan sangat kasar baik bagi Rafi maupun Feby. "Pembunuhnya!" sambung Tazkia yang lantas membuat raut wajah Rafi dan Feby berubah drastis, seakan tidak suka pada ucapan Tazkia barusan.
Feby yang merasa tersinggung akan ucapan Tazkia barusan, tanpa di duga bersikap impulsif dan langsung mendorong tubuh Tazkia kemudian mencekiknya dengan kuat, membuat Tazkia yang tidak siap dengan serangan itu lantas terhuyung dan jatuh terlentang di bawah dengan posisi Feby yang naik di atas tubuhnya dan mencekik dirinya.
"Lancang sekali lo!"
__ADS_1
Bersambung