
"Yang bener aja Dit, ya kali tuh boneka turun dan jalan sendiri." ucap Sinta dengan asal namun malah membuat wajah ketiganya pucat kala teringat satu nama boneka yang terkenal dengan kesadisannya.
"Caki" ucap Tazkia, Prasetia dan juga Aditya secara bersamaan membuat Sinta langsung terdiam kala mendengarnya.
"Jangan aneh aneh deh geis gak lucu tahu!" ucap Sinta kala melihat tatapan aneh ketiganya.
Bukan tanpa sebab Prasetia, Aditya dan juga Tazkia menatap ke arah Sinta. Hanya saja ketiganya melihat boneka tersebut tengah melayang di belakang Sinta sambil tersenyum menyeringai.
"Sin pergi dari sana!" ucap Aditya.
Hahahahahaha
Sinta yang mendengar suara tawa itu lantas berniat untuk kabur, hanya saja mendadak ada sesuatu yang jatuh dan menempel di pundaknya.
"Aaaaaa apa ini?" teriak Sinta yang terkejut dengan sesuatu yang tiba tiba menempel di pundaknya.
Halo!
"Aaaaaa tolong gue..." teriak Sinta lagi.
Boneka itu lantas mulai bermain main dengan Sinta sambil menancapkan tangannya dan menggores pundak Sinta. Prasetia dan Tazkia yang melihat hal itu lantas langsung berlarian ke arah Sinta hendak menolongnya, tetapi Aditya malah berlari sebaliknya membuat Aditya lantas bingung karena hanya dia sendiri yang hendak lari sedangkan teman temannya malah menghampiri boneka itu.
"Ah kenapa mereka selalu menghampiri bahaya sih, harusnya itu lari bukan ke sana!" ucap Aditya dengan kesal. "Ah Sinta" imbuhnya kemudian kala baru teringat dengan Sinta, pada akhirnya mau tidak mau Aditya lantas kembali dan menghampiri teman temannya.
Prasetia dan Tazkia berusaha melepas boneka itu dari pundak Sinta, setelah keduanya berhasil Tazkia lantas langsung melempar boneka itu jauh dari mereka.
"Kamu gak papa Sin?" tanya Prasetia kemudian.
"Gak papa hanya sedikit perih saja." ucap Sinta sambil memegang pundaknya yang tergores oleh boneka tersebut.
"Ayo kita obati" ucap Tazkia kemudian.
"Tidak perlu hanya goresan kecil" ucap Sinta sambil tersenyum menenangkan teman temannya yang terlihat khawatir padanya.
__ADS_1
Srek srek
Suara benda di seret membuat ketiganya dan juga Aditya yang baru sampai menoleh ke arah belakang. Terlihat boneka itu tengah menyeret tongkat bisbol dengan begitu ringannya. Membuat keempatnya lantas di buat melongo karena ukuran boneka tersebut kecil namun mampu menarik tongkat bisbol tersebut, bukankah itu luar biasa?
"Wah kuat banget tuh boneka" ucap Aditya terkesima.
"Bukan saatnya kagum Dit!" ucap Prasetia dengan kesal.
"Lari geis, sekarang!" teriak Tazkia kala melihat boneka tersebut kian mendekat.
Mendengar teriakan Tazkia barusan baik Prasetia, Sinta dan juga Aditya lantas lari berhamburan menjauh dari sana. Tawa cekikikan mulai terdengar menggema diiringi dengan bunyi stik bisbol yang di seret di lantai membuat suasana kian mencekam.
Hahahaha aku tahu kalian bersembunyi, keluarlah aku tidak akan menggigit!
Mendengar suara itu keempatnya lantas terdiam di tempatnya masing masing. Keringat dingin mulai menetes membasahi dahi mereka disertai dengan debaran jantung yang berdetak dengan kencang.
"Ini hanya boneka Ki, masak kita kalah dengan boneka kecil seperti dia!" ucap Aditya dengan nada yang lirih ketika ia bersembunyi bersama Tazkia di balik sofa ruang tengah.
"Jangan gegabah Dit, masalahnya ini boneka bukanlah sembarang boneka." ucap Tazkia memperingati Aditya.
Ucap Boneka itu tiba tiba dengan posisi berada tepat di atas Aditya dan juga Tazkia, sambil mengayunkan tongkatnya ke arah Aditya dan Tazkia.
"Bujung buset! untung gue sering nonton film horor jadi bisa jaga jaga kalau ada adegan begini." ucap Aditya setelah berhasil menghindar dari serangan boneka tersebut.
Baik Aditya dan Tazkia lantas langsung berlarian pergi dari sana karena tempat persembunyian keduanya sudah di ketahui oleh boneka tersebut.
Mau lari kemana hihihi
******
Rumah sakit
Setelah memeriksa pasien Faris sedikit melipir ke kiri berniat untuk menghubungi Tazkia sebentar. Agak lama Faris menunggu hingga pada menit menit terakhir barulah terdengar suara Tazkia di seberang sana.
__ADS_1
"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana.
"Apa sedang terjadi sesuatu Ki? kenapa nada suara mu berbisik?" tanya Faris ketika mendengar gelagat aneh dari suara Tazkia.
"Aku sedang bersembunyi sekarang." ucap Tazkia pelan yang malah membuat Faris semakin bingung di buatnya.
"Bersembunyi dari apa? jangan membuat ku takut Ki." ucap Faris dengan cemas.
"Boneka arwah!" ucap Tazkia, tepat setelah itu mendadak sambungan terputus membuat Faris tambah khawatir.
"Halo Ki... boneka? boneka apa yang kamu maksud? halo?" ucap Faris dengan nada setengah berteriak karena Tazkia tiba tiba mematikan ponselnya.
"Boneka setan!" ucap sebuah suara berat yang lantas membuat Faris langsung menoleh ke arah belakang.
Pasien itu lantas melotot menatap ke atas, kaki dan tangannya memang sengaja di ikat untuk menghindari kejadian kemarin agar tidak terulang kembali. Melihat pasien itu bangun Faris lantas berjalan mendekat ke arahnya sekalian untuk mengecek keadaannya.
"Apakah bapak ada keluhan?" tanya Faris kemudian yang lantas membuat bapak tersebut menatap ke arahnya.
"Itu boneka setan! sejauh apapun kalian pergi kalian yang di tandai akan mati... akan mati.. hahahaha" ucapnya dengan nada setengah berteriak membuat Faris lantas kebingungan apa maksud dari ucapan pria tersebut. "Saya tidak ingin mati... tidak ingin mati...." ucapnya lagi kali ini seperti tengah ketakutan.
"Bapak tenang ya... bapak aman di sini." ucap Faris mencoba menenangkan pria itu sampai kemudian dari arah pintu terdengar suara pintu tertutup, sepertinya baru saja ada orang yang hendak masuk namun urung karena mungkin melihat Faris sedang berada di dalam.
Dengan langkah bergegas, Faris lantas keluar dan mencari tahu siapa orang itu. Faris menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan orang tersebut, sampai kemudian sudut matanya menangkap siluet seseorang sedang berlarian ke arah lorong menuju tempat parkir. Faris yang yakin itu adalah orang yang di bicarakan oleh perawat tempo lalu, lantas langsung mempercepat langkahnya menyusulnya ke arah parkiran.
"Tunggu!" teriak Faris sambil berlari namun wanita itu seakan tak mendengarkan teriakan Faris dan tetap berjalan dengan cepat.
Faris mempercepat langkahnya menyusul wanita tersebut, sampai kemudian ketika jarak keduanya sudah dekat Faris menepuk pundak wanita itu agar menghentikan langkahnya.
"Apa kamu keluarga bapak Agung?" tanya Faris dengan nafas yang terengah engah.
Sedangkan wanita muda itu yang mendapat pertanyaan dari Faris hanya terdiam seakan enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Maaf saya harus pergi." ucapnya sambil hendak melangkah kembali.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" ucap Faris kembali menghentikan langkah kaki wanita itu. "Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda, saya mohon ini penting." ucap Faris dengan nada yang sedikit memohon, sementara wanita itu masih terdiam seakan sedang menimbang haruskah ia pergi atau mendengarkan ucapan dokter tampan di hadapannya ini.
Bersambung