Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Mama... papa... ~ Mengapa aku dilahirkan #6


__ADS_3

Setelah mendapat petunjuk dari sosok hantu anak kecil tersebut, Tazkia lantas langsung bangkit dan menyusuri setiap sudut ruangan di apartment Sinta untuk mencari keberadaan sofa yang di maksud sosok hantu anak kecil itu.


"Apa Sinta benar benar baru beli sofa ya? kok tumben gak cerita? jangan bilang gue dikadalin sama tuh tuyul lagi? awas aja kalau tuh setan kibulin gue!" batin Tazkia dalam hati sambil terus mencari keberadaan sofa tersebut.


Tazkia terus menyusuri setiap ruangan yang terletak di apartment Sinta, beralih ke kanan dan ke kiri mencoba menyentuh setiap bagian sofa yang di miliki oleh Sinta. Namun setelah berkeliling cukup lama, Tazkia menghentikan langkah kakinya kemudian bersendekap dada ketika ia sudah hampir menyusuri setiap sudut ruangan apartment Sinta, namun tidak kunjung menemukan sofa yang di maksud oleh sosok hantu anak kecil itu.


"Kenapa berhenti Ki?" tanya Aditya yang mengikuti langkah kaki Tazkia sedari tadi.


"Apa Sinta belum bangun Dit?" ucap Tazkia yang malah balik bertanya pada Aditya.


"Sepertinya belum, kenapa?" tanyanya lagi karena sedari tadi Tazkia belum menjawab pertanyaannya dan malah balik bertanya.


"Gue kagak tahu dimana Sinta menaruh sofanya yang baru, gue bahkan udah mencoba menyentuhnya namun tidak ada satupun sofa yang terdapat flashback tentang sosok hantu anak kecil tersebut." jelas Tazkia yang lantas membuat Aditya terdiam seperti tengah berpikir sejenak.


"Apa lo sudah memeriksa ruang tamu?" tanya Aditya kemudian.


"Sudah" jawan Tazkia singkat.


"Ruang tengah?" tanyanya lagi yang langsung di balas Tazkia dengan anggukan kepala.


"Dapur? kamar tidur? balkon? kamar mandi?" tanya Aditya lagi siapa tahu Tazkia melewatkan salah satunya, tapi tunggu! bukankah sedari tadi Aditya mengikuti kemana langkah kaki Tazkia pergi? kenapa masih bertanya?

__ADS_1


"Sudahhhhh Dit!" ucap Tazkia dengan nada yang sengaja memanjang.


"Kalau ruang televisi?" tanya Aditya lagi dengan pantang menyerah, yang lantas membuat Tazkia langsung terdiam seketika kemudian beranjak dari sana. "Lo mau pergi kemana Ki?" tanya Aditya yang melihat Tazkia pergi meninggalkannya begitu saja tanpa menjelaskannya terlebih dahulu.


"Ke ruang televisi" jawab Tazkia dengan singkat.


Pada akhirnya baik Tazkia dan juga Aditya lantas bergegas melangkahkan kaki mereka menuju ke arah ruang televisi. Ketika sampai di sana keduanya lantas saling tatap satu sama lain ketika melihat sebuah sofa panjang yang asing bagi keduanya, sepertinya mereka sudah menemukan sofa yang di maksud sosok hantu anak kecil itu.


"Pasti ini sofanya bukan Ki?" tanya Aditya kemudian sambil menunjuk ke arah sofa.


"Sepertinya iya." jawab Tazkia sambil menatap lurus ke arah sofa tersebut.


Tazkia yang yakin bahwa itu adalah sofa yang ia cari, lantas mulai melangkah mendekat ke arah sofa kemudian mengambil duduk di sana. Tazkia menghembuskan nafasnya berulang kali seperti tengah pemanasan sebelum masuk ke dalam alur cerita yang terdapat pada sofa tersebut, sampai kemudian tangannya perlahan mulai bergerak dan menyentuh permukaan sofa tersebut.


Sampai kemudian Tazkia di bawa pada sebuah penglihatan, di mana sepasang suami istri tengah bahagia karena mendapat sofa baru sebagai hadiah pernikahan mereka. Tak lama setelah itu, Tazkia lagi lagi kembali di tarik pada sebuah adegan di mana pasangan muda yang sedang berbahagia bermain bersama putra mereka di ruang keluarga sambil bersenda gurau menghabiskan waktu bersama.


"Penglihatan ini terlalu cepat hingga membuat kepala ku pening." batin Tazkia dalam hati sambil tetap berusaha untuk fokus.


Baru saja Tazkia mengatakan hal itu, ia kembali di bawa pada sebuah adegan di mana kedua pasangan yang semula bahagia tadi sedang bertengkar dengan hebatnya, jika mendengar dari pertengkaran mereka sepertinya penyebab utama dari pertengkaran itu di dasari oleh pihak ketiga. Dengan perasaan yang hancur sambil terus bersimpuh, laki laki itu memohon kepada istrinya agar tidak meninggalkan dirinya. Namun sang istri dengan kejamnya menendang laki laki tersebut dan pergi bersama selingkuhannya.


Tak jauh dari sana seorang anak kecil terlihat meringkuk di sudut ruangan ketika pertengkaran kedua orang tuannya sedang terjadi. Anak kecil itu nampak ketakutan namun tak bisa berbuat apa apa kecuali diam dan tidak menimbulkan suara gaduh.

__ADS_1


"Mama... papa..." ucapnya dengan lirih sambil menahan isak tangisnya agar tidak keluar.


Penglihatan kali ini benar benar terlihat sangat panjang bagi Tazkia, ia mengira penglihatan tersebut hanya berakhir sampai di situ namun ternyata ia kembali di seret dan di bawa pada sebuah penglihatan, di mana anak kecil itu yang terus di siksa setiap harinya oleh sang ayah karena frustasi di tinggal pergi istri tercintanya hanya karena laki laki lain.


Siksaan demi siksaan yang di terima oleh anak kecil itu sungguh bertubi tubi dan berangsur dalam waktu yang cukup lama, hingga puncaknya terjadi tepat di hari itu. Sang ayah yang sedang mabuk tak sengaja melihat anaknya berjalan dengan terseyot seyot akibat siksaan yang di terimanya.


Sang ayah yang kembali teringat dan meradang akan penghianatan sang istri, lantas berjalan dengan cepat dan menarik tubuh anak kecil itu kemudian kembali menyiksanya. Anak kecil itu di pukuli bertubi tubi di bagian pundak, perut dan juga bagian tubuh lainnya hingga meregang nyawa. Sedangkan sang ayah yang bingung karena melihat sang anak meninggal karena ulahnya, lantas langsung mencari cara untuk menyembunyikan tubuh sang anak, tanpa berpikir panjang karena takut ketahuan oleh warga sekitar laki laki tersebut lantas memasukkan dengan paksa tubuh anak kecil tersebut ke dalam kolong sofa. Padahal yang sebenarnya terjadi waktu itu sang anak belum lah sepenuhnya meninggal dan masih bernafas walau sangat lemah.


Air mata menetes begitu saja dari sudut mata anak kecil tersebut sambil menggerakkan mulutnya pelan menyebut mama papanya.


Hhhhhhhhhhh


Kepala Tazkia terasa berdenyut dengan hebat setelah menerima beberapa penglihatan yang datang bertubi tubi tersebut, pandangannya sedikit kabur membuat Tazkia lantas menunduk sambil memegangi kepalanya dengan spontan.


"Lo gak papa Ki?" tanya Aditya yang melihat Tazkia seperti sedang kesakitan saat ini.


"Lima menit Dit... lima menit..." ucap Tazkia dengan lirih meminta Aditya untuk memberinya waktu istirahat sebentar sebelum menjelaskan segalanya.


"Ki... Dit... Sinta udah bangun, makanannya juga udah dateng kita makan yuk... eh lo kenapa Ki? ucap Prasetia dari arah kamar Sinta yang baru sadar ketika melihat Tazkia seperti kurang sehat.


"Gak papa kok, beri gue waktu lima menit aja." ucap Tazkia lagi dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh keduanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2